#26 Men without women

MenWithoutWomen_Hardcover_1-789x1024

Judul : Men without women
Penulis : Haruki Murakami
Penerbit : Harvill Secker
Tahun cetakan : 2017
Jenis : Paperback
Rating: 5/5 (Bias karena saya penggemar Murakami)

It’s quite easy to become Men Without Women. You love a woman deeply, and then she goes off somewhere.

Cinta itu tidak pernah mudah, namun cinta yang tidak tergesa-gesa juga adalah penderitaan. Setidaknya kalimat pembuka tadi menjadi kesimpulan sesaat setelah selesai membaca kumpulan cerpen di sini. Buku ini merupakan koleksi tujuh cerita pendek yang beberapa dapat dibaca secara daring di situs The New Yorker. Koleksi cerita pendek di sini umumnya adalah cerita yang dapat dikatakan menyedihkan, yang mengandung kenyataan pahit dari pengalaman-pengalaman, yang setidaknya, akan dirasakan oleh sebagian orang saat menghadapi penolakan. Yang menarik, tema Men without women di buku ini bukan berarti menggambarkan perasaan-perasaan pria pasca kehilangan yang mengerikan terhadap sang wanita yang sebelumnya. Ini jelas bukan koleksi cerita yang dipenuhi tentang pria putus asa. Sebaliknya, yang kita temui di sini adalah pria-pria normal, sederhana, yang beberapa dapat dikatakan berhasil secara karir dan finansial, ada yang berhasil menikahi wanita yang mereka sayangi, ada yang justru kehilangan, atau ada juga yang untuk pertama kalinya akhirnya dipertemukan. Mereka kemudian harus melanjutkan cinta mereka setelah hal seperti itu.

Yang paling saya segani dari Murakami ketika menulis ialah menyoal bagaimana para lelaki yang menjadi tokoh di sini memutuskan cara mereka untuk menghadapi persoalan yang mereka alami, yang mana di sini adalah, persoalan mengenai wanita di hidup mereka. Hal yang paling ekstrim dilakukan oleh salah seorang tokoh pria di sini ialah ia benar-benar tidak bisa hidup, dan keinginan untuk hidupnya mati begitu wanita yang sangat ia cintai rupanya tidak memberikan cinta yang sama dengan yang ia berikan. Sekali lagi, para pembaca Murakami tentu tau jika tokoh-tokoh pria di dalam cerita Murakami dari dulu sudah cukup tipikal, yakni secara emosional mereka adalah lelaki normal yang menghadapi situasi-situasi yang agak rumit untuk dipahami, atau setidaknya, baru dapat pelan-pelan mampu dipahami seiring berjalannya waktu.

If a woman was very beautiful but had nothing to say, or no opinions of her own, Tokai became discouraged. No operation could ever improve a woman’s intellectual skills. (hal.81)

Meski sebelumnya saya bilang kalau tokoh-tokoh Murakami di sini semuanya begitu mirip dan sangat tipikal, beberapa variasi yang paling jelas terlihat di sini ialah level hubungan antara sang lelaki dengan sang wanita. Ada yang telah bercerai, ada yang sudah menikah, ada yang memang literally kesepian, ada yang masih berpacaran, ada yang sudah duda, bahkan ada pria yang tiba-tiba bermetamorfosis. Berbagai level hubungan tadi menurut saya merupakan bagaimana cara Murakami menjangkau seluruh lelaki, bahwa yang dapat merasakan perasaan pahitnya penolakan bukan hanya laki-laki yang belum memiliki pasangan, tetapi juga laki-laki manapun itu dapat merasakan bahwa akan ada potongan puzzle di hati mereka yang hilang ketika mereka hidup tanpa wanita.

Bagi saya, membaca Murakami memang sedikit bisa memberikan kenyamanan dari lelahnya hidup sendiri. Tulisan Murakami bagi saya selalu terasa seperti sihir yang Indah mulai dari diksi, gaya penulis, serta ungkapan rasa yang dia tuangkan benar-benar membuat hati saya nyaman. Ia menjadikan objek rasa kesepian dan kesendirian yang dialami oleh manusia begitu indah dan nyaman untuk dirasakan. Sayangnya, justru karena itulah saya pelan-pelan menghindar untuk membaca buku-bukunya. Lha wong sangat sulit diterima akal, bagaimana bisa kesepian dan penolakan yang dirasakan bisa membuat pembaca yang membacanya justru merasa dibuai dengan keindahan? Karena sangat tidak masuk di akal, saya mengkhawatirkan diri saya setiap kali terbuai dengan gaya bahasa di buku-buku Murakami.

