Archive for December 2011
bahagia sepanjang tahun
Akhirnya kita telah tiba di penghujung tahun. Hari ini, tepatnya tanggal 31 Desember, dalam perhitungan kalender masehi, menjadi hari terakhir di tahun masehi 2011. Sudah menjadi ritual tahunan, di akhir tahun, biasanya kita akan terpikir, “wah, dalam satu tahun ini, apa saja ya yang telah saya lakukan?” Hmm.. Mari kita lihat, meskipun mengevaluasi diri tidak harus selalu dan hanya dilakukan di akhir tahun, setidaknya ritualitas ini telah ampuh untuk membuat manusia setidaknya sempat satu kali berfikir untuk mengevaluasi diri.
Saham tahunan akan ditutup. Penutupan saham di akhir tahun biasanya akan menjadi tolak ukur untuk penutupan saham di tahun mendatang. Juga tentang orang yang berbondong-bondong menemui juru ramal untuk melihat peluang di tahun depan, tentang pendidikan, karir dan cinta, peluang dan bahaya, dan semuanya! Atau menapak kembali kejadian-kejadian penting yang terjadi sepanjang tahun. Yang jelas, euforia di akhir dan awal tahun telah menciptakan suatu kultur tersendiri di masyarakat. Fyuh, bahkan oplah surat kabar rasanya tk pernah padam jika di setiap awal dan akhir tahun, berita yang di angkat ialah tentang ‘perayaan tahun baru’. Padahal, toh perayaan tahun baru isinya paling-paling hanya berkisar tentang pesta kembang api yang meriah, atau jika ingin lebih humanis dan melankolis, isinya bahkan tak jarang bercerita tentang kehidupan para pedagang terompet dan kaki lima lain di tengah hiruk pikuk tahun baruan di Jakarta.
Mengapa tak pernah absen untuk diangkat? Well, seperti yang sebelumnya telah saya katakan, perayaan tahun baru telah membentuk sebuah kultur di masyarakat. Ada budaya yang tercermin dari sikap dan tindakan masyarakat ketika menghadapi tahun baru. Membahas tentang kultur atau budaya memang tidak akan pernah lekang dimakan zaman. Plus, budaya yang telah tercermin di dalam ajang tahun baruan adalah budaya mengevaluasi diri, dengan harapan, evaluasi tersebut pada akhirnya dapat dijadikan sebuah patokan untuk menemukan jalan yang lebih baik di tahun mendatang. Sudah terlihat bukan, alasan mengapa media tak pernah lepas meninggalkan isu tahun baru.
Tetapi, yang menjadi persoalan ialah, sudah 2000an tahun kalender masehi berputar, namun masalah kian masalah telah muncul. Masalah generasi lalu, kembali keluar pada masa sekarang. Saya berfikir, bukan hanya generasi, saya pun sebenarnya menjadi salah satu orang tang sulit terlepas dari kesalahan-kesalahan yang berulang. Padahal, setiap tahun evaluasi ditetapkan dan resolusi pun dibuat. Saya yang sekarang pun ternyata masih melakukan kesalahan yang dahulu telah saya lakukan di tahun 2010, 2009, bahkan tahun-tahun sebelumnya yang jauh lebih tua. Apa guna evaluasi?
Sebagai seorang manusia yang disebut makhluk yang paling mulia, kok ya kesalahan demi kesalahan masih sering sekali terulang. Manusia selalu membuat kesalahan. Sehingga, istilah ‘manusia memang tempatnya salah’ seakan-akan menjadi sebuah apologi atau pembenaran terhadap kaum yang juga hakikatnya tak ingin pernah dipersalahkan. Sebenarnya, saya hanya resah. Jika pengalaman di lebih dari tiga tahun lalu saja masih terus terulang hingga saat ini, hampir dapat diramalkan jika di tahun depan pun saya masih akan melakukan kesalahan yang juga saya lakukan di tahun ini, tidak peduli dengan fatalitas kesalahannya.
Resolusi bahagia
Tetapi teman-teman, tidak usah takut. Lantas karena takut tetap melakukan kesalahan yang sama kita akhirnya tidak peduli dan segan untuk menciptakan sebuah resolusi. Justru, ketakutan itu akan menciptakan perisai dalam diri kita untuk kreatif menemukan solusi yang terbaik bagi diri kita.
