Alin Aun Adyana

yang sedang belajar…

perkenalkan, ini [keluarga] yang berbahagia

with 6 comments

[foto 1] Saya, Almas, mama, ayah (semakin terlihat sangar sekali dengan kaca mata hitamnya), dan Kun. Diambil beberapa bulan sebelum saya kuliah (3 tahun yang lalu). Entah kenapa ini menjadi foto keluarga favorit saya hingga saat ini

Sama seperti kebanyakan orang, keluarga di hati saya berada di dalam ruang tersendiri yang hingga kapanpun tak akan pernah tergantikan. Karena saat ini saya masih lajang a.k.a belum menikah, otomatis keluarga yang saya maksud tidak lain ialah seperti ayah, mama, serta kedua adik saya.

Di akhir minggu ini, adik saya yang merantau ke luar kota untuk studi kuliah hukumnya, memutuskan untuk mampir pulang sebentar ke rumah. Sebenarnya ini menjadi bahan yang baik untuk mem-bully-nya mengingat selama ini selalu saja dia yang berhasil mengata-ngatai/menggoda saya. Pasalnya, baru kira-kira satuĀ  bulan dia merantau, eh dia malah pulang ke rumah. Dia kangen kali, ya? :D

Aniway, karena orang tua sedang sibuk mengurusi berkas-berkas haji, waktu kami bersama hanya dapat dilewatkan ketika malam telah tiba. Oh, ya. Alhamdulillah banget deh, ayah dan mama saya rupanya mendapatkan kloter terakhir jemaah haji, yakni kloter ke-84 dengan jumlah seat total hanya sekitar (kalau gak salah) 444. Dengan kata lain, mereka baru akan berangkat ke tanah suci pada tanggal 30 Oktober 2011 nanti.

Kembali ke cerita keluarga. Waktu kami berlima sangatlah singkat, hanya hari Sabtu dan Minggu karena adik saya harus kembali ke Jawa karena hari senin dia akan kembali berkuliah. Oh, ya. Selama menghabiskan waktu bersama kedua adik laki-laki saya yang unik ini, selama dua hari kami makan siang dengan mie ayam. Di hari sabtu, entah mengapa saya malas sekali masak dan memutuskan untuk beli mie ayam. Lalu hari kedua, karena hari Sabtu makan mie, adik saya tiba-tiba kangen dengan mie ayam langganannya di dekat sekolah SMA nya dulu sehingga akhirnya ia memutuskan untuk rela mampir ke kedai mie itu untuk sekedar melepas kangennya. Hhe,.. Jadilah selama dua hari saya dan adik saya makan mie ayam bareng-bareng.

Hal yang lucu terjadi pada adik saya yang paling kecil. Adik saya yang bernama Kun, yang notabene saat ini sedang kuliah dan liburan, biasanya iseng sekali menggoda adik saya yang paling kecil, si Almas. Biasanya, si Almas itu sering sekali nangis setiap kali digoda sama si Kun. Eh, tiba-tiba, sewaktu si Kun pulang dan godain Almas, dia sama sekali gak nangis, loh! Pasti karena dia kangen banget deh sama Akun sampai-sampai gak bisa nangis meskipun kakanya ngegodain dia. Bukannya digoda sama si Akun, hari ini malah giliran saya yang berhasil ngegodain si Almas, padahal biasanya godaan saya sering dianggap dia garing dan gak menarik perhatian.

Waktu itu saya bilang ke dia, “kangen nih, ye dengan mas Akun. makanya gak marah-marah lagi.” Lalu, si Almas dengan muka malu ternyata pintar juga, “Iya, nih. Aku emang kanngen dengan mas Akun.” Hhe,.. Padahal, si Almas ini orangnya jago sekali mengelak kalau digoda, tetapi ketika mendengar godaan saya, entah mengapa dia gak mengelak. Aduh, kasihan. Pasti si Almas benar-benar kangen dengan kakaknya yang pergi merantau.

