vacuum

photo-1457732815361-daa98277e9c8
I am trying to be the old self when reading is only to seek immense peace and tranquality. Thus, I can see books as my true escapism.
Recently I have been in rally, reading much faster than I used to be. The faster I read, the more I am eager to trigger myself to be able to read much faster. I then created this new cycles of inadequacy. And sadly yes, I have become SUCH competitive being.
In most of my times, I am always wondering how much enough is. How much of anything is enough? I, as someone who impersonate as a new emergence young adult, tend to say never enough in everything I have achieved. Not that I think that is wrong, but I am starting to find that this never-enough tendencies is stressed me out since everything is underlie by the materialistic philosophical thinking and action.
So the control has already been there, in my inner self. I am the one who need to stop my heart to want more than I should have. Sometimes, I am so afraid that if I keep these tendencies continuously, what I have already had will be suddenly vanished, left me with a vacuum, so intense that I can not avoid in all my life.
Lord I cant help myself, but so scared.

PHOTO BY MOLLY BELLE FROM UNSPLASH

Advertisements

fase hidup

Dear readers,

Beberapa hari ini saya merasa kurang bersemangat. Saya tahu alasannya apa, tentu saja, sayangnya ini bukan menjadi hal yang pantas untuk saya ceritakan di ranah publik seperti blog. Singkatnya, saya hanya bekerja sesuai dengan daftar cek yang sudah saya susun di hari sebelumnya, berusaha menyelesaikan tanggung jawab pekerjaan secepat mungkin sambil tetap berusaha hati-hati, lalu diam dan tidak memikirkan apa-apa.

Ada beberapa rencana yang sedang saya susun saat ini dan saya benar-benar tidak tahu bagaimana rencana ini akan berjalan ke depannya. Teman-teman saya di kantor menganggap saya lucu karena seperti orang yang  tidak bisa diam, alias, harus selalu memegang sesuatu untuk dikerjakan. Salah, mereka benar-benar salah karena tidak paham kalau saya sebenarnya sangat-sangat pemalas. Biarkan saya diam lima belas menit saja untuk tidak melakukan apapun, menit berikutnya saya benar-benar akan langsung malas mengerjakan apapun, bahkan yang sifatnya wajib. Menyadari itu, saya sadar kalau saya adalah orang yang tidak boleh sedikitpun dibiarkan diam tanpa melakukan apapun.

Saat saya masih duduk di bangku kuliah, saya senang sekali mencoba pengalaman-pengalaman baru tanpa berpikir apakah saya akan mampu melalui pengalaman-pengalaman tersebut. Saat membaca buku kumpulan catatan perjalanan bang Norman Edwin misalnya, saya langsung ingin menjadi petualang alam yang masih liar, lalu tadaaa, saya jadi anak mapala. Saat saya masih duduk di bangku kuliah, saya benar-benar bersyukur karena diberikan kesempatan demi kesempatan untuk mencoba hal-hal yang sama sekali baru dalam hidup saya. Sayangnya, saya tidak lagi menemukan kebebasan ini semenjak saya memasuki dunia kerja.

Dengan segala rasa hormat yang dapat saya berikan, saya sama sekali tidak pernah menganggap remeh dunia kerja. Kehidupan kita pada awalnya dimulai dari sebuah lingkaran yang sangat kecil, yakni keluarga. Semakin dewasa, lingkaran kita akan semakin besar serta proses untuk masuk ke dalam fase lingkaran berikutnya membutuhkan suatu usaha yang juga lebih besar dari sebelumnya. Usaha yang lebih besar tersebut sebenarnya sejalan dengan semakin besarnya pula tanggung jawab yang harus kita pikul ketika memasuki zona lingkaran baru yang lebih besar. Di dalam prosesnya, suka dan tidak suka, orang-orang akan datang dan pergi meninggalkan kenangan baik, buruk, atau biasa saja. Apakah mereka akan hadir memberi dukungan, atau tantangan hingga kita berhasil memperluas kenyamanan di zona yang baru.

Saat ini, saya hanya sedang berada di dalam suatu fase kehidupan yang menuntut saya untuk menciptakan zona kenyamanan baru di dalam lingkaran yang lebih besar. Sebagai manusia yang bebas, saya sadar kalau sebenarnya saya juga dihadapkan pada dua pilihan untuk melalui fase ini, yakni tetap maju atau kembali ke zona sebelumnya. Secara filosofis, kedua pilihan tersebut cukup berimbang, tidak selamanya benar dan tidak pula selamanya salah. Yang salah ialah ada pada perasaan menyesal yang muncul akibat dari pilihan yang telah kita putuskan.