That’s what it is like to lose a woman. And at a certain time, losing one woman means losing all women. That’s how we become Men Without Women.

Setiap kali membaca tulisan Murakami, tidak jarang juga saya selalu merasa kalau tokoh di dalam cerita Murakami, juga mengandung keputusasaan. Saya tidak tahu, tetapi sebenarnya bagi saya yang perempuan, tokoh-tokoh Murakami (yang adalah lelaki) seperti perlu dikasih sentuhan kasih sayang yang tulus, diberi motivasi jika life must go on no matter how hard it is to lose someone so dear to you. Lebih seringnya lagi, kalau saya sedang sedikit gak sabaran, ingin sekali rasanya menampar wajah para tokoh-tokoh di buku ini kalau keputusasaan itu tidak pernah baik kalau terlalu lama dipelihara. Namun kembali lagi, Murakami tetaplah Murakami. Tulisannya seakan-akan memang hadir untuk membuai kekosongan dan kesepian hati yang dirasakan oleh sebagian besar manusia, entah agar mereka merasa terobati atas sendirian yang mereka rasakan, atau justru sengaja membuat mereka semakin hanyut dalam kesepian.

PHOTO BY RYOJI IWATA FROM UNSPLASH

Pemuda yang Membakar Neraka

“Pemuda yang Membakar Neraka” or roughly translated as “A young man who burn the underworld” is one of short stories written by Candra Malik. He is an artist, a writer, as well as a Sufi figure known in Indonesia. Of the many short stories compiled in Mawar Hitam (Black Rose), I was most struck by the themes raised in his particular story titled above.

The story was told from the perspective of a teen boy, who from his childhood age, had been taught to obey the commands of religion, in this case, is salat. For the brief explanation, there are 5 pillars of Islam which are also considered mandatory by believers. The five pillars are Syahadah (Faith), Salat (Prayer), Zakat (Charity), Sawm (Fasting), and Hajj (A Pilgrimage to Mecca). When she was a child, his dad told him about a drunken young man who always disturb people around the main mosque in the area. He was famous by his clamor that he would burn hell. The tale about the drunk was very, very famous, even down from generation to generation.

Look at this eye? (noted: his other eye has already blind)  He is able to see you, yet in fact, he was actually blind. I’ve given him half a century, but he still can not see God.

I so love this story so far. The topics in this very short story is mainly about how the drunken -which later became- old man, could not even say Syahadah, tho he was so sure of the God existence. There are a lot of controversial sentences which honestly contain very deep meanings. For instances, the old man would never be able to implement the rest four, as long as he could never say syahadah. Only ignorant people who believe salat should be the way to get closer to the God. These kind of thoughts are very rare and so difficult.

Well, I did not expect myself to read this kind of books until a dear friend presented the book to me. I understand that the contents of the book are not easy reads. Everything in the book will be brow-knittingly serious. However, I found not few things that should spiritually be contemplated. This book has become one of the few short stories took spiritual themes which is caught my attention.

As for its title, it was referred to the old man’s anger of his inability to say Syahadah. He just missed the Lord that if the underworld nor heaven would only interfere his closeness with God, then he would be willing to burn both.

#18 Serial To All the Boys I’ve Loved Before dan Ps. I still love you

Screenshot_2015-10-22-13-38-53_1

Judul: To All the Boys I’ve Loved Before dan P.S I Still Love You
Penulis: 
Jenny Han
Penerbit:
Simon & Schuster Books for Young Readers
Jenis: 
Ebook
Rating: 
1/5

