Alin Aun Adyana

yang sedang belajar…

Archive for February 2012

merasa tegang, takut, tapi semangat

with 6 comments

Besok aku akan berangkat naik gunung lagi. Sudah lama sekali tidak naik gunung, rasanya badanku sudah lupa bagaimana caranya. Ini seperti pertama kalinya aku naik gunung. Selain itu, aku juga sama sekali tidak bisa mengharapkan bantuan orang lain. Di dalam tim hanya ada lima orang termasuk aku. Saat ini, satu orang yang pintar navigasi terancam tidak ikut. Tinggal empat orang :’) aduh aduh, deg-degan. Semoga lancar. Ini perjalanan pelantikan saya untuk menjadi bagian dari Mapala UI. Jadi tahu, lah, di mana poin tegangnya.

Ohya, maaf ya, aku jarang blogwalking karena ada urusan ini. Kalau urusan pelantikan telah selesai, aku akan menebusnya dengan main-main ke blog kalian. Terima kasih banyak tetap rajin datang ke sini. Kalian, yang sering membaca tulisan-tulisan di sini, tentulah tahu apa saja yang sering saya tulis ya. Kebanyakan tulisanku adalah curhatan yang mudah terbaca, yang tidak pernah kubicarakan, tetapi diceritakan. Sebenarnya meskipun pendiam, aku butuh juga sedikit orang-orang yang memahamiku dari jauh, selain orang-orang di dunia nyata, tentunya. Artinya, kalian yang sudah membaca sebenarnya telah sedikit banyak memahamiku dan aku merasa senang. Karena pada dasarnya semua orang membutuhkan cermin untuk memantulkan seperti apa dirinya terlihat oleh orang lain.

Virtual perception. Karena bisa jadi aku yang berada di dunia nyata tidak sesuai dengan apa yang Anda temukan mengenai diriku melalui tulisan-tulisanku. Mungkin juga justru sebaliknya, aku yang sebenarnya adalah aku yang ada di dalam tulisan-tulisanku. Atau yang lebih mengejutkan, jangan-jangan aku sendiri yang telah tertipu oleh persepsi-persepsi virtualku sendiri :D

Written by alinaun

February 27, 2012 at 5:31 pm

Posted in aku di siang ini

jadi mudah terinspirasi

with 7 comments

aku, belakangan jadi mudah terinspirasi dengan hal-hal yang terjadi di dalam hidupku. Tentang diriku, hubunganku dengan orang lain, kehidupanku. Semua itu mempengaruhi diriku banyak sekali ketika menulis. Karena pada dasarnya, ternyata inspirasi yang kudapat baru bisa kucerna jika sudah kualami. Selanjutnya, sedikit demi sedikit kutambah ini itu untuk menjadi bumbu.

pada dasarnya, saya kira semua orang pun seperti itu. antara pengalaman dan kemampuan menambah bumbu, kalau kubilang, karena tidak tahu istilah yang tepat. jadi kalau ingin memperkuat cerita, ya berarti antara memperbanyak pengalaman dan ide. lebih gamblangnya, semakin memperbanyak pengalaman dan bacaan.

aku harus menuntaskan ini semua! Harus!! karena sebenarnya sudah terlalu lama aku tidak menyelesaikannya, terhambat ini itu. sekarang, ketika tidak ada lagi hal yang terlalu banyak kukerjakan, seharusnya ini segera selesai. ayo, ayo, ayo. selesaikan aliin,…. kamu pasti bisa!! umurmu sudah semakin tua dan belum ada karya yang selama ini telah menjadi resulusimu di usiamu saat ini. jadi, ayolah. tak ada waktu lagi.

Written by alinaun

February 26, 2012 at 7:44 am

Posted in aku di pagi ini

hingga akhirnya menyelesaikan kuliah, ya..

with 5 comments

Aku ingat sekali, dulu ketika memutuskan untuk mau kuliah di mana, jurusan yang paling aku inginkan ialah seni. Sejujurnya, karena dulu aku merasa diremehkan oleh salah seorang guru di sekolah, aku berjuang keras untuk kuliah di universitas ternama. Melebihi anaknya yang selalu dia puji setiap kali di depanku. Pada waktu itu, sebenarnya aku benar-benar sangat sedih dan tersakiti-akhirnya mengaku. Membuat aku stres dan harus belajar keras, padahal, belajar sama sekali buka hobiku. Sewaktu memilih jurusan, pun sebenarnya tidak ada satu pun yang kuminati.Yang kusuka saat itu hanya jurusan seni, tetapi karena merasa sekolah seni itu mahal, akhirnya aku memutuskan untuk masuk ke universitas negeri, dengan catatan, harus universitas negeri yang jauh lebih bagus dari anak guru saya.

