Quarantine readings

Lately has become strange weeks to me and everyone around me. I spent three weeks between Semarang and Magelang for I was about to check on the new asset my company plan to purchase and getting a semi locked down since it is much better to stay at the city rather than travelling back to back from Jakarta.

For some reasons I manage to find, again, comforts in reading. On a serious note, I enjoy reading but a few years back I am trying to change my reading habits into something more meaningful for not only myself. Usually I read for fun, sometimes I want to read for learning. I have break down the lists on my twitter but here I want to write a much simpler recommendation.

  1. The evolution of desire. I am actually reading this book which is about various research on human mating that had ever been published. The author outline the structured idea with the support of the already exist research so readers will grasp the messages he is pointing out. It starts with the women and men preferences. It is funny that somehow the common logic always wins, maybe because they simply  portrait the human raw natures LOL
  2. Girl, Woman, Other. This is a good novel and it raises timeless issues like how do feminist women have relations with men? How did women adapt over times or in a patriarchal world that was so massively believed. All the time, the construction of gender bias have become normal issues talk by women. People are growing over times, however, I do not understand why women in specific are still facing the same problems. With the beautiful narration written in a fiction form, this book is not only entertain me, but also remind me of the constantly same probs faced by women in society.
  3. Digital Minimalism. Again, this is a popular book which is suitable for people who want to reduce the use of social media. Or those who want lifestyles that don’t really often exposed to digitisation. the author himself is a professor in computer sciences so it should be pretty much describe the current circumstances well without adding unnecessary infos. Since I am not someone with an IT background, this book is quite giving me some inights I have never known before.

In the mean time, I am also considering reading the following books for the next two weeks:

  1. The age of surveillance capitalism. Briefly I got from reading its excerpt is this book maybe will answer why and how we readily give up our personal information for ‘simply’ the sake of business. In the end, our privacy must facilitate digital interaction and it also has capacity to change the economy.
  2. Black Swan: The Impact of the Highly Improbable. With all the fuss of COVID-19, I am reminded of the book that had been a part of my piling lists back then when I was still a freshman, which is, abour 10 years ago. Everyone always says that swans are always white. This is an undeniable fact based on hundreds of years experiences plus even maybe researches. When the Australian continent was discovered, people discovered the existence of black swans. It turns out that indeed there is very rarely a black swan, one in a million. This discovery illustrates how insular we are in our observations and the vulnerability of science. All that is needed to prove the theory of the all white swans, is only a black swan.

I should say, I don’t do WFH. There are some days I am still needed to go to office. Things won’t be too strict in term of the government policy it seems, so as long as there are some cracks and the potential of employees to keep going for works, there won’t be WFH for me LOL.  Only I take a mental note that I wouldn’t be able to meet my family for the time being.

FEATURED PICTURE IS NOT MINE

#26 Men without women

MenWithoutWomen_Hardcover_1-789x1024

Judul : Men without women
Penulis : Haruki Murakami
Penerbit : Harvill Secker
Tahun cetakan : 2017
Jenis : Paperback
Rating: 5/5 (Bias karena saya penggemar Murakami)

It’s quite easy to become Men Without Women. You love a woman deeply, and then she goes off somewhere.

Cinta itu tidak pernah mudah, namun cinta yang tidak tergesa-gesa juga adalah penderitaan. Setidaknya kalimat pembuka tadi menjadi kesimpulan sesaat setelah selesai membaca kumpulan cerpen di sini. Buku ini merupakan koleksi tujuh cerita pendek yang beberapa dapat dibaca secara daring di situs The New Yorker. Koleksi cerita pendek di sini umumnya adalah cerita yang dapat dikatakan menyedihkan, yang mengandung kenyataan pahit dari pengalaman-pengalaman, yang setidaknya, akan dirasakan oleh sebagian orang saat menghadapi penolakan. Yang menarik, tema Men without women di buku ini bukan berarti menggambarkan perasaan-perasaan pria pasca kehilangan yang mengerikan terhadap sang wanita yang sebelumnya. Ini jelas bukan koleksi cerita yang dipenuhi tentang pria putus asa. Sebaliknya, yang kita temui di sini adalah pria-pria normal, sederhana, yang beberapa dapat dikatakan berhasil secara karir dan finansial, ada yang berhasil menikahi wanita yang mereka sayangi, ada yang justru kehilangan, atau ada juga yang untuk pertama kalinya akhirnya dipertemukan. Mereka kemudian harus melanjutkan cinta mereka setelah hal seperti itu.