Pada tahun ini, saya memang masih melakukan kesalahan yang juga saya lakukan di tahun-tahun yang lalu. Tetapi, saya tidak ingin keadaan ini terus berlanjut hingga saya renta nanti. Seringkali kekhawatiran membuat kita kehilangan banyak sekali hal yang berharga. Seperti pesan moral yang pernah saya dengar, “Kekhawatiran tidak akan menambah sejengkal pun usia kita. Tidak akan pernah membantu kita menunda lebih lama hal yang akan segera kita hadapi” Banyak orang hidup dalam kekhawatiran dan kecemasan mengenai apa yang belum terjadi. Jika ini terus terjadi, bagaimana kita bisa menikmati hidup? Bagaimana kita bisa menikmati tahun-tahun ke depan?
Euforia tahun baru ini, upayakan ditutup dengan perasaan bahagia untuk menyambut hari-hari ke depan. Yang terpenting, kita telah menyiapkan diri kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik dibandingkan dengan pribadi di tahun sebelumnya. Saya sangat penasaran dengan masa depan saya. Akan seperti apakah saya tahun depan? Hal apa yang akan segera saya temui? Apakah saya akan dapat menjalankan kehidupan dengan baik? Tentu saja saya akan berusaha keras demikian. Atau, apakah saya akan menemukan kesulitan yang bahkan justru dapat berbalik menjatuhkan saya? Oh, jika pun hal yang jauh lebih buruk dari itu hari suatu harus terjadi pada saya, saya akan berusaha untuk selalu menerimanya dan berusaha keras tetap pada resolusi awal yang sebelumnya telah saya tetapkan. Menjadi manusia yang lebih baik, dengan beberapa spesifikasi sederhana yang saya rahasiakan pada Anda!
Jikapun saya tidak dapat menjadi orang yang bahagia sepanjang tahun, yang sudah pasti, saya selalu menutup dan mengawali tahun dengan senyum dan bahagia. Tidak peduli dengan segala masalah yang melingkupi kita sepanjang tahun ini. Atau jika merasa belum puas, senyuman di akhir tahun dapat menjadi sebuah resolusi untuk menjadi bahagia di tahun ke depan. Ada harapan yang tercermin di dalam senyuman kita
Selamat tahun baru dan tetaplah bahagia!
semoga Anda semua diberi keadaan terbaik untuk menyambut masa depan yang penuh dengan misteri….
satu tahun di Polandia dalam 40 detik
Saya mendapatkan video ini dari teman saya yang berasal dari Polandia. Pemandangan yang benar-benar sangat Indah. Ternyata, meskipun ada musim dingin, tidak ada salju yang turun di sana. Aneh sekali, bukan! Teman saya bahkan mengaku jika ia sangat ingin melihat salju di negaranya. Waw, aneh sekali.
Lagi, budaya unik yang saya temukan ialah, ketika seseorang menanyakan apakabar, umumnya kita akan bilang, “alhamdulillah ya, baik. atau, baik,..” Tetapi, tidak seperti itu kultur di Polandia. Bahkan katanya, ketika seseorang menanyakan ‘apa kabar?’ umumnya orang-orang akan berbicara tentang masalah dan segala sesuatu yang salah dari mereka. Bagi saya, itu sangat unik. Saya bilang padanya jika pada awalnya saya berfikir kalau orang yang selalu mengeluh tidak akan pernah berhasil, tetapi saya melihat Polandia sebagai salah satu negara maju yang sejahtera.
Thanks Szczepan for this very amazing video and of course, everything you show me about Poland cultures and its people..
selamat ulang tahun, Ayah :)
dua puluh tahun dari sekarang, kau akan menyesal atas apa-apa yang tidak pernah kau kerjakan dibanding dengan apa-apa yang kau kerjakan~Tere-Liye
Dear Ayah,
Tentunya engkau tahu, hari ini Ayah sedang berulang tahun. Saya lahir pada tahun ketika Ayah menginjakkan usia 30 tahun. Saat ini, tahun demi tahun telah berlalu. Usia Ayah telah genap 50 tahun. Seiring dengan bertambah usia, usia saya pun kini telah menginjak 20 tahun. Selama 20 tahun hidup bersama mu, entah apa yang telah saya berikan. Yang jelas, rasanya 10 jari saya masih dapat menampung seluruh hal berguna yang saya sumbangkan hanya untukmu.