Setelah belajar dan mendapatkan nilai passing grade yang selalu meningkat hingga yakin dengan pilihan arsitektur, tiba saatnya aku untuk menempuh UMB. Pilihanku waktu itu UI, ya. Tapi, sepertinya memang tidak jodoh. Setiap kali aku menemui hari-hari yang penting, pasti selalu merasa tegang dan stres. Akibatnya, UMB aku tidak diterima. Oknum yang meremehkanku semakin punya alasan untuk menyudutkanku.  Belajar dari pengalaman pertama, masalah utama ada pada ketidaksiapan mentalku mengerjakan ujian. Yang kedua adalah kenyataan kalau sebenarnya aku tidak ingin masuk arsitektur. Walaupun suka, saat itu aku sadar kalau yang kuingin lakukan bukan sekedar pencipta seni bagi orang-orang tertentu. Menjadi seorang arsitek tidak mungkin dapat memuaskan keinginanku yang sebenarnya. Kebiasaan. Sempat berfikir untuk masuk jurusan sosial karena saya yakin dengan kemampuanku saat itu, jurusan favorit pasti bisa berhasil kudapat. Tetapi, lagi-lagi karena bukan jodohnya, sewaktu diminta memilih aku cenderung jauh lebih tertarik dengan Kesehatan Masyarakat. Sempat bingung, rasanya jurusannya asing. Orang tua pun sempat geleng-geleng kepala kok pilihannya itu. Dikira cari ‘aman’ sama kebanyakan teman. Bisa jadi, yang penting masuk universitas yang bagus dan mengalahkan si anak guru itu. Ketika akhirnya masuk, sempat gak suka dengan mata kuliahnya, sampai ketika akhirnya aku semakin mendalaminya, semakin mencintai pilihan yang kutentukan.

Teman-teman, perjalananku mulai dari awal lulus SMA, kuliah, hingga kerja, sungguh tidak ada yang gampang. Padahal baru sebatas ini karena kenyataannya memang jauh lebih banyak yang hebat. Memiliki kesempatan kuliah membuatku belajar banyak hal. Sebenarnya saat ini aku sedang tertarik pada suatu tema dan bulan depan, insyaallah, mau kuajukan ke dosen. Walaupun statusku bukan mahasiswa lagi, tapi sudah jelas ya, minatku memang ada pada tulisan, terutama riset dan jurnalistik. Aku akan mengembangkan ini. Aku bersyukur karena akhirnya aku benar-benar diberikan jalan yang kuasa pada pilihan yang sebenar-benarnya terbaik. Sekali lagi, rasanya sedih dan terharu sekali menapak tilas perjuangan orang-orang terdekatku, terutama orang tua dan adik-adikku, yang selalu mendukungku. Motivasi karena diremehkan dulu, langsung hilang karena didominasi oleh orang-orang yang selalu mendukungku. Rasanya, kalau aku tidak dapat berjuang semakin keras dari saat ini, aku benar-benar tidak tahu malu. Aku benar-benar akan berusaha keras menjadi yang terbaik, bermanfaat bagi orang lain, terutama yang berada paling dekat denganku selama ini. Duh, menuliskan semua ini kok rasanya seperti baru saja meneriakkan mimpi di depan banyak orang :p Ya ya, aku akan semakin melesat! Sebentar lagi, karyaku keluar di pasaran :D hehehe.. bismillah..

Written by alinaun

February 24, 2012 at 12:38 pm

Posted in aku di siang ini

….

with one comment

“kok cemberut?”

“enggak”

bad mood?”

“enggak”

“banyak pikiran?”

“manusia”

“terus?”

“wajar”

“kangen?”

“… terus?”

