#2 a tale for the time being


Judul: a tale for the time being
Penulis: Ruth Ozeki
Penerbit: Viking Adult
Jenis: E-book
Bahasa: Inggris
ISBN: 0670026638
Tahun Cetak: 2013

Setelah sekian lama tidak menulis ulasan buku di sini, kali ini saya ingin mengulas salah satu buku menarik yang saya baca di awal tahun ini. Pertama kali melihat judul buku ini saya langsung tertarik, apalagi setelah buku ini ternyata masuk dalam nominasi dalam the Booker Prize, Goodreads Choice Nominee for FictionThe Kitschies for Red Tentacle (Novel)Paris Review Best of the Best, dan National book award di tahun 2013.

Apa yang Anda rasakan jika tiba-tiba menemukan sebuah buku harian yang ditulis oleh seseorang yang berniat untuk mengakhiri hidupnya? Ruth, salah seorang tokoh utama di novel ini, menemukan sebuah kotak makan Hello Kitty yang tersapu hingga tiba di pantai di dekat rumahnya. Di dalam kotak makan tersebut, sebuah buku harian ditulis oleh seorang gadis Jepang berusia 16 tahun bernama Nao Yasutani. Neneknya, seorang biksu berusia 104 tahun menjadi topik sentral yang ingin ia sampaikan kepada siapapun yang menemukan buku hariannya. Setidaknya, begitulah cara Nao berusaha menahan dirinya untuk tidak mengakhiri hidupnya sebelum ia selesai menuliskan seluruh yang diketahuinya mengenai neneknya.

Akibat kebangkrutan ayahnya, Nao dan keluarganya yang semula hidup di Amerika memutuskan untuk pindah ke Jepang. Ayahnya mengalami depresi hingga membuatnya beberapa kali melakukan percobaan bunuh diri. Selain itu sebagai murid pindahan, ternyata Nao mendapati situasi tak mengenakan ketika bersekolah. Seluruh temannya menggertak dan mengintimidasinya  hingga ia pun tidak memiliki teman seusianya. Hingga pada suatu hari, ibunya meminta Nao untuk tinggal bersama neneknya yang adalah seorang biksu berusia 104 tahun selama libur musim panas. Semenjak tinggal bersama neneknya itulah, Nao pun pelan-pelan berubah.

“A time being is someone who lives in time, and that means you, and me, and every one of us who is, or was, or ever will be.” – Nao Yasutani

A tale for the time being sebenarnya berkisah melalui sudut pandang dua orang yang memiliki kondisi dan latar belakang kehidupan berbeda. Ruth Ozeki dan Nao Yasutani dihubungkan oleh sebuah buku harian temuannya yang ditulis oleh Nao. Menurut saya, buku ini menawarkan dua sudut pandang, yakni sudut pandang Ruth dan sudut pandang Nao. Berlatar belakang di Kanada dan Tokyo dengan dimensi waktu sekarang dan tidak diketahui.  Kita bisa melihat interaksi antara penulis dan pembaca, yakni utamanya ketika Ruth sendiri begitu hanyut membaca buku harian Nao. Ia dibayangi oleh masa depan Nao setelah ia selesai menulis buku hariannya. Bagaimana pada saat yang bersamaan, ia sempat lupa bahwa apa yang ia baca mengenai Nao sesungguhnya telah menjadi masa lalu.

Where do words come from? They come from the dead. The ancient Greeks believed when you read aloud, it was actually the dead, borrowing your tongue in order to speak again

Di dalam buku ini juga dijelaskan sedikit mengenai The concept of archetype in anthropology. Ruth Ozeki yang adalah seorang novelis menjadikan dirinya sendiri sebagai tokoh utama di dalam bukunya. Ia menuliskan segala yang dipikirkannya serta mendiskusikannya dengan suaminya sekaan-akan ia memeng telah menemukan buku harian Nao. Apa yang ditulis oleh Nao pada akhirnya mempengaruhi makna pencarian hidup Ruth terhadap Budha. Ruth Ozeki sendiri  selain seorang novelis juga adalah seorang biksu wanita, di mana dalam bukunya, Ruth bukanlah seorang biksu. Hal ini adalah satu-satunya yang membedakan antara Ozeki dengan Ruth yang ada di dalam buku.

Buku ini sangat bagus dan brilian. Gaya penceritaannya pun tidak biasa. Saya merasa tulisannya cukup bergaya surealisme, yakni ketika di akhir tulisan Ruth menemukan halaman buku harian yang ditulis oleh Nao menghilang, meskipun ia yakin sebelumnya merasa masih ada tulisan di halaman tersebut. Hingga akhirnya ketika ia, entah bagaimana, memimpikan Nao dan Ayahnya hingga keesokan harinya ia menemukan kembali tulisan Nao di halaman yang sama. Siapa yang tahu, jangan-jangan mimpinya tersebut bisa mempengaruhi jalan dari kehidupan Nao?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s