Kini, Ayah telah memasuki usia setengah abad. Ayah yang kuat, yang selama ini telah menjadi tumpuan hidup utama di keluarga, tidak akan pernah kembali menjadi sekuat kala masih muda dulu. Saya masih ingat, dahulu ketika saya masih balita, saya sering dibopong, digendong, dan diangkat di atas pundakmu. Ingatan yang paling melekat ialah ketika kulihat dirimu sedang menyusun batu-batu di samping rumah papan di tanah Papua. Katamu, “Ini untuk kamar Alin. Sekarang, batu-batunya dulu ya yang disusun (sebagai fondasi).” <emang kamar di rumah papan itu tak pernah sampai untuk dibangun, namun saat ini saya punya kamar sendiri yang jelas jauh lebih bagus, bahkan jika kamar di rumah papan itu akhirnya telah jadi dibangun.
Doa dan terima kasih serta syukur saya panjatkan untukmu, pada Tuhanku.
Ayah saya tidak kurus. Badannya gemuk serta makannya lahap. Dia juga tidak merokok. Sampai saat ini saya selalu bersyukur kepada-Mu karena ayah saya masih diberi karunia sehat oleh Mu. Tetapi, beberapa waktu ini saya sering dihantui oleh masa-masa di depan yang tengah menunggu untuk dipijak. Tanpa saya sadari, usia dua puluh tahun pertama saya ternyata telah menyumbang begitu banyak hal berharga di dalam hidup. Pada dua puluh tahun ke depan usia saya 40 tahun, sementara ayah saya akan genap berusia 70 tahun.
Ayah saya, bersama dengan ibu, saat ini telah melaksanakan haji. Terima kasih karena telah memanggil mereka untuk hadir di tanah suciMu tahun ini. Saya tidak akan pernah melupakan masa-masa ketika dahulu saya masih duduk di bangku SMP, ada iklan sebuah produk susu kental manis yang jika labelnya dikumpulkan sejumlah tertentu akan berhadiah pergi haji. Terinspirasi dari seorang teman, saya ikut-ikut mengumpulkan label susu kental manis itu. Entah bagaimana nasibnya, kelanjutannya saya sudah lupa.
Pertama kali menulis tentang Ayah di blog ini ialah tepat di ulang tahunnya yang ke 48. Tulisan itu muncul ketika saya masih bodoh dan lugu. Karena kebodohan dan keluguan saya masih terlihat pada dua tahun yang lalu, tidak aneh jika saat ini pun bekas-bekas itu masih tertinggal pada diri saya.
Selamat ulang tahun, Ayah.
Maaf, harapan saya padamu kali ini akan ananda sembunyikan karena pastinya tulisan ini akan dibaca olehmu, Ayah. Janjiku, dua puluh tahun ke depan saya ingin melihatmu tersenyum bersama Ibu, bangga dengan kehidupanmu yang bahagia. Semoga engkau juga tetap diberikan kesehatan dan kebahagiaan di akhirat sembari ditemani oleh pendamping hidupmu, anak-anakmu, hingga cucu-cucumu kelak, amiin
Salam Hangat,
Alin, anak nakalmu yang sedang tumbuh menjadi dewasa

dunia belum berakhir =P
Ceritanya saya sedang dikejar-kejar oleh deadline yang akan menentukan masa saya di kemudian hari. Ceritanya, kurang dari 3 minggu ini saya sudah harus sidang. Ceritanya, data sudah ada ditangan dan tinggal diolah. Ceritanya, ternyata saya mengambil data yang nyaris mustahil diolah kecuali memang oleh mereka yang punya basik statistika intermediet yang cukup. Ceritanya, dosen pembimbing saya, sejak dahulu, memang susah sekali ditemui. Korespondensi melalui e-mail rasanya gak sopan. Kasihan harus baca tulisan kecil-kecil di komputer. Ceritanya, dosen belum menyutujui saya untuk lulus lebih cepat. Ceritanya, selain skripsi saya juga sedang deadline hibah. Ceritanya, laporan magang tahap tiga pun sekarang sedang berada dalam tahap pengerjaan. Ceritanya, kuliah saya mulai asik karena sudah berada di tahap akhir dan sebentar lagi akan UAS. Ceritanya, saya takut sekali ini semua tidak terkejar. Ceritanya, saya ingin segera meninggalkan mereka tetapi perasaan kasihan tak kunjung hilang. Lalu kalau ceritanya seperti itu, apa saya sempat menyelesaikan semuanya tepat waktu?