Yang paling saya segani dari Murakami ketika menulis ialah menyoal bagaimana para lelaki yang menjadi tokoh di sini memutuskan cara mereka untuk menghadapi persoalan yang mereka alami, yang mana di sini adalah, persoalan mengenai wanita di hidup mereka. Hal yang paling ekstrim dilakukan oleh salah seorang tokoh pria di sini ialah ia benar-benar tidak bisa hidup, dan keinginan untuk hidupnya mati begitu wanita yang sangat ia cintai rupanya tidak memberikan cinta yang sama dengan yang ia berikan. Sekali lagi, para pembaca Murakami tentu tau jika tokoh-tokoh pria di dalam cerita Murakami dari dulu sudah cukup tipikal, yakni secara emosional mereka adalah lelaki normal yang menghadapi situasi-situasi yang agak rumit untuk dipahami, atau setidaknya, baru dapat pelan-pelan mampu dipahami seiring berjalannya waktu.

If a woman was very beautiful but had nothing to say, or no opinions of her own, Tokai became discouraged. No operation could ever improve a woman’s intellectual skills. (hal.81)

Meski sebelumnya saya bilang kalau tokoh-tokoh Murakami di sini semuanya begitu mirip dan sangat tipikal, beberapa variasi yang paling jelas terlihat di sini ialah level hubungan antara sang lelaki dengan sang wanita. Ada yang telah bercerai, ada yang sudah menikah, ada yang memang literally kesepian, ada yang masih berpacaran, ada yang sudah duda, bahkan ada pria yang tiba-tiba bermetamorfosis. Berbagai level hubungan tadi menurut saya merupakan bagaimana cara Murakami menjangkau seluruh lelaki, bahwa yang dapat merasakan perasaan pahitnya penolakan bukan hanya laki-laki yang belum memiliki pasangan, tetapi juga laki-laki manapun itu dapat merasakan bahwa akan ada potongan puzzle di hati mereka yang hilang ketika mereka hidup tanpa wanita.

Bagi saya, membaca Murakami memang sedikit bisa memberikan kenyamanan dari lelahnya hidup sendiri. Tulisan Murakami bagi saya selalu terasa seperti sihir yang Indah mulai dari diksi, gaya penulis, serta ungkapan rasa yang dia tuangkan benar-benar membuat hati saya nyaman. Ia menjadikan objek rasa kesepian dan kesendirian yang dialami oleh manusia begitu indah dan nyaman untuk dirasakan. Sayangnya, justru karena itulah saya pelan-pelan menghindar untuk membaca buku-bukunya. Lha wong sangat sulit diterima akal, bagaimana bisa kesepian dan penolakan yang dirasakan bisa membuat pembaca yang membacanya justru merasa dibuai dengan keindahan? Karena sangat tidak masuk di akal, saya mengkhawatirkan diri saya setiap kali terbuai dengan gaya bahasa di buku-buku Murakami.

That’s what it is like to lose a woman. And at a certain time, losing one woman means losing all women. That’s how we become Men Without Women.

Setiap kali membaca tulisan Murakami, tidak jarang juga saya selalu merasa kalau tokoh di dalam cerita Murakami, juga mengandung keputusasaan. Saya tidak tahu, tetapi sebenarnya bagi saya yang perempuan, tokoh-tokoh Murakami (yang adalah lelaki) seperti perlu dikasih sentuhan kasih sayang yang tulus, diberi motivasi jika life must go on no matter how hard it is to lose someone so dear to you. Lebih seringnya lagi, kalau saya sedang sedikit gak sabaran, ingin sekali rasanya menampar wajah para tokoh-tokoh di buku ini kalau keputusasaan itu tidak pernah baik kalau terlalu lama dipelihara. Namun kembali lagi, Murakami tetaplah Murakami. Tulisannya seakan-akan memang hadir untuk membuai kekosongan dan kesepian hati yang dirasakan oleh sebagian besar manusia, entah agar mereka merasa terobati atas sendirian yang mereka rasakan, atau justru sengaja membuat mereka semakin hanyut dalam kesepian.

