Aku baru saja merasa diriku tak enak hati karena tidak menyukai temanku sendiri. Apalagi, temanku adalah orang yang sangat baik, ramah, pintar, dan rajin beribadah. Jika mengingatnya, aku pantas untuk malu. Untungnya, ketika aku tiba-tiba kembali termenung sambil berdoa, aku ingat kembali dengan temanku nun jauh di sana. Kami bukan teman karib, namun dengan sedikit kepo positif *membenarkan diri*, aku pun tulus mengaguminya. Ugh, sebenarnya aku sudah terpesona olehnya dan saat ini menjadi semakin kagum. Tenanglah, dia seorang perempuan dan dalam hal ini aku yakin masih menjadi orang yang lurus.
Memang menyenangkan jika kita dibutuhkan dan menyakitkan jika mengetahui kenyataannya kita tidak dibutuhkan. Kesalahan memang ada di aku. Seandainya saat itu aku tidak diam dan berbicara sesuai keinginan hati, pasti aku tidak akan merakan hal yang saat ini kurasakan. Sebenarnya, saat ini pun aku memilih untuk diam dan tidak mengatakannya pada mereka sedikitpun kesedihanku. Jadi kalau aku tidak ingin terus merasa seperti ini, sebenarnya aku cukup bilang kepada mereka kalau aku merasa tidak pernah dianggap dan masalah pun akan selesai. Seperti yang sudah kukatakan, mereka adalah orang yang baik. Mendengar protesku, pasti mereka akan memikirkannya.
Berkali-kali aku sudah berusaha memikirkan bagaimana caranya supaya aku dapat mengatakannya dengan sopan dan ramah, tetapi jalannya belum juga kutemukan. Di luar, sebenarnya aku adalah orang yang cukup impulsif yang cenderung introvert. Sedikit kejutan dapat membuat ekspresiku berceceran di mana-mana. Tapi, jika perkaranya adalah tentang mereka, aku sangat jago menahan perasaanku yang sebenarnya. Manis sekali aku menyembunyikan kepahitanku pada mereka. Ya ampun, tanpa aku sadari aku sempat menjadi manusia yang munafik.
Aku akhirnya memutuskan akan berbicara pada mereka. Tentu saja dengan baik-baik. Akan kutanyakan alasan mereka melakukan hal yang membuatku merasa sedih. Aku yakin jika hal baik akan datang tepat setelah aku berbicara pada mereka. Kukira ini adalah kesalahpahaman yang berujung pada rasa cemburu, sekarang aku yakin!
Untukmu, teman yang tanpa kau sadari sebenarnya telah mengingatkanku, terima kasih banyak ^^ Terima kasih karena telah membuatku yang hampir merasa capek, baik fisik maupun psikis, dapat kembali berfikir dengan jernih. Terima kasih Tuhan karena telah mengingatkanku melaluinya. Terima kasih karena telah mengenalkanku padanya.
Recent Comments