[foto 2] Keterangan foto: ayah, almas, mama, danĀ  saya

Foto di atas di ambil selepas lebaran kemarin. Yang mengambil foto adalah adik saya yang paling besar. Kebetulan di lingkungan rumah kami semua orang sudah pada mudik sehingga sulit untuk mengambil gambar berlima. Bahkan, satpam di sekitar rumah pun sibuk berkeliling semuanya :D

[foto 3] Ayah, mama, saya, dan Kun (tapi lebih biasa dipanggil Akun)

Di foto ini, giliran si Almas yang diminta untuk mengambil gambar. Kedua foto diambil dari depan rumah yang belum direnovasi, jadi terlihat berantakan ya ^^

Ayah saya ini, hitam dan terlihat sangar. Tidak heran kalau teman-teman saya banyak juga yang ngeri sewaktu melihat beliau. Padahal, sebenarnya ayah adalah sosok yangvgak ada sangar-sangarnya sama sekali. Hatinya terlalu lembut dan penyayang keluarga yang luar biasa. Sampai-sampai saya selalu berfikir, sosok ayah di mana pun ya memang seperti ayah. Sampai-sampai, ya, ayah menjadi sosok yang paling bersedih hati sewaktu saya tinggal pergi. Untungnya saya gak pernah pergi jauh-jauh, kalau tidak, entah akan sesedih apa beliau nantinya.

Mama sebaliknya, dia orang yang paling tegas seisi rumah. Mama memiliki pribadi yang sangat unik. Di depan saya, mama selalu bisa menjadi orang yang tegar, tetapi di depan adik saya yang namanya Kun, mama kerap terlihat sisi yang berbeda seratus delapan puluh derajat ketika di depannya. Awalnya, saya kira memang seperti itu. Nyatanya akhir-akhir ini, saya melihat kalau dia juga bisa tegar sewaktu berbicara di depan anaknya yang lain (Kun).

Kun ini nama panjangnya Kun Amim Baljun. Dia anak kedua di keluarga kami. Sebagai anak pertama yang usianya tidak jauh berbeda dengan adek kedua, kami kerap sekali berantem ke sana-ke mari. Seperti kucing dan tikus. Dia jahilnya minta ampun. Pernah, saya menyadari kalau adik saya ini sosok yang paling unik di keluarga. Saya menilai kalau di antara teman-teman sekolahnya, adik saya terlihat sangat aneh. Contohnya, di kala teman-temannya bergaya sok cool pada saat perpisahan, dia malah sengaja bergaya norak. Jadilah adik saya ini menjadi anak yang paling berbeda di antara teman-temannya. Aniway, lihat perbandingan tingginya (foto pertama dengan foto ketiga), tingginya saat ini benar-benar menjulang jauh. Sekarang tinggi akun sudah 183 saja. saya jelas kalah-telak.

Lalu yang terakhir adalah adik saya yang paling kecil, namanya Almas Buana Chammad, saya sering memanggilnya dengan pangilan Almas. Masih kelas 3 SD, sosok yang paling kecil di antara keluarga kami. Saking jauh pautan usianya, dia kerap sekali menjadi korban godaan, baik dari Ayah maupun Kun. Akan seperti apa ya ketika dia besar nanti. Rasanya, jika waktunya telah tiba, Almas akan menjadi orang berbadan paling tinggi di rumah. Kebiasaannya minum susu membuatnya terlihat tinggi di antara teman-temannya di sekolah. Bahkan di antara kami, yang notabene adalah keluarganya, tanda-tanda kalau badannya akan sangat tinggi ketika dewasa nanti begitu terlihat dengan jelas. Lalu, ketika saat itu telah tiba, saya akan menjadi anak yang paling pendek di antara kedua adik laki-laki saya.

Written by alinaun

October 2, 2011 at 9:35 pm

Posted in keluarga

6 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. nice family… :)

    Arman

    October 3, 2011 at 12:22 pm

  2. semoga ayah dan mama jadi haji mabrur ya

    monda

    October 4, 2011 at 10:05 pm

  3. selalu nampang di poto ya, ga pernah didaulat jadi tukang potonya gitu?

    TamaGO

    October 5, 2011 at 12:14 pm

  4. Wah, akun udah tinggi banget. :D

    Saya turut mendoakan, semoga ayah-ibu Alin sehat selalu selama haji nanti, dan semoga lancar segala urusan ya. :) Aamiin!

    Asop

    October 5, 2011 at 7:20 pm

  5. keluarga bahagia nih kayanya
    keliatan dari ekspresinya
    hihihi

    @helgaindra

    October 6, 2011 at 8:12 pm


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s