para pekerja

by alinaun

Sixteen years on the streets and you can learn a lot. But all the wrong things, not the things you want to learn. Sixteen years on the streets and you see a lot, but all the wrong sights, not the things you want to see- S.E Hilton

tumblr_meukvdWbOC1rbtz1uo1_500

Jalanan memang selalu memberikan pelajaran yang berharga. Berbagai sisi kemanusiaan sering sekali dapat kita temukan jika kita memang ingin memperhatikannya. Karena bagaimanapun, hidup dan mati selalu menjadi tujuan dari jalanan-jalanan panjang yang diciptakan oleh manusia.  Bekerja untuk hidup, atau bekerja untuk mati, semuanya pasti akan selalu melewati jalanan sebagai penyambung diri manusia menuju hakekatnya masing-masing. Setidaknya itu yang saya sadari ketika bertemu orang-orang baru di jalanan. Memang secara kebetulan, pada dasarnya saya adalah tipe orang yang senang mengobrol. Alasannya bukan hanya karena saya cerewet, melainkan karena saya sering menemukan pelajaran berharga dari orang-orang baru tersebut.

Seperti kemarin misalnya, saat saya sedang menunggu kereta..

Seorang wanita paruh baya, barangkali seusia dengan ibu, berdiri di samping saya menunggu kereta di samping saya. Karena saya sadar jika ibi-ibu tersebut sering memperhatikan saya dan barang bawaan yang ‘agak’ ribet, saya berikan saja senyum tanda keramahan sewaktu saya menangkap pandangan beliau. Dari sana, tahulah saya siapa sebenarnya ibu-ibu itu.

Ibu tersebut bernama E, seorang pekerja honorer yang kantornya terletak di Cikini, Jakarta. Saat saya bertanya mau hendak ke mana beliau, beliau menjawab jika rumahnya di Bogor dan saat ini dia sedang menunggu kereta untuk pulang. Oke, sesungguhnya, kadang saya suka mengeluhi perjalanan pulangku yang melelahkan, membutuhkan waktu tempuh dan ongkos yang lumayan. Saya jadi harus berfikir berkali-kali lipat untuk mengeluh ketika saya mendengar cerita dari Ibu berinisial E ini.

Dengan segera, saya pun mengetahui banyak hal tentang ibu ini. Ibu E, mengaku jika di dalam sehari dia harus menghabiskan ongkos sebesar hampir 40 ribu rupiah. Sangat besar jika dibandingkan dengan penghasilan perbulannya yang hanya Rp.900.000,-. Bayangkan, artinya dengan 26 hari kerja, penghasilan yang dia dapatkan sama sekali tidak cukup, bahkan hanya untuk membiayai ongkos transportasinya yang mencapai Rp.1.000.000,- Lalu, kembali saya bertanya pada beliau, mengapa masih tetap bekerja di sana? Jawabannya mudah ditebak. Kadang-kadang mendapat bahan-bahan sembako yang cukup untuk menghidupi satu anak dan dirinya yang masih kecil selama hampir sebulan. Jika dilihat, pekerjaan ibu itu hanya cukup untuk memenuhi  kebutuhan hidupnya,. sementara untuk sisa kebutuhan lain, kadang-kadang kantornya akan memberikan tambahan uang yang nantinya dapat ia tabung untuk dapat digunakan kebutuhan lain.

Perlu waktu yang lama sekali untuk memaknai hal ini secara lebih mendalam. Tulisan-tulisan kemiskinan manusia dan perjuangan mereka untuk melawannya memang selalu menjadi isu yang tidak akan pernah habis dibahas oleh zaman. Namun, menemukan orang-orang seperti itu secara langsung memberi kesan yang berbeda pada diri saya. Terbiasa hidup dengan orang-orang berada membuat saya hanya melihat isu-isu sosial semacam itu sebagai kisah, bukan sebagai realita yang perlu diperbaiki karena menyangkut jalan tanggung jawab kemanusiaan. Jauh di dalam diri, saya menyadari jika keadaan ibu itu masih jauh lebih baik dari kenyataan buruk seperti yang ditampilkan di dalam media-media besar. Masih untung ibu tersebut dapat menabung. Masih untung ibu tadi dapat memenuhi kebutuhan keluarganya selama sebulan. Dibandingkan dengan kondisi beliau yang single mother itu, hidup saya jauh lebih baik dan beruntung. Dari sana, saya kira, pasti masih jauh lebih banyak orang yang menderita di jalanan. Persis seperti dengan apa yang dipercaya oleh fotografi ternama Kadir van Lohuizen. Berkata ia jika sesungguhnya “dunia ini bukan tempat yang menyenangkan bagi sebagian besar manusia.”

Lihat, jalanan memang selalu memberi pengetahuan kita akan realita hidup. Bukan hanya para pengendara umum seperti saya saja, tentu. Mereka yang hidup bergantung pada jalanan nyatanya pasti akan menemui pelajarannya masing-masing jika memang mereka ingin memperhatikannya. Dan sekarang, selanjutnya saya menantikan pelajaran apa lagi yang akan saya temukan di kemudian hari, di antara jalan-jalan panjang yang harus saya susuri menuju hakikat hidup yang kabur.