Lara Jean hidup bersama dua saudara perempuan dan ayahnya yang seorang Dokter Obgin. Ibunya telah meninggal ketika ia masih kecil. Sementara itu kakaknya, Margot, akan bersekolah di Skotlandia untuk kuliah di Universitas St. Andrews, sementara Kitty mash berusia 9 tahun. Margot memiliki pacar, Josh, yang juga adalah laki-laki yang pernah disukai Lara Jean jauh sebelum kakaknya dan Josh berpacaran. Lara Jean memiliki kebiasaan unik. Jika ia ingin melupakan perasaannya pada laki-laki yang disukainya, ia akan menuliskan seluruh perasaannya terhadap orang tersebut, memasukkannya ke dalam amplop, membubuhkan alamatnya, lalu menyimpannya rapat-rapat di kotak topi rahasia miliknya. Cerita berawal ketika suatu hari surat yang ia tulis tiba-tiba menghilang. Tidak sampai di sana, Peter, salah satu orang yang dulu pernah disukainya, menghampirinya dan menunjukkan surat yang pernah ditulis Lara Jean. Rupanya ada orang yang diam-diam mengirimkan surat-surat cintanya dahulu.

Idenya unik sekali. Surat yang ditulis seakan-akan tidak akan dibaca oleh orang yang dituju tiba-tiba dikirim tanpa sepengetahuannya. Wow. Selain itu, kovernya sangat cantik dan mengundang selera membaca. Ya, buku ini adalah buku bestseller. Entah semenjak kapan saya tidak akan menilai terlalu tinggi buku-buku berlogo bestseller. Sebagai buku remaja, buku ini adalah buku remaja yang sangat ringan, mainstream, serta yang paling penting, menghibur. Dari segi karakter, tidak ada pengembangan karakter yang signifikan. Hal yang paling tidak saya sukai dari novel ini ialah penggambaran Lara Jean sebagai remaja yang lugu, cengeng, dan sangat lemah. Selain itu untuk usia remaja 16 tahun, bagi saya Lara Jean lebih cocok berusia 12 tahun. Sepanjang cerita saya sangat terhibur dengan kemanisan hubungan percintaan remaja yang menurut saya, oke, cukup mengingatkan masa-masa remaja saya ketika baru pertama kali mengenal cinta. Sisanya, saya terhibur dengan keluguan cerita yang tidak masuk di akal.

Terlepas dari itu semua, saya paling menyukai hubungan yang dijalin antara ketiga kakak beradik ini. Margot yang dewasa dan bertanggung jawab, Lara Jean yang manis dan cengeng tapi sok tegar, dan Kitty yang tipikal anak bungsu yang manja tapi sebenarnya perhatian. Semenjak ibu mereka meninggal, Margot yang juga merupakan kakak tertua menjadi panutan bagi Lara Jean dan Katherine. Ia membagi peran tugas di rumah kepada kedua adiknya sekaligus memastikan agar ayahnya tidak perlu disibukkan oleh perintilan pekerjaan rumah. Lara Jean pun akhirnya tumbuh dengan Margot sebagai model seorang perempuan yang diimpikannya. Oleh karenanya, ketika Josh mendapatkan surat cinta yang ditulis oleh Lara Jean dahulu, Lara Jean yang terlalu lugu dan pemalu malah memutuskan untuk pura-pura pacaran dengan Peter demi meyakinkan Josh bahwa Josh hanya bagian dari masa lalunya.

Beberapa waktu lalu saya sedang tidak enak badan. Membaca buku pun rasanya sudah tidak mood. Namanya juga sedang sakit, segala mood menyenangkan yang bisa saya manfaatkan jadi hilang. Lalu dari sanalah tiba-tiba muncul keinginan membaca buku ini. Akhir dari buku pertama memang dibuat menggantung sehingga pembaca tanpa ragu akan langsung melanjutkan seri keduanya. Saking ringannya, saya bisa menyelesaikan kedua buku Jenny Han hanya  kurang dari setengah hari. Bahasa yang digunakan memang disesuaikan untuk remaja.

Beberapa waktu lalu saya melihat di etalase toko buku favorit saya kalau kedua buku ini rupanya telah dialihbahasakan. Hmm,… Kalau sekedar sebagai konsumsi bacaan remaja mungkin boleh ya, masih cukup sopan jika dibandingkan dengan konsumsi bacaan yang bisa dicari di internet secara bebas. Saya hampir tidak pernah membaca buku remaja luar negeri yang diterbitkan di Indonesia. Akibatnya saya tidak mengikuti pola buku-buku remaja yang beredar di pasaran sekarang. Pedihnya, kebanyakan buku remaja yang menurut saya bagus dan benar-benar mendidik malah tidak pernah diterjemahkan di sini #tanyakenapa.