PHOTO BY RYOJI IWATA FROM UNSPLASH

#25 Lean in: Women, Work, and the Will to Lead

IMG_20180514_085115

Judul : Lean in: women, work, and the will to lead
Penulis : Sheryl Sandberg
Penerbit : Alfred A. Knopf
Cetakan : 2013
Tebal : 165 halaman Rating: 4/5

Saya sudah ingin sekali mengulas buku ini semenjak membacanya beberapa tahun yang lalu. Keinginan itu lantas tertunda hingga Sheryl Sandberg menerbitkan buku keduanya yang bertema ‘losing’ kira-kira dua tahun setelah suaminya meninggal.

“When a girl tries to lead, she is often labelled bossy. Boys are seldom called bossy because a boy taking the role of a boss does not surprise or offend. As someone who was called this for much of my childhood, I know that it is not a compliment. The stories of my childhood bossiness are told (and retold) with great amusement.”

Membaca paragraf di atas membuat perasaan saya begitu campur aduk. Di satu sisi saya merasa sangat sedih karena apa yang diungkapkan oleh Sandberg benar-benar sesuai dengan kenyataan, di sisi lain, saya terus mengangguk begitu keras dan kadang-kadang saya merasa seperti dihantam oleh kenyataan bahwa apa yang ingin saya lakukan begitu sulit dan dipandang begitu kejam oleh kebanyakan orang, tidak terkecuali oleh para perempuan sendiri. Itulah dampak beberapa bab pada saya.

Sebagai perempuan, sering kita dihadapkan pada bentuk pilihan antara karir dan keluarga, antara karir dan rencana ketika setelah menikah, antara karir dan menjadi ibu rumah tangga. Pilihan-pilihan ini, secara tidak langsung mempengaruhi potensi perempuan di dunia kerja. Acapkali, mereka akan terdiam sejenak, lalu memilih untuk bertahan agar tidak menjadi yang terlalu menonjol karena mereka memikirkan kemungkinan-kemungkinan semacam promosi, penambahan pekerjaan berpotensi mengurangi waktu bersama keluarga, serta lain sebagainya. Menariknya, Sandberg menambahkan banyak sekali riset yang umumnya dipublikasikan di Harvard Business Review yang sebagian besar menunjukkan tindakan-tindakan seperti inilah yang membuat perempuan pada umumnya menahan diri mereka sendiri untuk mencapai posisi penting di perusahaan. Perempuan yang berani mengembangkan diri di karir bukan berarti tidak akan bisa menjadi panutan bagi keluarga. Kepada perempuan yang sudah berkeluarga namun ingin mengembangkan bisnis/skill baru, jangan takut untuk memulai. Sandberg berulang kali menekankan bahwa keberhasilannya di dalam keluarga merupakan hasil dari bentuk kerja sama, partnership, dengan sang suami yang saat itu juga memiliki posisi sebagai CEO perusahaan Survey Monkey. Saya menemukan bahwa Sandberg memberikan suara yang jelas, relevan, penting mengenai masalah kepemimpinan dan kesetaraan bagi perempuan dan laki-laki, serta pemahaman untuk orang tua yang bekerja baik di dalam dan di luar rumah.

Sheryl Sandberg menjadi sosok perempuan yang dianggap berhasil dalam membagi kehidupannya baik dalam lingkup keluarga maupun pekerjaan. Posisi beliau saat ini ialah Chief Operating Officer Facebook, setelah sebelumnya menjadi Wakil Presiden Global Online Sales and Operations di Google. Selesai menulis buku ini, Sandberg menjadi salah satu perempuan paling berpengaruh di dunia serta istilah “Lean in” menjadi kata yang sangat kuat untuk menunjukkan bentuk empowerment pada seluruh perempuan di dunia.

Sebagai seseorang yang bekerja di korporasi, apa yang dialami oleh Sandberg sangat nyata saya alami. Bahwa bagaimana seorang pemimpin perempuan masih dianggap sebelah mata karena adanya tendensi emosional yang dibawa oleh perempuan, menjadikan kebanyakan orang merasa jika menjadi seorang perempuan sekaligus pemimpin di posisi strategis perusahaan, bukan sebuah ide yang baik, jika tidak ingin disebut sebagai terlalu berisiko. Dalam hal ini, Sandberg melakukan pendekatan melalui bentuk kepemimpinan Autentik, authentic leadership, yakni suatu bentuk pendekatan yang mana penekanannya ialah untuk membangun legitimasi pemimpin melalui hubungan yang jujur dengan pengikut yang memberikan value pada masukan-masukan mereka serta dibangun atas dasar etika.

