Author Archive
hidup di antara keterbatasan
Di antara sekian banyak keterbatasan yang ada di dunia ini, menurut kamu, mana keterbatasan yang paling kamu anggap paling penting?
Keterbatasan fisik masih belum ada apa-apanya jika dibandingkan dengan keterbatasan berfikir. Keterbatasan berfikir tak dapat manfaatnya jika hati yang kita miliki sempit. Lebih di atasnya lagi, lalu muncul keterbatasan-keterbatasan lain yang saling membatasi satu sama lain. Hingga akhirnya, tak ditemukan kesempurnaan di dalam dunia ini. Kesempurnaan ada di dalam kesadaran kita tentang keterbatasan. Jadi, kesempurnaan ialah mengakui jika semuanya memang terbatas.
:p ditulis sambil seru-seruan
hatinya yang mati
kamu datang dan pergi dengan segudang pertanyaan
meninggalkan kedalaman pikiran yang gelisah
lalu,
yang gelisah ternyata bersarang di kedalaman hati
diam mengendap seakan sudah semestinya
tanpa dosa menghapus dunianya yang lain
namun,
siapa yang menyangka andaikata
yang gelisah justru membisukan hatinya
dan ia putus segala saraf yang menghidupkannya
pura-pura seperti tak tahu
Mengapa yang gelisah, bukan gelisahnya
tetapi gelisahnya yang menggerakkan hatinya
kepada yang gelisahkah,
atau justru gelisahnya
yang lalu menjadikannya mati
Buang sampah di muka orang
Entah sudah yang ke berapa kalinya, pagi ini aku melihat kembali perbuatan tidak bertanggung jawab yang dilakukan oleh orang-orang yang mengaku terdidik. Kadang, perbuatan yang dianggap remeh oleh orang-orang itu membuatku mudah ilfil-kehilangan feeling pada mereka.
Pagi ini aku aku pergi keliling alun-alun naik sepeda, ceritanya sambil meregang otot. Tiba-tiba, seorang pengendara motor menyalipku dan tanpa sengaja, orang yang membonceng di belakangnya membuang tisu yang melayang ke arahku. Hey, tentu saja aku menghindari tisu itu, ya. Bagaimana kalau isinya ingus? Oke, bukan ingusnya yang ingin aku tekankan. Tetapi, bagaimana jika ada kendaraan ngebut yang bisa membahayakan keselamatan.
Buang sampah di sembarang tempat sudah seperti sebuah kebiasaan remeh yang selalu dilupakan oleh kebanyakan orang. Memang terkadang batu yang besar lebih mudah dilewati dibandingkan kerikil-kerikil yang kecil. Bahkan, kadang masalah yang ditimbulkan akibat si kerikil lebih besar dibandingkan dengan masalah diakibatkan oleh batu besar.
Aku
tersesat di dalam pikiran
Halo, malam ini aku tidak bisa tidur. Sambil memanfaatkan teknologi pintar yang gak pintar-pintar banget (karena masih ada teknologi lain yang jauh lebih pintar), aku ingin menceritakan sedikit kesesatan yang kulakukan di dalam pikiranku. Jadi, temanku bertanya tentang akal dan pikiran. Sebuah hal yang mengistimewakan manusia adalah bukan sekedar karena dianugerahi akal dan pikiran, tetapi karena manusia memanfaatkan pikiran yang ada untuk berpikir. Namun, aku merasa jika hal itu telah membuatku begitu sombong. Entah kenapa aku merasa sangat sedih menyadari jika aku sombong. Padahal sesungguhnya saat ini aku pun tidak tahu harus merasa bersalah pada siapa. Seperti ada sesuatu yang salah, tetapi aku tidak tahu pastinya. Apa harus merasa bersalah pada Tuhan? Oke, anggap aku harus merasa bersalah pada Tuhan, tetapi bukankah kita harus mengerahkan segala tenaga dan pikiran kita (jika perlu) untuk mencari tahu tentang kebenaran..? Jadi, kalau dilihat-lihat sebenarnya aku tidak boleh berhenti untuk mencari, bahkan jika perlu hingga aku mati.