#17 A Monster Calls

Judul: A Monster Calls
Penulis: Patrick Ness and Sioban Dowd (Conceptor)
Penerbir: Candlewick
Tahun Cetak: Mei, 2011
Jenis: Ebook
Halaman: 215 Halaman
ISBN: 1406311529
Rating: 4/5

Stories are important, the monster said. They can be more important than anything. If they carry the truth.

Conor O’Malley, seorang anak berusia 13 tahun, terus mengalami mimpi buruk semenjak ibunya mulai melakukan pengobatan rutin demi menyembuhkan penyakitnya. Pada suatu malam, Conor terbangun dari tidurnya serta mendapati ada monster yang datang dari halaman rumahnya. Monster tersebut mengambil bentuk pohon Yew. Awalnya, Conor mengira jika monster yang mendatanginya hanyalah bagian dari mimpi-mimpi buruknya. Nyatanya, monster tersebut selalu hadir secara misterius serta meninggalkan beberapa bukti-bukti ‘keberadaannya’ pada Conor. Monster datang ‘berjalan’ menghampirinya, menceritakan tiga buah cerita yang mana ritual bercerita tersebut harus ditutup oleh cerita keempat Conor yang berupa kebenaran.

A monster calls

Monster di dalam buku ini bukan monster yang sering diceritakan para orang tua, bahkan bukan yang sekedar untuk ‘menakut-nakuti’ anak-anak mereka. Monster digambarkan mirip dengan pohon Yew yang dapat berjalan.  Di beberapa mitos, pohon Yew dianggap sebagai pohon sakral yang memiliki makna lain seperti keabadian. Karena usianya yang abadi, ia sering juga dikaitkan dengan makna kebijaksanaan.

Di dalam cerita ini, monster datang karena Conor memanggilnya. Alam bawah sadar Conor membutuhkannya. Kehadiran Monster digambarkan secara fantastis, namun bisa jadi ia sebenarnya adalah bentuk dari kebenaran yang ingin diungkapkan manusia. Monster menuntut Conor untuk menceritakan kebenaran di dalam dirinya, kebenaran yang selama ini ia tampis karena merasa kebenaran tersebut jahat dan tidak masuk di akal.

In between good and bad

There is not always a good guy, nor is there always the bad one

Selesai membaca buku ini, saya hanya bisa menghela nafas berat. Buku ini cukup berhasil menguras emosi sepanjang saya membacanya. Tidak ada hal membahagiakan di dalam buku ini bukan berarti buku ini tidak bagus. A Monster Calls sempat menjadi buku favorit saya karena ceritanya yang mengharu biru, penuh misteri, dan tidak dapat ditebak. Patrick Ness mengambil ide cerita yang dibuat oleh Siobhan Dowd yang belum sempat diselesaikan karena si empunya ide terlanjur meninggal akibat kanker. Seorang teman yang pernah membaca tulisan Patrick Ness sebelumnya bilang jika cerita-cerita yang dibuat oleh beliau memang sering kali menguras emosi.

Secara umum, buku ini menceritakan soal perjalanan Conor untuk menerima kenyataan yang sedang dihadapinya. Kita sering dihadapi situasi sulit, yakni ketika kita mengetahui apa yang sedang kita alami, namun menolak untuk mengakuinya. Alih-alih mengakui, kita sering mengaitkannya dengan situasi-situasi tertentu sebagai bentuk pembenaran. Pembaca akan diajak berjalan-jalan ke dunia dongeng yang diciptakan oleh ‘Monster’. Harus diakui, cerita di dalam buku ini memang sangat kelam. Namun, Patrick Ness rupanya lihai menjadikan buku ini tetap indah dan sarat makna untuk dinikmati. Secara genre buku ini memang lebih ditujukkan untuk anak-anak dan remaja. Setelah membaca buku ini anak-anak akan belajar bagaimana menghadapi sebuah kenyataan.  Menarik makna positif dari cerita, tidak ada salahnya orang dewasa untuk ikut membacanya karena kenyataannya masih banyak orang dewasa yang bersikap kekanakan dengan susah move on di dalam hidupnya. Well, mengenai berhasil atau tidaknya menerima kenyataan hidup mungkin tidak akan instan, tetapi membaca buku ini akan lebih menambah empati yang membacanya.