Buku ini adalah bacaan wajib tidak hanya untuk perempuan, tetapi juga untuk para laki-laki. Semoga buku ini segera dialihbahasakan ke dalam bahasa Indonesia agar semakin banyak orang Indonesia yang membacanya.

Setelah membaca buku ini, saya menemukan versi Ted Talks yang menurut saya bisa menjadi pembuka mengapa membaca buku ini sangat perlu, bukan hanya bagi perempuan.

 

a major shoutout to the recent muslimah meme

WhatsApp Image 2019-07-28 at 23.00.24.jpeg

sumber: IG Kalis Mardiasih

Keputusan untuk mengulas kembali buku ini sebenarnya karena ada trigger dari sebuah akun muslimah yang mendiskreditkan bahwa karir terbaik perempuan ialah sebagai ibu rumah tangga, serta bayaran terbaiknya ridho suami, dan prestasi terbaiknya adalah mencetak anak sholeh.

Sebelum memutuskan untuk melanjutkan sekolah, beberapa orang, baik teman maupun keluarga, banyak yang mempertanyakan perihal pendidikan yang tinggi bagi perempuan yang masih lajang akan mempersulit mencari pasangan. Bagi saya, perihal jodoh itu rejeki Tuhan aja, sih. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah dengan saya menunda untuk sekolah maka saya sudah pasti akan memperoleh pasangan yang sudah pasti akan menikahi saya? apakah dengan memilih untuk tidak menerima tawaran karir akan memastikan saya untuk bertemu dengan pasangan yang akan siap menikahi saya? jawabannya adalah belum tentu. ketidaktentuan itulah pada akhirnya yang membulatkan saya untuk tetap mengejar karir dan pendidikan.

Meme menyoal karir terbaik seorang perempuan adalah ibu rumah tangga merupakan salah satu hal dari ada banyak sekali hal mengenai perempuan yang menurut saya sangat tidak tepat karena yang terpenting ialah membiarkan para perempuan menentukan pilihannya sendiri.

FEATURE PHOTO BY DENYS NEVOZHAI FROM UNSPLASH

#24 Factfulness

51tvugRSHKL._SX322_BO1,204,203,200_

Judul: Factfulness: Ten Reasons We’re wrong about the world – and why things are better than you think
Penulis : Hans Rosling
Penerbit : Sceptre
Cetakan : 2018
Tebal : 297 halaman

Pertama kali mengenal Hans Rosling ialah ketika saya membaca halaman The Guardian yang berada di bawah rubrik Informations are beautiful, sebuah rubrik visualisasi data yang belakangan setelahnya baru saya ketahui digarap bersama Gap Minder, yakni sebuah alat(tools) untuk memvisualisasikan data statistik menjadi lebih berwarna dan mudah untuk dipahami.

Premis dari buku ini berawal dari kesalahpahaman orang-orang mengenai dunia serta bagaimana Hans Rosling berusaha menjawab kesalahpahaman-kesalahpahaman, yang di sini disebut sebagai mitos, tersebut melalui fakta statistik. Yang menjadi masalah ialah, kebanyakan dari kita, termasuk di dalamnya para ahli, memiliki pandangan yang sangat salah terhadap dunia, jika dibandingkan satu sama lain dari data statistik.  Sebagai sebuah perbandingan, jika secara statistik negara berkembang dan negara maju ditampilkan, maka yang akan terlihat ialah seperti ilustrasi berikut, yakni Tren Jumlah Anak yang dilahirkan per Wanita dan Anak yang Bertahan Hidup (trend for number of children per women and surviving child). 

Gambar 1. trend for number of children per women and surviving child in 1965 and 2018

Jika dilihat dari ilustrasi grafik di atas, angka kematian bayi pada tahun 1965 begitu tinggi terjadi di negara-negara berkembang, namun kini di tahun 2018, angka kematian bayi menurun sangat drastis dibandingkan dengan data sebelumnya yang dikumpulkan pada tahun 1965. Dari grafik ini terlihat bahwa anggapan bahwa angka kematian bayi yang tinggi rupanya tetap menjadi berkurang dibandingkan apa yang kita selama ini anggap selalu tinggi dan tidak ada perbaikan.