Hai jiwa yang ada di dalam diriku, Aku tahu jika aku pernah merasakan sebuah depresi yang berat karena beberapa hal yang terjadi di dalam hidupku. Dan di saat itu, aku merasa seakan segala sesuatu seperti tidak ada yang mendukung eksistensiku. Seperti aku tidak ada di dunia ini saja. Tetapi, kenyataan jika masalah ternyata menemukanku hingga membuatku depresi menjadi bukti kalau aku memang ‘ada’ di dunia ini. Jadi, mengapa aku bisa ditemukan masalah sementara orang-orang yang kubutuhkan untuk menyadari kehadiranku di kala sulit justru malah mengaggapku tidak ada? Seperti ada yang senang sekali mempermainkanku. Tetapi siapa sebenarnya yang senang sekali menjadikan diriku sebagai boneka di panggungnya? Memangnya aku istimewa. Masa karena aku berhasil dilahirkan menjadi manusia yang punya akal menjadi tolak ukur keistimewaan diriku.
Belum selesai pertanyaanku berhasil di jawab oleh pikiranku, tiba-tiba aku jadi kepikiran, sebenarnya siapakah aku? Jika dipikirkan, selain eksistensi manusia, sejak kecil kita sering didongengi oleh kisah-kisah yang dibumbui tokoh si malaikat baik dan tokoh si setan jahat. Sebagai manusia, kita memiliki sisi baik yang seperti malaikat dan sisi jahat yang dianalogikan sebagai pengaruh setan. Lantas, seperti apa ya berarti ciri khas manusia yang sebenarnya. Jika baik adalah malaikat, jika jahat adalah setan, manusia ada di mana?
Wah pertanyaanku bodoh sekali. Sebenarnya, pertanyaan-pertanyaan seperti ini sudah terlalu sering menghantuiku tanpa pernah sedikitpun kupedulikan. Semakin dipikirkan maka akan semakin banyak pertanyaan yang muncul hingga akhirnya pertanyaan tidak akan pernah selesai untuk dijawab. Jadi selama ini aku merasa kalau ternyata aku hidup memang tidak pernah berusaha menari tahu untuk apa aku hidup dan kepada siapa sebaiknya aku mengabdi. Aku mengikuti keyakinan apa yang orang tuaku pegang, lalu kusintesis dari beberapa hasil pikiranku yang lampau hingga jadilah itu sebagai gaya hidupku. Namun satu hal yang aku tahu membuat diriku sangat bahagia dan yakin bahwa jalan yang kupilih itu benar, meskipun aku tidak tahu juga akan sampai kapan keyakinan ini akan tetap kuteladani.
Aku, dari pada sibuk memikirkan pertanyaan aneh yang ruwet itu, ternyata lebih senang lari dan menumpahkannya pada urusan-urusan yang mampu membahagiakan diriku. Menjadi seorang yang mandiri untuk dapat membahagiakan diri sendiri.
Hari ini, seorang temanku bertanya tentang Rumah Autis, sebuah lembaga yang dulu sempat aku geluti selama beberapa bulan. Aku merasa keterlibatanku di antara mereka yang ada di Rumah Autis pelan-pelan menggiringku untuk menerima siapa aku sebenarnya. Di rumah Autis, aku sangat senang ketika menyadari bahwa jiwa dan ragaku ternyata dibutuhkan. Aku menemukan bahwa satu dari sekian banyak rahasia dihidupkannya diriku di dunia ini ialah membantu orang lain. Karena sesungguhnya setiap manusia akan selalu membutuhkan pertolongan. Seperti kata orang tua sejak zaman dahulu kala, manusia memang tempatnya kelemahan. Aku tahu logikaku saat ini masih belum sampai ke tahapan yang kuinginkan sebagai jawaban menuju gerbang pertanyaan berikutnya, tetapi satu kenyataan jika aku memang dibutuhkan oleh manusia lain akan selalu menjadi hartaku yang berharga. Sekaligus juga sebagai tangga awal yang kugunakan untuk pelan-pelan mencapai logika berpikirku di masa depan yang sangat misterius. Kini aku tinggal mengikuti langkah ke depannya. Yang aku yakini nantinya pasti akan mengantarkanku untuk memahami masalah hidup yang sebenarnya sedang kuhadapi namun sedang tidak kusadari sekarang ini. Nah, kan aku terjebak lagi di dalam pikiranku. Benar-benar, aku menulis begitu saja sesuka hati hingga pertanyaan-pertanyaan baru tiba-tiba kembali mengaung di pikiranku. Writing without thinking.