Oke. Ceritanya hal-hal di atas adalah pikiran-pikiran yang selalu mengganggu tidur saya akhir-akhir ini. Ternyata hidup menjadi mahasiswa tingkat akhir semenantang ini ya. Terkadang, jika sedang pusing, saya senang sekali membanding-bandingkan keadaan saya dengan orang lain untuk mencari dukungan pembenaran. Seperti tidak mau mengakui ada kealfaan di dalam diri saya. Syukurlah, saya punya beberapa orang teman yang ternyata sangat memahami keadaan saya. Bajkan, ada seorang teman yang akhir-akhir ini menjadi dekat dengan saya karena sama-sama merasa memiliki nasib yang sama.
Dalam pengerjaan skripsi ini, sejujurnya, akhirnya saya menemukan kendala dalam pengolahan data. Karena latar belakang saya Epidemiologi, tidak aneh jika isi skripsi saya tidak lepas dari pengolahan data yang, saya tidak mau mengakuinya, tetapi rumit sekali.
Baru-baru ini, saya mendengar pengakuan teman saya yang memiliki nasib hampir sama dengan saya. Kala itu, ia ditegur oleh temannya yang sudah menjadi alumni. Kata-kata alumni itu tanpa saya sadari membuat saya jadi ikutan ketar-ketir.
Katanya:
lo berani banget pake data itu,ngambil mandat3 aja kaga
Mungkin ini, ya, yang kebanyakan orang sering bilang “tutup mata dan telinga, gak usah dengar kata orang lain.” Oh, baiklah, tiba-tiba saya kembali menjadi orang yang senang mencari-cari alasan. Inilah yang dialami mahasiswi galau seperti saya
Saya seperti sedang dijungkir-balikkan oleh dunia. Kesimpulannya, ternyata saya masih anak-anak. Saya berjanji akan berusaha keras mengerjakan apaun yang bisa saya lakukan sebaik mungkin.
daftar berbagai hal yang senang saya lakukan
Ada banyak sekali hal yang saya sukai dan akhir-akhir ini sukses membuat saya galau untuk memilih. Berikut adalah beberapa hal yang paling saya sukai akhir-akhir ini berserta detail kasar yang saya butuhkan untuk menjadi seorang yang ‘pro’ di dalamnya.
Semua hal yang saya sukai ini tidak muncul gara-gara ikut-ikutan temen. Saya berani menjamin kalau semua hal yang saya ingin lakukan di bawah ini adalah hal yang memang sejak dulu sekali ingin saya lakukan. Ada lebih banyak hal yang sangat ingin saya lakukan, namun dengan sendirinya hal-hal tersebut tersisih seiring dengan keterbatasan-keterbatasan yang saya miliki. Selanjutnya, saya ingin sekali lebih memperjelas keterbatasan yang saya miliki hingga akhirnya dapat memilih di antara enam hal paling membuat saya sulit untuk fokus selama thun 2011 ini.