Kerangka pikir lain yang saya anggap salah satu yang paling menarik berikutnya ialah bagaimana Hans Rosling, berdasarkan besar penghasilan, membagi negara menjadi empat kelompok, ketimbang membaginya menjadi negara miskin (poor countries) dan negara kaya (rich countries).

Gambar 2. Empat grup negara berdasarkan penghasilan per kapita

Berdasarkan kerangka pikir yang ditetapkan oleh Hans Rosling, dapat dikatakan jika satu miliar orang di Level 1 menghasilkan $ 0– $ 2 / hari. Tiga miliar orang di Level 2 menghasilkan $ 2– $ 8 / hari. Dua miliar orang di Level 3 menghasilkan $ 8– $ 32 / hari. Dan satu miliar orang di Level 4 menghasilkan lebih dari $ 32 / hari.  Jika kita lebih mengacu pada data mengenai tingkat kemiskinan berdasarkan kerangka pikir jika negara-negara dibagi menjadi dua kelompok besar negara berkembang dan negara maju, maka grafik yang akan terlihat ialah seperti berikut.

Gambar 3. Jumlah orang yang hidup di bawah garis kemiskinan dan tidak

Sementara itu, jika kita melihat angka kemiskinan dibandingkan dengan kerangka empat kelompok yang diajukan oleh Hans Rosling, maka yang akan terlihat ialah sebagai berikut.

Gambar 4. Membandingkan angka kemiskinan penduduk dunia pada tahun 1821 dan 2015

Jika dilihat dari perbandingannya, maka pengelompokkan yang dilakukan Hans Rosling dapat dikatakan lebih mendetail dibandingkan dengan data dengan pengelompokkan hanya dua kelompok. Di dalam bukunya, Hans Rosling mengatakan jika,

…Human history started with everyone on Level 1. For more than 100,000 years nobody made it up the levels and most children didn’t survive to become parents. Just 200 years ago, 85 percent of the world population was still on Level 1, in extreme poverty… It’s where the majority always lived, until 1966. Until then, extreme poverty was the rule, not the exception.

Bagaimanapun, saya seorang yang cukup analitis, jadi saya jarang menyimpulkan secara ekstrem suatu fenomena sebelum saya menganalisisnya terlebih dahulu secara sadar ataupun tidak. Tapi tetap saja, ketika ditanyai sebagian besar pertanyaan-pertanyaan umum yang ditulis di dalam buku ini, saya rupanya juga menjawab sebagian besar pertanyaan berbasis fakta tersebut dengan salah. Setelah membaca buku ini, saya merasa jika saya bisa menggunakan metode ini untuk memahami kekuatan dari akumulasi pebaikan-perbaikan yang meskipun skalanya kecil, jika dilakukan secara konsisten terus-menerus, maka akan memiliki dampak signifikan pada jangka panjang. Saya juga belajar bagaimana melakukan filter cerita-cerita yang menutupi fakta dari beberapa sumber menarik yang Hans Rosling juga sertakan jikalau pembaca seperti saya tertarik untuk mencari fakta yang lebih mendalam.

Sumber:

GAP MINDER ON DATA VISUALIZATION OF INCOME LEVEL

WORLD POPULATION LIVING IN POVERTY

FEATURED PHOTO BY ALEXANDER SCHIMMECK FROM UNSPLASH

a week before the school starts

I honestly have no idea what to do once the school started. I am currently still struggling about the business value that will be formed in the next two years, that is practically the reason why I’ve decided to start school in Magister of Management.

Now I start reading a book titled Change, written by Rhenald Kasali for I think it wouldn’t be hurt in getting to know the teacher you will meet.  My office has a quite numerous of books I think I need and I am glad since this should help me a lot later. So far, the book tries to tell readers that even for company, they need to grow like how living things grow. The good company is a company which is able to grow and adapt toward the rapid developing era. The older the age of a company, the more proving the company’s resilience in facing various business challenges. I did this brief research about the age of companies in Indonesia listed in IDX Jakarta and found out that the oldest are no more than 50 years, whilst there are some companies listed in Fortune 500 which age are more than 200 years. I understand that we could not compare the circumstance in Indonesia and in US, however what I really want to emphasize is the fact that of so many companies founded in between 1600-1800th, there are no more than 100 companies which are still existed until today.