Bahkan hingga di akhir, aku sama sekali tidak memahami apa yang sebenarnya sedang kutulis dan untuk apa sebenarnya aku menuliskan ini. Tulisan anak yang jadi ikut-ikutan galau -__-
Uang yang saya gunakan
Dahulu ketika saya masih menjadi mahasiswa, saya selalu berfikir jika apa yang saya belanjakan dengan uang yang kebanyakan adalah pemberian orang tua sudah sesuai dengan kebutuhan saya. Saya selalu merasa cukup bijak setiap kali membelanjakan uang, kecuali pada beberapa waktu tertentu.
1. Buku
Kebiasaan membeli buku muncul setiap kali aku main ke toko buku. Pasti, meskipun pada awalnya saya sama sekali tidak memiliki niat membeli, ujung-ujungnya saya tetap akan membelanjakannya.
2. Jalan-jalan
Terutama setiap kali jalan ke gunung. Saya harus pintar-pintar menahan keinginan naik gunung terutama jika ada keinginan pertama yang sangat ingin saya miliki.
Dua alasan di atas menjadi hal yang kebanyakan paling ampuh menggoda iman saya untuk berhemat. Jadi ya, dari sini saya melihat jika upaya berhermat itu bukan sekedar menyisihkan uang, tetapi menahan diri untuk sementara waktu sabar tidak memenuhi keinginan.
Kesan terakhir
Hey, kamu itu unik. Padahal kita itu sama. Sama-sama berusaha menjadi pemikir yang baik. Tapi karena jalan pikiranmu yang lain denganku, kita satu sama lain jadi merasa asing. Hingga batas kesepakatan kita sampai akhirnya tetap berbeda, kenapa harus kita jadi berpisah, ya?
cerita yang terlambat
Sekarang sudah bulan mei, tetapi aku berniat untuk cerita tentang apa yang terjadi di bulan lalu.
Usiaku bertambah 1 tahun lagi di akhir bulan April yang lalu
21 tahun, ya. Jadi, pada tanggal 30 april aku berniat untuk mentraktir beberapa teman baruku. Jadi modus awalnya itu sebenarnya hanya untuk berteman lebih dekat dan meninggalkan kesan untuk teman-teman baruku dengan cara menciptakan kedekatan. Aku tinggal di sebuah kos yang sering disebut Bali House yang di sana juga terdapat kafe. Mengingat saat itu aku tidak terlalu mengenali daerah tempat aku tinggal, jadilah aku memutuskan untuk mentraktir temanku di kafe yang digabung dengan kos sendiri.
