Kenyamanan menulis

Dear readers,

Semenjak laptop saya pinjamkan sementara waktu ke adik saya yang sebentar lagi akan mengikuti ujian nasional, saya jadi merasa kurang bisa menulis dengan nyaman.

Ada beberapa tema yang sebenarnya ingin sekali secara serius saya bahas di beberapa tulisan yang sedang saya coba selesaikan

  1. Ilmu yang bermanfaat
  2. Literasi keuangan
  3. Disruptif teknologi
  4. Emotional agility
  5. Penerimaan diri

Beberapa tema di atas muncul setelah saya membaca beberapa buku dengan tema-tema yang berbeda. Sayangnya, saat menulis melalui smartphone, saya masih belum bisa dengan lugas dan leluasa menuangkan apa yang ada di pikiran.

Baiklah, saya harus melanjutkan kelas saya lagi. Artinya, sekian dulu tulisan dari saya.

Advertisements

ketertarikan baru

Dear readers

Beberapa waktu lalu, saya bertemu dengan teman lama saya yang bekerja di salah satu kantor financial adviser yang belakangan cukup ramai di perbincangkan di media sosial instagram. Saya bukan sponsor kantor konsultan dia, tetapi berhubung saya yang merasa sudah cukup bisa mengatur keuangan personal ini kok malah jadi dibuat mikir ya.

Hal yang paling saya pikirkan dari obrolan kami tempo hari ialah utamanya soal pemanfaatan aset. Aset yang tidak seberapa, namun jika bisa dimanfaatkan dengan baik, dapat membantu di dalam memproteksi keuangan, bahkan, melebihi itu.

Sebagai manusia yang hidup di dunia materialistis, gak bisa dipungkiri juga kalau saya jadi ikut berpikir bagaimama cara memamfaatkan aset agar bisa menambah nilai manfaat. Sebagai contohnya ialah saat membicarakan perihal investasi. Kita ingin melakukan sebuah investasi jangka panjang, namun umur kita belum tentu akan sepanjang target rencana investasi. Belum lagi ditambah risiko yang digaungkan oleh orang-orang.

Akibat pertemuan dengan teman saya itu, sebenarnya saya ditawari dia untuk mau menyewa jasanya. Hehe, kena deh… Sebenernya saya mau banget. Anggap saja itu sebagai modal belajar, tetapi sayangnya, berhubung saya belum mampu menyewa jasa dia (eh ini lumayan banget, lho, biaya jasanya! Apalah saya yang masi remah-remah rempeyek, yang nyisa pula!), jadi saya nanya deh tips dan buku yang bisa jadi tempat saya belajar *sok rajinnya kumat ceritanya*. Untungnya temen saya gak pelit kalau soal ilmu, dan janjinya sih, boleh lah sesekali diskusi, siapa tau bisa bantu dia (ini malah giliran saya yang mengerutkan dahi, gak salah tuh dia ngomong gitu, haaaaalu ).

Dari segi keyakinan akan kemampuan si teman, saya beneran gak menyangsikan. Lulusan FEB dari dua universitas ternama di bidangnya (doi ambil Master Degree di salah satu Uni terbaik di jurusan Ekonomi di US), jadi se standar-standarnya kemampuan dia, masi tetap di atas rata-rata orang kebanyakan imho.

Jadi di akhir pertemuan, sudah ada tiga buku yang dia rekomendasiin untuk saya baca jika ingin memahami soal investasi untuk ‘kemerdekaan finansial’. Karena orangnya agak sedikit songong gitu, semua buku yang dia rekomendasikan berbahasa Inggris. Awalnya sih, saya kira dia beneran songong, tapi ternyata kata dia memang buku yang bagus tidak ada yang sudah diterjemahkan. Jadi aku mikir, makanya ya orang Indonesia belum banyak yang peduli atau bahkan hebat untuk berinvestasi, secara belum ada rujukan bagus yang bisa dijadikan bahan untuk belajar. Mengenai buku apa saja yang dia rekomendasikan, nanti akan saya perbarui ya tulisan ini. Soalnya sekarang saya menulisnya masih di kereta dan sebentar lagi mau sampai kantor. Hehe…

Tentang judul buku-bukunya

Oke, saya janji kan ya untuk memberi tahu judul buku apa saja yang disarankan teman saya. Baiklah, sejauh ini ada tiga buku yang doi minta saya untuk membacanya,

  1. The Intelligent Investor oleh Benjamin Graham
  2. The End of Alchemy oleh Mervyn King
  3. The End of Theory oleh Richard M