Indonesia is indeed still have prospect for the future, but what I’ve learned through this book is that the living companies will always pass the s curve, meaning, they will always start their companies from zero, then going up to the maybe the highest level of margin the companies ever had, but then, before they are starting to reach the bottom level of the curve, they need to think how to, instead let alone the company’s level is going down, increase the companies performance so they could keep going up.

Corporate Life Cycles

No matter how good the copanies, theu will always be facing the fact that they will be one day need to improve or they will die someday. Ben Horowitz, one of the tycoon in Silicon Valley once said in his book titled The hard thing about hard things said that being a good company is an end in itself so the management have to think how to build a good company which will always grow.

PHOTO BY FERRAN FUSSALBA ROSELLO’ FROM UNSPLASH

cerita tentang sang Imam

Dear readers,

Pertama-tama, saya minta maaf jika belakangan, konten tulisan-tulisan saya di sini lebih bertemakan religius dibandingkan sebelumnya. Sebenarnya, saya sudah memiliki wadah menulis hal-hal yang sifatnya religius di tumblr, namun karena saya adalah salah satu pengguna tumblr generasi pertama di Indonesia (ini kok jadi kaya nyombong, sih) jadi baru saya sadari kalau pengikut saya di tumblr jauh lebih banyak dibandingkan pengikut saya di blog ini :’) Lagipula, saya sudah menseting blog ini agar tidak terlacak di laman gugel sehingga saya merasa lebih aman menulis pikiran dan curahan hati di sini.

Baiklah, saya cukupkan saja pembukaannya sebelum terlanjur melantur lebih panjang.

Kali ini, saya ingin menulis tentang seorang Imam yang sangat saya kagumi. Bagi pembaca yang sudah mengenal diri saya secara personal, atau setidaknya sudah membaca tulisan saya sebelum ini, pasti sudah mengetahui kalau saya sangat mengagumi Imam Al Ghazali. Singkatnya, sebagai muslim yang berusaha untuk taat, saya mengenal ada empat imam yang mazhabnya diikuti oleh sebagian besar masyarakat muslim di dunia. Sebenarnya ada lebih dari empat Imam, namun seiring dengan berkembangnya zaman, pengikut Imam lainnya sudah habis regenerasinya hingga menyisakan hanya empat Imam dengan pengikut terbesar. Keempat Imam tersebut ialah Imam Hanafi, Imam Maliki, dan Imam Syafi’i, dan Imam Hanbali.

Lalu di mana letak Iman Al Ghazali?

Tenang, Imam Ghazali bukanlah Imam yang mahzabnya harus diikuti oleh masyarakat muslim. Dia sendiri tidak pernah menghendaki itu. Dengan tegas beliau mengatakan jika ia adalah pembela nomor satu Imam Syafi’i. Jadi, apapun yang ia tulis, tidak lain dan tidak bukan untuk mendukung apa yang Imam Syafi’i yakini. Di dalam tulisan ini, saya hanya akan menuliskan awal mula perkenalan saya dengan sang Imam dan bagaimana saya mulai mengagumi beliau.

Pada suatu hari di bulan Ramadhan, Ayah saya membacakan saya salah satu kitab yang ditulis oleh Ghazali. Lembaran kitab itu berwarna kuning, berbahasa arab dan berhuruf gundul. Bab yang ia bacakan ialah bab mengenai puasa. Karena mendengarnya sangat menarik, isi nya tidak serta-merta sama seperti ceramah tentang Puasa pada umumnya ketika menghadiri shalat tarawih berjamaah, saya penasaran dengan bukunya dan ingin sekali mengetahui isinya lebih dalam. Singkat cerita saya berhasil mendapatkan bukunya dengan cuma-cuma. Berikut ini ialah ulasan singkat mengenai kekaguman saya terhadap buku beliau yang judulnya, Ihya Ulumuddin, atau Al – Ihya. Awalnya, Ghazali menulis buku ini lantaran sudah terlalu banyak aliran islam di masanya karena adanya pengaruh-pengaruh pemikiran filsafat baru, Ihya Ulumuddin artinya ialah The revival of religious science. Al Ghazali ingin agar agama islam kembali pada asalnya, dalam hal ini, berpatokan pada mazhab Fiqh yang diikutinya.