FEATURED IMAGE BY MICHAEL WEIDNER FROM UNSPLASH

#16 Anak-Anak Masa Lalu

image

Judul: Anak-anak Masa Lalu
Penulis: Damhuri Muhammad
Penerbit: Marjin Kiri
Tahun Cetak: 2015
Jenis: Paperback
ISBN 13: 9789791260466
Rating: 3,5/5

“Anak-Anak Masa Lalu” merupakan kumpulan cerita pendek yang ditulis oleh Damhuri Muhammad. Sebagian besar cerita di dalam buku ini sudah pernah dipublikasikan di berbagai media nasional selama kurun waktu 2009-2013.

Ada empat belas cerita pendek serta satu epilog di dalam buku ini. Seluruh cerita yang ditulis menjadikan pedesaan sebagai seting utama di setiap cerita-ceritanya, dimulai dari mitos-mitos yang diangkat, budaya berpikir hingga perilaku masyarakatnya. Buku dibuka dengan cerita berjudul “Reuni Dua Sejoli”, yakni yang menurut saya mengambil topik cinta yang tak sampai. Topik yang sama juga diangkat di dalam cerita “Dua rahasia, dua kematian” serta “Lelaki Ragi dan Perempuan Santan”, meskipun alasan tidak sampainya kasih di antara pasangan-pasangan tersebut diragamkan dengan bumbu ‘perjodohan’ serta ‘bibit-bebet-bobotnya’. Jika cinta yang tidak direstui tetap dipaksakan, “Ambai-ambai” serta “Orang-orang Larenjang” dapat menjadi saksi tertulis bagi mereka yang melanggar. Selain itu, penulis juga memasukkan tema-tema yang diangkat dari mitos pedesaan yang sempat ramai kira-kira sekitar tahun 60an. Mitos ritus pengorbanan kepala anak kecil untuk ditanam sebagai fondasi bangunan-bangunan tertuang dalam cerita “Anak-anak Masa Lalu” serta mitos manusia berkepala Anjing (serta sebaliknya) di dalam cerita “Tembiluk”. Ada pula tema terkait Korupsi yang disajikan di dalam cerpen “Rumah Amplop.” Kearifan masyarakat lokal pedesaan yang paling bermakna bagi saya tertuang di dalam kisah “Banun”, seorang wanita yang menjalani laku prihatin seumur hidupnya hingga ia dianggap sebagai seorang yang sangat kikir. Cerita-cerita di dalam buku ini sedikit banyak memang diakui penulis sering terinspirasi dari masa kecilnya ketika masih hidup di desa. Semuanya itu jelas terlihat dalam cerita “Luka Kecil di Jari Kelingking” dan “Kiduk Menggiring Bola.”

Saya sangat suka dengan gaya menulis Damhuri Muhammad, sangat ndeso. Menurut saya cerpen-cerpen di dalam buku ini nuansanya begitu sepi, kelam dan menyesakkan. Beberapa di dalamnya bahkan menurut saya sangat mengerikan 😅:'(. Beberapa cerita yang dikarang terinspirasi dari beberapa mitos yang pernah beliau dengar, terlebih mitos-mitos tersebut memgerikan. Bagi saya, mitos yang mengerikan menjadikan cerita tersebut berkali-kali lipat lebih menyeramkan dibandingkan cerita horor. Mungkin inilah penyebabnya saya memberi rating 3,5 pada buku ini. Saya terlalu lugu untuk bisa menjadikan mitos yang menyeramkan itu sebagai angin lalu. Well ya, Saya bukan penikmat cerita menyeramkan, meski sebenarnya punya kecenderungan untuk menikmati cerita-cerita yang pilu. Namun yang jelas perkenalan saya dengan buku cerpen ini membuat saya akan membaca karya-karya beliau lagi jika berkesempatan menemukan cerita yang beliau tulis ^^