1. menulis (fiksi dan ilmiah)
- banyak membaca, (buku pinjam dan donlot)
- berlatih menulis
- alat tidak neko-neko
- masih bisa belajar otodidak
- (-) kurang disiplin
- (-) kurang usaha
- (-) diskusi dengan yag lebih berkompeten, tetapi setiap diskusi bingung mau nanya apa
- (+) bermanfaat
- (+) relatif murah
- (+) goal jelas
- (+) didukung penuh
- (+) pengajar tersedia
- kesimpulan: pantas dijadikan prioritas
2. menggambar (termasuk pula mendesain)
- membaca referensi
- berlatih
- tetapi masih bisa belajar otodidak
- (+) bermanfaat
- (+) relatif murah
- (+) belajar langsung dari orang yang berpengalaman dan lebih pro (pengajar tersedia)
- (+) didukung
- (+) imajinatif
- (-) alat yang dibutuhkan cukup ribet
- (-) kurang teknik
- (-) goal belum jelas, kalau bisa gambar terus mau apa?
- (-) minat tidak beriring dengan lini ilmu sehingga hampir tidak sempat menggambar lagi
- kesimpulan: dikembangkan sebagai hobi sampingan saja
3. fotografi
- membaca referensi (sampai sekarang masih gak tau, kalau mau cari referensi ke mana)
- latihan
- bertanya pada yang lebih berkompeten dan ada orang yang bersedia mengajar
- belum mampu belajar otodidak
- (+) bermanfaat
- (+) punya kamera
- (+) didukung
- (+) goal jelas
- (+) orang yang bisa diajak latihan ada di mana-mana
- (-) agak mahal
- (-) punya kamera (doang) lainnya tidak punya
- kesimpulan: cukup dijadikan hobi yang mendukung prioritas utama
4. olah raga outdoor/jalan-jalan
- olah raga (sampai saat ini mulai tidak rutin karena sibuk sendiri)
- butuh orang asik (tersedia)
- sangat mahal
- (+) bermanfaat
- (-) tidak didukung
- kesimpulan: belum saatnya, jalani sekedarnya atau jika perlu lupakan sementara waktu.
5. kerja sosial kerjabakti
- harus update info
- kadang butuh duit, tetapi perasaannya beda. ini kegiatan sosial, bukan senang-senang jadi ada maknanya.
- agak mahal
- (+) bermanfaat
- (+) masih bisa disumbangkan pada ranah lain yang lebih murah dan simpel
- (+) didukung
- (+) goal jelas
- (+) banyak akses
- (-) kebanyakan senang-senangnya
- (-) capek mobilisasi
- (-) butuh kemampuan softskills karena jelas-jelas deal dengan orang banyak
- kesimpulan: harus jadi dijadikan prioritas
6. mengoleksi postcard dan perangko (akhir-akhir ini)
- butuh kartu pos dan perangko
- (-) agak mahal
- (-) lebih banyak senang-senang
- (+) bermanfaat
- (+) didukung
- (+) ada motivasi mulia di belakangnya, yaitu untuk kembali meramaikan dunia surat menyurat di Indonesia! *lebay
- kesimpulan: belum saatnya, jalani sekedarnya atau jika perlu lupakan sementara waktu.
Semakin ke bawah, detailnya semakin sedikit. Bisa jadi it semua secara tidak sadar telah mengimplementasikan apa yang selama ini saya bingungkan. Padahal, sebelumnya saya sama sekali tidak berniat menciptakan prioritas di antara 5 hal yang paling saya senangi. Tentu saja, ini masih belum lengkap dan saya butuh mengenalinya lebih dalam lagi untuk segera menentukan hal mana yang paling saya senangi untuk dilakukan. Dengan menuliskan semua ini, pelan-pelan saya jadi mulai menilai mana hal yang paling saya pahami.
random, impossible to choose them all
Okay. Living my new life is a little bit messy. I do not know the reason exactly, but this is absolutely not me! Things look fail, and those apparently come from meh. So many things I want to do. I am curious about many things. Unfortunately, it made me a person who can not focus. I need focus. I have to choose one among the many. Unfortunately, I am confused to choose which one is the best. Everything is too heavy to be abandoned. If this continues, I like a child who does not know the way where to go.
I knew I wanted to be where and which eliminate, but I am very hard to leave. Everything seemed to be calling to me with a pleading face, ”please, do not leave me. I’m a friend of allegiance, remember? Please, Do not leave me!”