“gak apa-apa”

iya, sebenarnya sekarang aku sedang kangen :’) rasanya, ingin memberikan yang terbaik padanya. sementara pasir waktuku semakin habis, tiba-tiba merasa desperado dan gak bisa ngapa-ngapain…

Written by alinaun

February 23, 2012 at 9:39 am

Posted in aku di pagi ini

menjadi yang terbelakang, evaluasi

with 2 comments

Akhirnya aku merasakan bagaimana rasanya menjadi yang terbelakang. Bagaimana rasanya ketika aku ternyata menjadi beban. Kalau dipikir-pikir, memang posisi seperti ini perlu juga satu kali, kumohon jangan pernah lagi, aku rasakan.

Aku sudah lama tidak latihan fisik. Semenjak mengerjakan skripsi, aku sudah lupa caranya menyempatkan waktu untuk latihan. Jika dihitung-hitung, sudah semenjak Agustus 2011 aku tidak pernah latihan.

Semenjak memutuskan untuk mengikuti seleksi Mapala pada maret 2011 lalu, aku sudah mulai membiasakan diri melatih fisik, jogging teratur, baik bersama teman-teman ataupun sendirian. Tetapi, rutinitas yang kukerjakan hampir setengah semester itu akhirnya tidak bisa kukerjakan lagi semenjak awal semester ganjil. Dampaknya, ketika minggu ini aku harus kembali melatih fisikku dalam persiapan perjalanan, aku malah menjadi oknum yang mencatat waktu paling lambat dengan rute jogging sekitar 7 km.

saya: kak, larinya duluan aja!

senior: nyamain lari lo, lah!

saya: Yah, kalo emang cepet tapi dilambatin kan capek (endurance-nya lebih besar). Lagian aku gak ada niat tricky (misalnya: diam-diam istirahat) kok!!

senior: elah, bukan masalah gak percaya kali. Selambat apapun teman jalan di tim lo, gak mungkin kan ditinggal!!

Jadi ceritanya, kemarin aku jogging ditemani dengan beberapa caang dan mentor yang juga akan ikut ‘jalan’. Tanpa saya sadari, kok ada satu orang mentor yang larinya lambat sekali. Jadi, kurang lebih percakapan itulah yang terjadi. Aku lari paling belakang dan ditemani seorang senior. Ya ampun, mana jaraknya jauh banget lagi dengan teman-teman di depan. Aku jadi merasa fisiknya abal banget deh. Oke, biar aku ceritakan bagaimana cukup jawaranya aku beberapa bulan lalu, ketika masih rajin jogging. Aku sempat kena rekor, lari keliling stadion UI enam kali hanya 8 menit 26 detik katanya itu kalau mau daftar jadi atlet, sudah bisa diterima. Tapi, yang lalu memang sudah berlalu. Kenyataan yang sekarang, aku sedang berada di posisi yang paling terbelakang. Sempat berfikir, jangan-jangan aku harus menjaga berat badan saya supaya tidak terlalu menjadi penghambat lari. Tetapi tidak juga, satu-satunya alasan kelambatanku adalah karena tidak pernah latihan lagi. Aku termasuk orang yang senang berolahraga. Olahraga kesukaanku ialah atletik, terutama lari dan lompat jauh karena aturannya tidak sebanyak pertandingan olahraga lain.

Hal lain yang aku sebalkan muncul di dalam diriku, kok aku ini manja ya. Diminta push up saja, gak bener. Padahal, dulu aku semalas apapun, tidak akan pernah mengeluh untuk push up dengan benar. Ya ampun, ini namanya kemunduran. Aku jadi khawatir, adanya kemunduran ini berpengaruh pada hal lain. Aku jadi mulai berfikir, kalau kemunduran ini bukan masalah tidak pernah latihan lagi. Mentalku menghadapi kesulitan benar-benar mundur total! Ya Tuhan, sejak kapan, ya?

Yang jelas, aku belajar untuk selalu fight di dalam kondisi apapun ya, dari mapala. Analoginya seperti ini, ketika saya diminta untuk berlari sepanjang kurang lebih 5-7 kilo tanpa sedikit pun boleh berhenti, ada saat-saat di mana aku ingin sekali nangis dan berhenti berlari. Rasanya lelah sekali. Tetapi kalau aku berhenti, entah apa yang akan dilihat oleh teman-teman. Aku berlari bukan untuk diriku sendiri. Bagaimana jika ketika di gunung nanti, karena aku sering diam-diam cabut dari latihan, ternyata aku malah cedera dan justru menghambat perjalanan tim? Jadi itulah yang membuatku, selelah apapun, tetap berlari dan semakin memacu kecepatan.