#15 Kahve; Shamrock & Raven

Saya mendapatkan buku ini gratis langsung dari penulisnya. Sebenarnya saya sudah mulai membaca karangan beliau sejak saat masih duduk di bangku kelas dua SMP. Namun di dalam mengulas novel pertamanya yang diterbitkan ‘resmi’ seharusnya saya dapat bersikap sedikit lebih netral, tetapi saya yakin selalu akan ada kecenderungan setiap kali mengulas buku.

unnamed (3)

Judul : Kahve, Shamrock and Raven
Penulis : Yuu Sasih
Penerbit : De Teens
Tahun cetakan : Mei, 2015
Jenis : Paperback
ISBN 13 : 9786022558941
Rating : 4/5

Kencana pergi ke Jakarta untuk menyingkap rahasia mengapa kakaknya, Saras, bunuh diri. Ia bahkan menempatkan dirinya di fakultas yang sama seperti Saras demi memaksimalkan upaya pencariannya. Di dalam perjalanannya, Kencana bertemu dengan Rasyi, pacar Saras, dan Linda, perempuan cantik yang menjadi sahabatnya. Ia juga bertemu dengan Farran, barista nyentrik yang sebelumnya elah melakukan tasseo (ilmu meramal dengan memanfaatkan ampas kopi atau daun teh) keberuntungan pada cangkir kopi kakaknya yang, entah mengapa justru sebaliknya, mengantarkan pada kematian si empunya.

Cerita yang diangkat di dalam buku ini tidak biasa. Ada beberapa isu yang ingin diungkap oleh sang penulis, beberapa yang baru bisa saya tangkap ialah isu-isu seperti bunuh diri, pelecehan seksual, LGBTIQ, kesetaraan, dan pencarian jati diri. Banyaknya isu yang ingin disampaikan menjadikan penulis tidak terlalu menjelaskan secara mendetail isu-isu tersebut. Sehingga, saya melihat penyebutan isu-isu tersebut tidak lain ialah mengajak pembaca agar dapat berpikir bahwa isu-isu yang ditampilkan di dalam buku bukanlah sekedar isu yang sederhana.

Alur yang dikemas di dalam novel ini menurut saya juga cukup menarik. Tidak mudah menebak kejutan yang disiapkan oleh penulis, setidaknya hingga mendekati akhir cerita. Mengangkat cerita dengan isu berat dari sebuah kedai kopi menjadikan buku ini menjadi unik, terlebih lagi bagi para pencinta kopi. Saya sangat senang bagaimana sang penulis menggambarkan karakter-karakter di dalamnya berdasarkan jenis kopi. Kepekatan nuansa kopi di dalam buku ini menjadi bumbu yang mengasyikkan, terutama bagi para penikmat kopi.

Sebagai novel pertama yang ditulis, menurut saya Yuu sudah sangat keren. Ada nuansa sureal yang disajikan di dalam buku ini, membuat pembaca bertanya-tanya mengenai hal ajaib yang kelihatannya tidak mungkin sekali terjadi di dunia nyata, namun justru menjadi salah satu kunci dipecahkannya teka-teki. Saya cukup bisa memahami alasan Yuu menulis ini, yakni karena sang penulis juga penggemar karya Murakami.

Saya yakin, kehadiran buku ini bisa ikut mewarnai dunia penulisan populer di Indonesia. Apalagi ditambah dengan semangat penulis terhadap isu-isu sosial, yang di dalam buku ini dikhususkan bagi perempuan, membuat saya sangat menanti-nanti novel berikutnya. Jika isu yang saat ini hanya sekedar perkenalan mengenai ajakan ke pembaca untuk setidaknya berpikir, buku berikutnya saya yakin akan bisa lebih mendalam.

The Picture of Dorian Grey

Di dalam buku ini, Yuu sering menyelipkan sepenggal dua penggal kalimat yang diambil dari naskah karangan Oscar Wilde, The Picture of Dorian Grey. Kisah yang mengangkat tema manusia yang menjual jiwanya agar tetap awet muda dan menawan tersebut menurut saya sangat mengerikan. Ada tiga tokoh sentral yang sering dijakan pola penggambaran tokoh-tokoh di dalam Kahve yang menurut saya akan lebih dipahami saat pembaca sudah pernah membaca Dorian Grey.