Sejauh ini yang saya baca terlebih dahulu adalah The Intelligent Investor karena menurut teman saya ini yang paling direkomendasikan jika ingin mulai belajar mengenai dunia saham. Sementara sisanya lebih untuk mengetahui dunia sekitar perbankan.

alertness

photo-1455761070998-b340f7060cd6

Beberapa waktu yang lalu, saya dinasehati oleh seorang mantan pramugari kepresiden pada masa Presiden Soeharto (tidak termasuk membesar-besarkan, tetapi ‘beliau’ cukup bangga kalau dikenal dengan cara seperti ini) . Usianya sudah cukup tua, kurang lebih 60 tahun, atau bahkan hampir mencapai 70 tahun. Namun dari pembawaannya, dia seperti wanita usia 50tahunan pada umumnya. Dia masih cepat dan tangkas, ingatannya tajam, dan yang lebih mengerikan, perfeksionis.

Dia menasehati saya kalau di dalam bekerja, kecerdasan saja tidak cukup. Kecerdasan memang sebuah modal yang baik, tetapi jika ditambah dengan alertness, maka saya akan menjadi jauh lebih baik. Inti dari pembicaraan ini sebenarnya, beliau melihat bahwa saya memiliki satu hal yang dianggap kelemahan dan perlu diperbaiki. Apa itu? Ya alertness tadi. Baginya saya orangnya terlalu selow, yang bagi saya sebenarnya bentuk dari kehati-hatian. Beliau senang dengan ketanggapan saya yang sudah cukup, namun ketika mengerjakan sesuatu, saya lelet banget. Yha… Oke, saya terima :’).

Jadi, alertness, saya bukan hanya harus belajar semakin peka terhadap keadaan sekitar, tetapi juga bekerja cepat dan tangkas. Bismillah, terima kasih Madam, yang sudah berbaik hati di dalam membagi ilmunya.

Kini yang menjadi pertanyaan, bagaimana melatih alertness tadi?

Alertness dilatih melalui pembiasaan. Lebih baik lagi jika dimulai dari lingkungan yang cenderung militan macam tentara karena kesiapsiagaan serta kedisiplinan sering menjadi poin utama di dalam kehidupan sehari-sehari mereka. Seluruh pramugari dan pramugara di maskapai BUMN ditempa secara militan. Terbayangkan, mereka yang sangat rupawan itu ternyata cukup ‘mengerikan’ dalam hal ketangkasan di dalam bekerja. Mana ada pramugari atau pramugara yang selow macam alin :p poin utamanya ialah, sang Madam meyakini kalau alertness dapat dilatih dengan keinginan yang kuat, serta dapat bermanfaat di kehidupan sehari-hari kita 🙂

PHOTO BY SCOTT WEBB FROM UNSPLASH

kemarin

photo-1501139083538-0139583c060fDear readers, selamat pagi!

Kemarin ini berat rasanya, perasaan saya campur aduk dalam berbagai macam hal. Saya diselamatkan oleh pekerjaan yang ternyata tidak terlalu sibuk, tapi bisa saya ubah pace nya menjadi agak sedikit sibuk. Saya juga terselamatkan karena adanya teman-teman kantor saya yang sangat supportif. Jika bukan karena Allah, yang menurunkan bala bantuannya melalui mereka, saya mungkin akan tersungkur tak mengerti harus bagaimana. Alhamdulillah

PHOTO BY UROŠ JOVIČIĆ FROM UNSPLASH

vacuum

photo-1457732815361-daa98277e9c8
I am trying to be the old self when reading is only to seek immense peace and tranquality. Thus, I can see books as my true escapism.
Recently I have been in rally, reading much faster than I used to be. The faster I read, the more I am eager to trigger myself to be able to read much faster. I then created this new cycles of inadequacy. And sadly yes, I have become SUCH competitive being.
In most of my times, I am always wondering how much enough is. How much of anything is enough? I, as someone who impersonate as a new emergence young adult, tend to say never enough in everything I have achieved. Not that I think that is wrong, but I am starting to find that this never-enough tendencies is stressed me out since everything is underlie by the materialistic philosophical thinking and action.
So the control has already been there, in my inner self. I am the one who need to stop my heart to want more than I should have. Sometimes, I am so afraid that if I keep these tendencies continuously, what I have already had will be suddenly vanished, left me with a vacuum, so intense that I can not avoid in all my life.
Lord I cant help myself, but so scared.

PHOTO BY MOLLY BELLE FROM UNSPLASH