Aku mentraktir Senja, Ami, Juju, dan Niaa di hari pertama, yakni pada tanggal 29 April. Karena 30 April adalah hari senin di mana sudah dipastikan akan membuat orang lain sibuk, aku mentraktir empat anak itu di hari minggu. Empat orangku itu menjadi empat orang terdekat aku. Senja orangnya suka jalan-jalan dan backpacker, suka baca buku, dan sama-sama suka menulis. Sedangkan si Ami itu suka sekali main internetan, sama-sama suka lupa diri kalau sudah ketemu dengan internet. Juju orangnya cuek dan fokus, aku senang dekat dengan dia karena itu berarti aku diam-diam berharap bisa memperbaiki kualitas diri yang dua di antaranya ada di Juju. Sedangkan Nia adalah orang yang sangat rajin sampai-sampai aku mengira kalau jangan-jangan Nia ini rajin dalam banyak hal. Empat orang temanku itu akhirnya aku ajak makan-makan. Sebenarnya masih banyak teman yang tidak kalah menyenangkan. Cuma karena ternyata kebanyakan dari mereka punya agenda masing-masing pada hari itu, akhirnya hanya empat orang yang berhasil aku traktir.
Di tanggal 30-aprilnya, aku mentraktir 3 orang teman kosku, Kak Lina, Ve, dan Ines. Tahu gak sih, padahal niat awalku cuma mau traktir teman kosku adem anyem, tapi mereka ternyata sudah punya rencana lain. Tiba-tiba mereka kasih aku kue ulang tahun lho, ada lilin-lilinnya juga. Karena tempat kosku juga merangkap kafe, sudah kebayang dong keributannya jadi seperti apa. Aku kaget banget, lho. Apalagi setelah aku mentraktir mereka, ternyata teman-temanku yang lain datang. Mereka rencananya cuma mau makan di kafe tempatku, tapi karena lihat teman-teman kos ku ramai sendiri bilangin aku ulang tahun, teman-temanku yang datang itu jadi ikutan ramai. Sok-sokan ikut ngerayain ulang tahun. Untung banget, aku bersyukur banget teman-temanku tadi ngasih kue ulang tahun jadinya sambil teman-temanku yang baru datang itu nunggu makanan mereka datang, aku sandingi juga dengan kue yang tadi dikasih temen-temen kosku. Senang banget deh pokoknya.
Tetapi, memang kejutan berturut-turut datang bahkan sampai seminggu ke depannya. Pertama ialah kejutan yang dikasih Senja, Ami, dan Juju yang sama sekali gak aku bayangkan. Dua hari lewat mereka memang mendiamkanku, tetapi menurutku itu masih taraf yang wajar dan aku sama sekali gak curiga. Suatu hari mereka datang ke kos ku dan bikin ribut tempat kos ku dengan nyanyian ulang tahun mereka yang keras banget. Di tambah lagi, ada pegawai kosku yang sudah mau nyiram aku pakai air. Parahnya mereka hampir mau nyeburin aku ke sungai. Tapi untungnya ya, aku langsung lari ke dalam kamar dan gak keluar lagi saking takutnya beneran di ceburin ke sungai.
Kedua ialah kedatangan ayahku. Ayahku itu manis sekali, lho. Dari Solo, dia sampai datang ke kosku di Kediri hanya demi mengantarkan kado dan ngucapin ulang tahun ke aku :’) Gimana, ya. Rasanya benar-benar mengharukan. Yang sangat aku sesalkan ialah aku menghancurkan upaya kejutan ayahku. Sebelumnya ibuku sudah bilang kalau dia akan mengirimkan paket untukku, tetapi hampir seminggu ternyata paket itu belum sampai. Karena kasian sama aku, ibuku akhirnya bilang kalau paket itu akan diantarkan langsung oleh ayahku. Bodohnya, saat itu aku terlalu senang dan polos. Setelah ibuku ngasih tau kalau ayah akan datang, aku langsung sms ayahku. Sedih deh, kalau ingat kejadian itu jadi menyesal karena sudah menggagalkan rencana ayah >__>
Bulan april di tahun ini sangat mengejutkan. Aku sangat-sangat berterima kasih kepada Tuhan, Allah swt, yang sudah menghadirkan orang-orang yang sangat baik di sekitarku. Oh iya, karena aku terpisah jauh dari adikku, aku senang sekali dengan isi pesan yang dia kasi :’) Benar-benar mengharukan. Ya ampun, rasanya isi keluargaku itu isinya orang-orang yang manis.