Aku benar-benar harus kembali memperbaiki ini, atau selamanya akan menjadi yang terbelakang!

Written by alinaun

February 23, 2012 at 7:24 am

Posted in aku di pagi ini

mempersiapkan perjalanan

with 6 comments

Seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya, bulan ini saya menerima dua kejutan. Yang pertama ialah wisuda, serta yang kedua ialah dapat surat lantik Mapala UI. Saat ini, saya sedang mempersiapkan perjalanan pelantikan saya. Seperti biasanya, masa-masa persiapan perjalanan adalah masa-masa paling sibuk yang harus saya lalui. Inilah alasan utama yang paling tidak memungkinkan saya lulus cepat. Bagaimanapun juga, prinsip Perjalanan yang dilakukan oleh Mapala UI benar-benar bukan sembarangan karena bagaimaapun, segala sesuatu perencanaan harus diperhitungkan dengan matang, baik itu urusan teknis maupun non teknis yang dibutuhkan saat di lapangan. Karena prinsip yang diutamakan saat melakukan pendakian (olahraga outdoor lain) hingga kapanpun ialah keselamatan

1. Navigasi Darat

Saya bukan anak Geografi, Geologi, atau apapun itu yang berunsur ilmu kebumian. Namun, berkutat di alam bebas membutuhkan kemampuan navigasi darat yang tidak boleh jelek. Prinsip yang selalu diutamakan di dalam sebuah perjalanan ialah keselamatan. Navigasi, bagaimanapun juga, memiliki peran yang sangat besar untuk mengurangi risiko nyasar di belantara hutan. Di dalam bernavigasi ini, kita harus mahir membaca peta topografi yang berkontur-kontur, meriset cuaca, tidak ‘gagap’ menggunakan kompas dan protaktor. Navigasi dapat dibilang dasar yang harus dimiliki oleh setiap pendaki. Melalui navigasi, kita belajar untuk melihat penampakan medan yang akan dilalui sehingga dapat menghindari berbagai bahaya di depan, seperti jatuh dari jurang, jarak yang akan ditempuh, kecuraman medan, bentangan alam, serta lain sebagainya.

2. Medis

Setelah melakukan riset navigasi, tentu akan ditemukan titik-titik mana saja yang dinilai ‘rawan’ terjadi kecelakaan. Di sini, keahlian medis dibutuhkan untuk menganalisis apa saja kondisi yang akan rentan dialami oleh pendaki. Misalnya, jika di tempat yang tinggi, pendaki cenderung untuk terserang hipotermia sehingga dibutuhkan keahlian penanganan pertamanya. Jika di dalam riset navigasi ditemukan titik-titik berbahaya, medis harus menyiapkan berbagai kondisi. Jika di dalam tim ada seseorang yang sekarat dan butuh cepat dibawa ke rumah sakit, maka medis pun harus sudah meriset rumah sakit mana yang akan dituju untuk dimintai pertolongan. Riset medis wajib dilakukan.

Selain itu, tim medis wajib melihat kondisi timnya, baik ketika sebelum maupun sesudah perjalanan. Gizi makanan saat perjalanan pun perlu diatur. Karena perjalanan yang akan ditempuh butuh ketahanan fisik yang baik, maka persiapan olah raga sebelum melakukan pendakian perlu dilakukan. Apalagi ketika kejadian tak terduga terjadi, misalnya ketika tersasar, maka tim medis sudah harus memastikan jika kondisi tim harus dapat lebih bertahan dari waktu pendakian yang sebelumnya telah ditentukan. Misalnya, ketika estimasi pendakian awal ditentukannya ialah selama 3 hari, maka tim medis harus memastikan jika daya tahan fisik tim minimal harus dapat bertahan selama 5 hari.

