selamat ulang tahun, Ayah :)
dua puluh tahun dari sekarang, kau akan menyesal atas apa-apa yang tidak pernah kau kerjakan dibanding dengan apa-apa yang kau kerjakan~Tere-Liye
Dear Ayah,
Tentunya engkau tahu, hari ini Ayah sedang berulang tahun. Saya lahir pada tahun ketika Ayah menginjakkan usia 30 tahun. Saat ini, tahun demi tahun telah berlalu. Usia Ayah telah genap 50 tahun. Seiring dengan bertambah usia, usia saya pun kini telah menginjak 20 tahun. Selama 20 tahun hidup bersama mu, entah apa yang telah saya berikan. Yang jelas, rasanya 10 jari saya masih dapat menampung seluruh hal berguna yang saya sumbangkan hanya untukmu.
Kini, Ayah telah memasuki usia setengah abad. Ayah yang kuat, yang selama ini telah menjadi tumpuan hidup utama di keluarga, tidak akan pernah kembali menjadi sekuat kala masih muda dulu. Saya masih ingat, dahulu ketika saya masih balita, saya sering dibopong, digendong, dan diangkat di atas pundakmu. Ingatan yang paling melekat ialah ketika kulihat dirimu sedang menyusun batu-batu di samping rumah papan di tanah Papua. Katamu, “Ini untuk kamar Alin. Sekarang, batu-batunya dulu ya yang disusun (sebagai fondasi).” <emang kamar di rumah papan itu tak pernah sampai untuk dibangun, namun saat ini saya punya kamar sendiri yang jelas jauh lebih bagus, bahkan jika kamar di rumah papan itu akhirnya telah jadi dibangun.
Doa dan terima kasih serta syukur saya panjatkan untukmu, pada Tuhanku.
Ayah saya tidak kurus. Badannya gemuk serta makannya lahap. Dia juga tidak merokok. Sampai saat ini saya selalu bersyukur kepada-Mu karena ayah saya masih diberi karunia sehat oleh Mu. Tetapi, beberapa waktu ini saya sering dihantui oleh masa-masa di depan yang tengah menunggu untuk dipijak. Tanpa saya sadari, usia dua puluh tahun pertama saya ternyata telah menyumbang begitu banyak hal berharga di dalam hidup. Pada dua puluh tahun ke depan usia saya 40 tahun, sementara ayah saya akan genap berusia 70 tahun.
Ayah saya, bersama dengan ibu, saat ini telah melaksanakan haji. Terima kasih karena telah memanggil mereka untuk hadir di tanah suciMu tahun ini. Saya tidak akan pernah melupakan masa-masa ketika dahulu saya masih duduk di bangku SMP, ada iklan sebuah produk susu kental manis yang jika labelnya dikumpulkan sejumlah tertentu akan berhadiah pergi haji. Terinspirasi dari seorang teman, saya ikut-ikut mengumpulkan label susu kental manis itu. Entah bagaimana nasibnya, kelanjutannya saya sudah lupa.
Pertama kali menulis tentang Ayah di blog ini ialah tepat di ulang tahunnya yang ke 48. Tulisan itu muncul ketika saya masih bodoh dan lugu. Karena kebodohan dan keluguan saya masih terlihat pada dua tahun yang lalu, tidak aneh jika saat ini pun bekas-bekas itu masih tertinggal pada diri saya.
Selamat ulang tahun, Ayah.
Maaf, harapan saya padamu kali ini akan ananda sembunyikan karena pastinya tulisan ini akan dibaca olehmu, Ayah. Janjiku, dua puluh tahun ke depan saya ingin melihatmu tersenyum bersama Ibu, bangga dengan kehidupanmu yang bahagia. Semoga engkau juga tetap diberikan kesehatan dan kebahagiaan di akhirat sembari ditemani oleh pendamping hidupmu, anak-anakmu, hingga cucu-cucumu kelak, amiin
Salam Hangat,
Alin, anak nakalmu yang sedang tumbuh menjadi dewasa

Ayah saya lebih tua dong ya…
Asop
December 27, 2011 at 1:20 pm
iya, ya
alinaun
January 2, 2012 at 5:44 am