Pesona

Saya cukup sering menjadikan diri saya sendiri untuk bereksperimen terhadap suatu hal. Seperti ingin melihat sekuat apa saya mampu menahan diri untuk menjadi orang yang tenang, bagaimana agar setiap bangun tidur hal pertama yang saya ambil bukanlah telefon genggam ataupun jam, apakah saya bisa tetap terjaga tanpa menghirup kopi, serta lain sebagainya. Saya ingin melihat bagaimana saya ketika dihadapkan pada suatu kondisi tertentu. Apakah saya tipe yang berinisiatif tinggi dan fleksibel, tenang menghadapi tekanan, dan lain sebagainya. Alasan lainnya adalah saya selalu memgingatkan diri sendiri bahwa mengikuti tes kepribadian tidak pernah cocok untuk saya. Mungkin saya tipe mood swing, yang bagaimanapun juga hanya bisa menjawab soal-soal kepribadian berdasarkan mood.

Minggu lalu saya meyakinkan diri untuk menahan diri tidak melenguh soal Jakarta dan berbagai aktivitas di dalamnya.

Ada apa dengan Jakarta? Bahwasannya saya tidak suka tinggal di Jakarta dan daerah sekitarnya merupakan suatu kenyataan. Saya selalu bilang kepada teman-teman saya yang tidak ingin pindah dari Jakarta bahwa mereka adalah orang-orang terpilih yang tangguh. Setiap hari menghadapi kemacetan, setiap hari berdesak-desakan di angkutan umum, panas terik yang menyengat setiap keluar dari kantor pada siang hari, belum ditambah dengan kejaran deadline, tidak ada pilihan untuk mangkir dari lembur di akhir pekan, life is surely tough. Bertahan hidup di kota besar seperti Jakarta menjadi sebuah perjuangan yang besar.

Biasanya ketika seseorang berusaha untuk tetap menjadi positif, dia bisa menemukan sisi-sisi positif lain yang sebelumnya tertutup oleh emosi negatif. Atau setidaknya, ini akan menumbuhkan rasa terima kasih pada apa yang sudah ia miliki. Karena kenyataanya, saya kembali diingatkan bahwa seterik apapun panas yang melanda Jakarta, saya masih lebih jauh terlindungi dibandingkan mereka yang berjualan keliling di pinggir jalan, menarik bemo dan kopaja, hingga pengemis. Jika pusing dengan kemacetan dan setiap hari harus berdesakan di jalanan, sebenarnya saya harus bersyukur karena ada banyak orang yang dengan hal yang sama, harus berangkat jauh lebih pagi dari saya. Letih karena deadline? Namanya juga bekerja, masih mending punya pekerjaan dari pada tidak. Apalagi ditambah dengan kenyataan jika tingkat pengangguran terdidik di Indonesia semakin meningkat :’)

Tetapi, saya berusaha juga supaya kalau bisa ya gak kerja di Jakarta.

Ada satu hal lagi yang saya catat dari keras dan padatnya kehidupan di Jakarta. Interaksi manusia satu dan yang lainnya menjadikan Jakarta sebagai… Lingkungan sosial yang variatif. Sebagai manusia yang secara diam-diam senang memperhatikan orang di sekitar, Jakarta menjadi tempat untuk bertemu dengan orang-orang yang super-duper unik, yang di jamin di pedesaan pasti langka banget. Mungkin ini akan menjadi satu hal paling saya rindu jika suatu saat nanti saya akan pergi meninggalkan ibu kota 😉

Bagaimanapun, Jakarta masih menjadi pesona yang memang akan selalu menarik orang-orang untuk singgah dan menetap.

Keseimbangan

Kematian bukan untuk memisahkan, melainkan menyempurnakan kehidupan. Sama halnya dengan kebahagiaan yang tidak akan pernah menjadi sempurna jika tanpa disertai kesedihan. Jadi, kematian hadir bukan untuk diratapi, namun disambut dengan perasaan siap melepaskan. Yang sulit adalah keterikatan. Manusia secara naluriah tidak pernah hidup sendiri, maka untuk menghindari kesepian, manusia pun menjaga keterikatan yang mereka ciptakan. Sampai pada suatu titik, umumnya mereka akan lupa jika keterikatan yang mereka ciptakan bukan untuk mereka miliki. Jadi, ketika mereka berpisah, kesedihan pun datang. Kesedihan bisa pergi tanpa menyakiti jika sedari awal manusia tidak pernah merasa memiliki keterikatan. Semuanya akan kembali pada pemiliknya. Jadi, perjalanan mereka yang pergi pun sebenarnya perjalanan pulang untuk kembali ke Dia yang adalah pemiliknya.