3. Rescue

Setelah kemampuan medis, dibutuhkan pula tim rescue. Tim rescue harus meriset jalur mana yang dapat dijadikan jalur evakuasi. Selain itu, mereka wajib memikirkan jalan untuk melewati medan yang sulit. Misalnya, ketika menemukan medan dengan sudut 90 derajat, maka tim rescue sudah harus mempersiapkan peralatan apa yang akan digunakan untuk membantu lancarnya pendakian. Atau, ketika ada salah seorang tim yang terjatuh ke jurang, timrescuejuga harus mahir memutuskan ‘sistem’ apa yang akan digunakan sebagai evakuasi.

4. Komunikasi

Komunikasi di alam bebas biasanya akan menggunakan HT. Di sini, tim komunikasi wajib memahami seluk beluk pemasangan radio untuk memperoleh sinyal di dalam hutan. ketika belajar ini, saya harus pintar-pintar memahami komponen-komponen radio manual yang biasanya digunakan di alam bebas. Setelah itu, kita juga harus terlebih dahulu meriset gelombang radio yang biasanya digunakan di lokasi pendakian tersebut. Jangan sampai gelombang radio yang dipilih ternyata adalah gelombang radio yang ‘ramai’ sehingga fungsi komunikasi itu sendiri akhirnya tidak dapat digunakan.Komunikasi di alam bebas juga penting untuk dikuasai untuk meminimalisasi kejadian-kejadian yang tidak terduga.

5. Manajemen tim

Beberapa sisanya ialah seperti manajemen konsumsi, penggunaan air, pembagian peran tim selama perjalanan. Tentu saja, komponen manajemen tim selain yang saya sebutkan di atas masih ada yang lain.

Sebenarnya saya ingin sekali menceritakan satu demi satu manajemen perjalanan yangs edang saya lakukan. Tetapi, semakin memikirkannya, semakin banyak hal yang ingin saya ceritakan dan ini membuat saya menghabiskan waktu semakin lama untuk menulis. Teman-teman, saya akan menuliskan feature perjalanan saya nanti di blog ini. Semoga kalian dapat belajar dan mengenal lebih baik jika olah raga outdoor semacam ini, bukan olah raga biasa, melainkan olahraga yang membutuhkan kesiapan otak maupun fisik jika ingin berhasil selamat hingga tujuan.

Written by alinaun

February 22, 2012 at 1:23 pm

Posted in catatan perjalanan

wisuda!

with 13 comments

18 Februari 2012

Ternyata menjadi tanggal wisuda saya. Benar-benar tidak menyangka, saya bisa lulus lebih cepat dari yang dibayangkan akan sulit! Sebuah kejutan lain pun menunggu saya pada tanggal ini, ternyata, saya lulus Mapala UI dan berhak untuk dilantik! Sangat-sangat-sangat tidak menyangka dengan kebahagiaan ini. Anak-anak SUMA UI pada datang dan menyambut saya dan teman-teman yang diwisuda lainnya. Mereka baik sekali, sampai pada datang seperti ini. Membuat saya sangat terharu. Yap, perkuliahan saya pun telah berakhir. Sekarang sedang berjuang memantapkan pekerjaan dan mencari beasiswa untuk melanjutkan S2.

Sebelum ini, saya mengira jika acara wisuda hanya prosesi biasa yang, kalau gak datang juga tidak apa-apa. Sedari awal, saya sebenarnya malas ikut acara wisuda, tetapi orang tua biasanya bangga kalau bisa melihat anaknya diwisuda, jadinya saya pun memutuskan untuk ikut. Kenyataannya, selama prosesi berlangsung saya malah bolak-balik terharu. Plis deh, kok ternyata saya sedih sekali waktu mengikuti acara ini. Tandanya, saya akan meninggalkan dosen-dosen, teman-teman di departemen dan jusuran, teman-teman di organisasi, serta orang-orang lainnya. Yang terutama, ini tandanya saya harus semakin berterima kasih pada kedua orang tua saya, adik-adik, serta keluarga yang lain yang telah mendukung saya di dalam doa-doa mereka. Saya paham ini tandanya memang sudah waktunya bagi saya untuk mulai mempraktikan apa yang selama ini saya dapat ke masyarakat. Ya, waktunya memantapkan pekerjaan dan mencari beasiswa S2 :D

Written by alinaun

February 19, 2012 at 3:57 am

Posted in aku di pagi ini