menjadi yang terbelakang, evaluasi
Akhirnya aku merasakan bagaimana rasanya menjadi yang terbelakang. Bagaimana rasanya ketika aku ternyata menjadi beban. Kalau dipikir-pikir, memang posisi seperti ini perlu juga satu kali, kumohon jangan pernah lagi, aku rasakan.
Aku sudah lama tidak latihan fisik. Semenjak mengerjakan skripsi, aku sudah lupa caranya menyempatkan waktu untuk latihan. Jika dihitung-hitung, sudah semenjak Agustus 2011 aku tidak pernah latihan.
Semenjak memutuskan untuk mengikuti seleksi Mapala pada maret 2011 lalu, aku sudah mulai membiasakan diri melatih fisik, jogging teratur, baik bersama teman-teman ataupun sendirian. Tetapi, rutinitas yang kukerjakan hampir setengah semester itu akhirnya tidak bisa kukerjakan lagi semenjak awal semester ganjil. Dampaknya, ketika minggu ini aku harus kembali melatih fisikku dalam persiapan perjalanan, aku malah menjadi oknum yang mencatat waktu paling lambat dengan rute jogging sekitar 7 km.
saya: kak, larinya duluan aja!
senior: nyamain lari lo, lah!
saya: Yah, kalo emang cepet tapi dilambatin kan capek (endurance-nya lebih besar). Lagian aku gak ada niat tricky (misalnya: diam-diam istirahat) kok!!
senior: elah, bukan masalah gak percaya kali. Selambat apapun teman jalan di tim lo, gak mungkin kan ditinggal!!
Jadi ceritanya, kemarin aku jogging ditemani dengan beberapa caang dan mentor yang juga akan ikut ‘jalan’. Tanpa saya sadari, kok ada satu orang mentor yang larinya lambat sekali. Jadi, kurang lebih percakapan itulah yang terjadi. Aku lari paling belakang dan ditemani seorang senior. Ya ampun, mana jaraknya jauh banget lagi dengan teman-teman di depan. Aku jadi merasa fisiknya abal banget deh. Oke, biar aku ceritakan bagaimana cukup jawaranya aku beberapa bulan lalu, ketika masih rajin jogging. Aku sempat kena rekor, lari keliling stadion UI enam kali hanya 8 menit 26 detik katanya itu kalau mau daftar jadi atlet, sudah bisa diterima. Tapi, yang lalu memang sudah berlalu. Kenyataan yang sekarang, aku sedang berada di posisi yang paling terbelakang. Sempat berfikir, jangan-jangan aku harus menjaga berat badan saya supaya tidak terlalu menjadi penghambat lari. Tetapi tidak juga, satu-satunya alasan kelambatanku adalah karena tidak pernah latihan lagi. Aku termasuk orang yang senang berolahraga. Olahraga kesukaanku ialah atletik, terutama lari dan lompat jauh karena aturannya tidak sebanyak pertandingan olahraga lain.
Hal lain yang aku sebalkan muncul di dalam diriku, kok aku ini manja ya. Diminta push up saja, gak bener. Padahal, dulu aku semalas apapun, tidak akan pernah mengeluh untuk push up dengan benar. Ya ampun, ini namanya kemunduran. Aku jadi khawatir, adanya kemunduran ini berpengaruh pada hal lain. Aku jadi mulai berfikir, kalau kemunduran ini bukan masalah tidak pernah latihan lagi. Mentalku menghadapi kesulitan benar-benar mundur total! Ya Tuhan, sejak kapan, ya?
Yang jelas, aku belajar untuk selalu fight di dalam kondisi apapun ya, dari mapala. Analoginya seperti ini, ketika saya diminta untuk berlari sepanjang kurang lebih 5-7 kilo tanpa sedikit pun boleh berhenti, ada saat-saat di mana aku ingin sekali nangis dan berhenti berlari. Rasanya lelah sekali. Tetapi kalau aku berhenti, entah apa yang akan dilihat oleh teman-teman. Aku berlari bukan untuk diriku sendiri. Bagaimana jika ketika di gunung nanti, karena aku sering diam-diam cabut dari latihan, ternyata aku malah cedera dan justru menghambat perjalanan tim? Jadi itulah yang membuatku, selelah apapun, tetap berlari dan semakin memacu kecepatan.
Aku benar-benar harus kembali memperbaiki ini, atau selamanya akan menjadi yang terbelakang!
kalau itu baik kenapa tidak diperbaiki. btw aku ga bisa push up loh
lidya
February 23, 2012 at 7:44 am
semangat ya mbak d(^o^”) – jangan pernah menyerah
jika sudah mengetahui harus apa maka lakukan lah
S E M A N G A T
Eko Wardoyo
February 23, 2012 at 12:29 pm