Spotify wrapped 2019

Mumpung sedang booming Spotify Wrapped 2019, berikut ini kira-kira laporan tim data spotify tentang musik-musik yang dalam satu tahun belakangan ini paling sering saya dengar.

This slideshow requires JavaScript.

Melihat laporan mereka, baru sadar kalau saya semakin menggandrungi K-POP kira-kira semenjak Juni 2019. Padahal selama ini saya jarang sekali dengerin K-POP kecuali K-POP jaman DBSK, Big Bang, dan Girls Generation. Sampai akhirnya, genre musik klasik dan folk yang biasanya menjadi urutan teratas genre favorit akhirnya tergeser oleh genre Pop. Saya juga sering bertanya-tanya sendiri kok saya bisa suka banget sih dengan KPOP, padahal dulunya gak suka-suka amat. Untungnya, pertanyaan saya tadi cukup terjawab semenjak tanpa sengaja nemu artikel Why So Many Former Emos Are Now K-Pop Fans. Menurut artikel, ada dua alasan yang menyebabkan fans-fans musik Emo kenapa akhirnya bisa sangat menyukai KPOP. Yang pertama ialah karena kedua genre sama-sama merupakan musik anti mainstream yang mana kitalah yang harus berinisiatif untuk mulai mendengar jika ingin mengenal musik mereka, namun di sisi lain memiliki basis komunitas fans yang kuat.  Yang kedua adalah karena kedua genre sama-sama menyuarakan emosi secara jujur. Ada masa-masa ketika Linkin Park menjadi begitu terkenal dengan lirik-lirik mereka yang menginspirasi dan mampu menyemangati remaja-remaja galau pada masanya. Kalau sekarang, coba deh cek salah satu lirik lagu BTS misalnya yang berjudul Not Today. Kedua lagu tersebut sama-sama memberikan semangat emosional yang tinggi.

Musik sebenarnya memegang peran penting dalam kehidupan saya. Sampai-sampai, saya beneran gak bisa kebayang kalau saya gak dengerin lagu tuh rasanya pasti ada yang kurang. Karena alasan itu juga sebabnya saya sering bertanya-tanya dalam hati kira-kira ada faktor individu seperti apa di dalam diri saya yang mungkin memengaruhi preferensi musik.

Iseng, saya nemu artikel soal preferensi dalam bermusik individu di sini. Menurut riset, orang seringkali bersikap defensif dengan mengatakan kalau selera musik tidak ada kaitannya dengan kepribadian seseorang. Alasan orang terkadang merasa defensif tentang selera mereka dalam musik mungkin terkait dengan seberapa banyak hubungannya dengan sikap dan kepribadian. Peneliti juga menyarankan kalau biasanya orang-orang akan mulai mendefinisikan kepribadian mereka berdasarkan genre musik yang sering didengar hanya sebagai sarana untuk menghubung-hubungkan dengan kepribadian orang lain. Misalnya saya yang senang dengan pop folk biasanya sering mengira-ngira kalau mereka yang menyukai genre musik yang sama dengan saya barangkali juga suka musik setipe berjudul X dan Y. Kalau memang orang-orang itu terbukti suka, saya langsung mengira-ngira tentang alasan mereka suka. Apakah sama seperti dengan alasan saya? Penelitian North tadi menunjukkan hubungan yang sering dilakukan orang-orang antara siapa mereka sebagai individu dan selera musik mereka.

Lanjut ya, uniknya lagi saya nemu beberapa peneliti yang mulai berani mengkategorikan tipe-tipe kepribadian seseorang berdasarkan genre musik yang didengar. Jadi kalau berdasarkan riset ini, ini, dan yang tadi, kira-kira gambaran kepribadian seseorang berdasarkan genre musik seperti di bawah ini.

  1. Pop: Katanya sih penyuka Pop dianggap sebagai pekerja keras dan memiliki harga diri yang tinggi. Peneliti juga menyarankan bahwa mereka cenderung kurang kreatif dan lebih gelisah
  2. Rap: Penggemar rap cenderung memiliki harga diri yang tinggi dan biasanya lebih outgoing.
  3. Country: lagu country sering berpusat pada cerita-cerita tentang patah hati. Uniknya orang yang condong menyukai genre ini dapat dikatakan lebih stabil secara emosional. Mereka juga cenderung lebih konservatif dan memiliki tingkat keterbukaan yang lebih rendah terhadap pengalaman.
  4. Heavy Metal: Berbeda dari anggapan banyak orang jika mereka yang menyukai Heavy Metal atau Rock adalah intens dan agresif, mereka sebenarnya cenderung lembut, cenderung mellow, dan memiliki elf-esteem yang rendah.
  5. Klasik: Musik klasik dikaitkan dengan sifat-sifat seperti rasa ingin tahu, nilai-nilai politik liberal, dan kecerdasan
  6. Jazz/Blues: Jazz adalah genre musik yang luas dan beragam, terdiri dari beberapa subgenre, dari Dixieland, swing, dan bebop, hingga modal, gratis, dan fusion. Ada juga konotasi sosial yang didefinisikan dengan jelas, atau stereotip, yang terkait dengan penggemar musik jazz: pendengar jazz diyakini kreatif, santai, dan introspektif.

Meskipun genre musik sebenarnya mewakili artis/musik yang kebanyakan dikenal, terkadang kita masih suka bingung sendiri kalau diminta untuk mengkategorikan genre. Misalnya, lagu-lagu yang dinyanyikan oleh Frank Sinatra dapat digolongkan ke dalam salah satu kategori seperti Populer, Vokal Pria, Band, Swing, Broadway, atau Jazz. Ada juga AC / DC dan Van Halen yang pernah dianggap sebagai Heavy Metal tetapi sekarang mulai dianggap sebagai Classic Rock. Mungkin ini juga yang menyebabkan pengukuran/penilaian kepribadian yang semata-mata didasarkan pada label genre akan cenderung vague sehingga dirasa tidak terlalu tepat.

Nah, menurut kalian setelah melihat musik yang belakangan saya dengar dan penjelasan singkat dari hasil studi mengenai kepribadian dan preferensi musik, saya memiliki tipe kepribadian yang seperti apa?

Photo by Malte Wingen on Unsplash

Author: Lina Kariim

under my pen name, i write.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s