And time goes on. In the end I just spent the time to think. Without doing anything. Then finally the time was up. I became a failed. Then why? Why did I become a man that is so hard to choose. it is still better if the failure is only happening to me. However, what if this also affects other people. What if they joined in failure because of my slowness. There is only an answer, I have to choose. However, any choice will still exist that complicate other. I want to select them all. why I am curious about many things and difficult to control this curiosity T______T
I knew it is impossible to choose them all. I hate choices. I hate the limitations. I hate myself who still hold the curious. Even so more than those, this slowness complicates not only me, but also others.
Salju akhirnya datang!
Sebenarnya, sejak beberapa hari yang lalu, saya sudah penasaran, kenapa salju kok ndak turun-turun. Biasanya, sekitar November akhir-Januari Awal wordpress menyediakan extras untuk mengaktifkan salju-saljuan. Lalu pagi ini, akhirnya saya menemukan salju yang trun di blog saya, yay!
Terkadang saya berfikir, asik sekali ya, ada salju. Sebagai pencinta hujan, saya terlihat begitu egois. Orang-orang sering mengidentikan hujan dengan perasaan. Ketika seseorang tengah merasa mendung di hatinya, tidak jarang mereka pun mengaitkannya dengan keadaan alam di sekitar mereka.
“Ah, ternyata hari ini mendung. Persis sekali seperti apa yag saat ini tngah saya rasakan.” atau, “Ah, kenapa cuacanya mendung, ya? Padahal saya sedang bahagia?”
Well, barangkali memang tidak semua orang sering mengaitkan suasana hati mereka denga alam, tetapi bukankah tidak jarang kita menemukan perumpamaan-perumpamaan seperti itu di dunia nyata?
Sebagai seorang manusia, saya pun sebenarnya tidak pernah lupa disinggahi oleh berbagai emosi yang bahkan tidak sedikit dari sekian emosi tersebut yang menantng jiwa. Mulai dari perasaan senang, sedih, haru, kesal, hingga benci. Jika ada beberapa bagian dari perasaan tersebut yang terkesan negatf, saya tidak akan mengelak. Sehingga saya pun sering mendengar kata-kata seseorang yang berucap jika kita ingin merasakan sebuah kebahagiaan, maka kita perlu juga merasakan sebuah penderitaan karena manusia tak akan pernah mensyukuri kebahagiaan jika tak pernah mengenal penderitaan.
Nah, saya pun ternyata masuk ke dalam bagian orang-orang yang cukup sering membanding-bandingkan suasana hati dengan keadaan alam yang ada di sekitar saya. Beberapa minggu ini, di daerah saya sering turun hujan yang bahkan tidak jarang cukup lebat. FYI, sebenarnya suasana alam itu benar-benar sesuai dengan apa yang selama beberapa minggu ini saya rasakan. Puncaknya ialah kemarin, yakni tpat ketika hujan yang sangat lebat jatuh mengguyuri kepala saya (untungnya saya bawa payung, jadi gak jadi mengguyut kepala, tetapi mengguyur payung yang menutupi kepala saya).
Karena itulah, saya begitu menanti-nantikan salju untuk hadir di blog saya. Tentunya sambil diam-diam berandai-andai, perasaan seperti apa yang akan saya umpamakan dengan kehadiran salju. Sebenarnya, ini sudah saya pikirkan semenjak lama. Salju yang putih dan dingin, saya ingin sekali menjadi seseorang yang dapat menjalani hidup dengan kepala yang selalu dingin dan tenang. Putih yang perlambang suci *standar banget, sih* segalanya dilakukan dengan atas dasar kemanusiaan.
Lalu akhirnya salju itu pun ahirnya datang. Tepat di saat saya sedang merasa mendung dan petir menggelegar di dalam hati saya. Semoga kehadiran salju dapat ikut mewarnai keadaan hati saya yang beberapa waktu lalu sempat berwarna kelabu gelap sehingga wajar jika akhirnya masih bersisa bekas-bekasnya.
Tetapi, tetu saja saya yakin setiap orang memiliki interpretasi berbeda tentang salju. Jika bagi saya makna salju adalah dingin dan putih (seperti yang sebelumnya telah saya ceritakan), bagi kalian tentunya salju memiliki makna yang sama sekali berbeda