Harus saya akui kalau buku ini belum sepenuhnya saya habiskan sehingga yang saya nilai di sini lebih bagaimana cara penulisan Al Ghazali ketika menulis kitab ini. Lagipula, jika saya harus mengulas dari segi konten, itu sangatlah sulit. Buku Ihya Ulumuddin sendiri menjadi salah satu kitab tertinggi yang dipelajari di pesantren-pesantren salaf sehingga ilmu saya jelas gak nyampe kalo harus mekso mengulas kontennya.

1. Kontennya sistematis

Al Ihya terdiri dari empat jilid. Setiap jilid masing-masing terdapat sepuluh Bab. Setiap Bab disusun berdasarkan logika yang sistematis, logika ilmu pengetahuan. Tidak aneh jika buku ini sering dijadikan acuan serta sasaran kritik dan penelitian oleh para ilmuan muslim. Berikut ini saya tampilkan konten dari tiap buku Al Ihya.

 

 

This slideshow requires JavaScript.

Dari konten yang dipaparkan di dalam setiap Bab, menurut saya cukup berurut, apalagi jika diingat pada zamannya kaidah ilmu pengetahuan tidak seberkembang masa sekarang. Bagaimana buku Al-Ihya diawali dengan Bab ilmu serta diakhiri dengan Bab menyoal kematian. Sejauh ini, saya hanya membaca Buku 1, dan itu pun tidak berurut, melainkan bergantung pada mood, jelas jika apa yang saya dapatkan dari membaca hanya sebatas sebagai pengetahuan saya dan bukan sebagai dasar saya untuk memaksa orang untuk satu pemikiran dengan saya.

2. Penulisannya pun sangat sistematis

Bagi beberapa ahli agama modern, tidak jarang yang mengkritik bahwa Buku Al Ihya sangatlah lemah karena sering memasukkan hadist-hadist yang tingkatannya dhaif, bahkan beberapa dibilang palsu.

Dhaif itu urusan para Ahli Ilmu Hadist. Di sini saya hanya ingin menunjukkan bagaimana beliau menuliskan pemikirannya.

Di setiap sub bab yang beliau tulis, akan diawali oleh ayat-ayat Quran yang membahas sub bab tersebut, lalu diikuti dengan seluruh hadist sahih yang membahas mengenai sub bab, hadist di bawah sahih, hingga yang dianggap dhaif. Tidak ada satupun pendapat pribadi yang sang Imam masukan. Berikut ini saya tampilkan tujuh halaman yang membahas mengenai Pentingnya Ilmu (Excellence of Learning). 

 

This slideshow requires JavaScript.

Membaca buku Al Ihya memang bagus sebagai pengetahuan, tetapi saya tidak berani memaparkan isi yang telah saya baca karena khawatir apa yang saya pahami dari setelah membaca buku ini rupanya kurang tepat. Bahkan di pesantren yang jelas-jelas membacanya pun dituntun oleh guru pun, masih perlu beberapa rangkaian tes untuk menilai apakah mereka yang telah diajari isinya ini paham betul, atau setengah paham. Ini untuk menghindari kesalahan penyampaian ilmu ke orang berikutnya.

Terakhir, ayah saya selalu mewanti-mewanti jika ingin belajar agama haruslah berhati-hati dan harus dengan guru. Ibaratkan dengan ilmu Hadist, belajar Agama pun perlu sanad. Kita berguru dengan Ustadz A, karena Ustadz A jelas berguru dengan Ustadz B, begitu seterusnya hingga sampai ke Nabi Muhammad SAW. Diskusi soal agama tentu dibolehkan, namun ketika dihadapkan pada pilihan-pilihan yang harus sesuai agama atau tidak, ikutilah ulama yang jelas-jelas mengabadikan hidupnya untuk murni belajar agama. Sebisa mungkin kita hampir tidak bisa berpatokan pada akal serta apa yang kita baca karena kita hanyalah orang awam yang mana belajar agama bukan menjadi hal utama di dalam hidup kita. Untuk itulah ada istilah taqlid, taqlid pada ulama-ulama yang sudah ber-ijtihad. Memilih ulama pun perlu berhati-hati, telusuri siapa guru dari ulama yang ingin kita ikuti. Jika tidak jelas sanadnya, maka jangan dijadikan patokan yang mutlak.