kabar semesta

Belakangan ini saya sangat rajin mengikuti berita perpolitikan di Indonesia. Memang jadinya ini ceritanya saya ikut-ikutan nge-hype  gara-gara pasca-pemilu. Apalagi dengan kenyataan kalau ini adalah pertama kalinya saya mengikuti pemilu caleg :p Biasanya untuk urusan politik, saya akan membaca berita hanya demi sekedar tahu. Kata salah seorang teman saya yang lulusan politik, doi cukup terbengong-bengong melihat banyak orang Indonesia yang mendadak seperti seorang ahli politik. Kalau menurut saya sebenarnya ini bukan masalah besar selama memang mereka tidak memaksakan kehendak mereka untuk disetujui, lain deh ceritanya kalau kebalikannya.

Beberapa hari ini saya juga sering mendapat banyak sekali kartu pos. Iya, karena sekitar dua minggu yang lalu saya memang sering banget ngirim kartu pos ke diri sendiri. Malang ya saya, gak ada yang ngirim kartu ke saya lalu desperate sampai perlu ngirim ke diri sendiri? Sebenarnya tidak juga. Ada banyak sekali pelajaran yang dapat diambil saat mengirim kartu ke diri sendiri. Biasanya saya senang sekali menumpahkan segala kekeluhkesahan dan kesenangan pada kartu pos lalu mengirimkan kepada beberapa pengoleksi kartu di negeri nun jauh di sana. Yang terjadi setelah itu biasanya saya akan dapat teman baru. Orang yang tanpa sengaja meenerima kiriman kartu saya akan menganggap saya pencerita yang baik. Cukup miris, ya. Masak saya dibilang pencerita hal-hal menyedihkan yang baik :’) Lalu mereka membalas kartu posku dengan kartu pos pencerita yang menawan. Ibu saya sering memandang saya bingung, kok kartu pos yang sampai ke saya seakan-akan menunjukkan kalau pengirimnya, yang notabene kebanyakan dari negeri asing, sangat mengenal saya. Padahal mah saya duluan yang hobi membuka diri-nya dan bagi beliau ini mungkin sudah agak kelewatan kali. Semenjak itu, saya coba untuk menulis curahan hati saya di kartu pos yang dikirim ke diri sendiri. Hingga kejadian cukup menrepotkan adalah sewaktu Bapak pengantar pos senyam-senyum ke saya sambil memberikan kartu pos-kartu pos itu. Oalah, saya baru tersadar kalau bapak pengantar pos itu pasti sudah baca isi kartu pos saya makanya beliau sampai tidak bisa tidak menahan senyumnya ke saya 🙂 lumayan dong yah, bapak pos itu jadi bahagia karena baca isi hati saya.

Senyum ya. Karena semakin sering ke kantor pos, saya jadi semakin ahli saat menyeberang jalan. Lihat kanan-kiri, jika terlihat kendaraan di kejauhan segera angkat tangan, lalu mulai menyeberang. Tidak perlu terburu-terburu dalam menyeberang karena terburu-buru justru lebih berbahaya. Sepanjang jalan menuju kantor pos ini sebenarnya ada pasar. Kebanyakan sih penjual makanan. Entah kenapa ya, semua penjual makanan yang saya lewati ini selalu tersenyum ke arahku. Bukan karena pas saya beli makanan mereka loh, ya. Penjual di sana kan berderet panjang, tidak mungkin saya beli semua makanan yang didagangkan di sana. Mereka benar-benar selalu saja tersenyum, entah saat sedang menawarkan jajanan, melayani pembeli, ataupun saat sedang bercengkrama. Padahal penghasilan mereka tak seberapa dan tak tetap setiap harinya. Di tengah hari yang terik atau hujan deras yang membuat mereka jadi harus sigap menyelamatkan dagangan, para penjual itu tetap tidak kehilangan seyumnya. I

Ini membuat saya teringat kata seorang teman yang sangaaat saya kagumi. Kebahagiaan itu adalah sebuah pilihan, ain’t it true?

Karena kebahagiaan yang utuh bukan berarti tidak ada masalah. Selama nafas kita masih berhembus masalah selalu akan datang untuk menguji kita. Semesta akan menguji hidup kita, tidak bohong. Jadi, selamat berbahagia.