#4 Wishful Wednesday

images (31)

Jadi, sebenarnya cukup sedih karena Wishful Wednesday (WW) sudah gak diadain oleh Mba Astrid lagi. Tapi berhubung saya sedang bingung juga mau nulis apa, mending saya tulis beberapa buku yang pengen banget dibaca dalam waktu dekat ini,

1. Homo Deus: A Brief History of Tomorrow, oleh Yuval Noah Harari

31138556

Yuval Noah Harari, author of the critically-acclaimed New York Times bestseller and international phenomenon Sapiens, returns with an equally original, compelling, and provocative book, turning his focus toward humanity’s future, and our quest to upgrade humans into gods.

Over the past century humankind has managed to do the impossible and rein in famine, plague, and war. This may seem hard to accept, but, as Harari explains in his trademark style—thorough, yet riveting—famine, plague and war have been transformed from incomprehensible and uncontrollable forces of nature into manageable challenges. For the first time ever, more people die from eating too much than from eating too little; more people die from old age than from infectious diseases; and more people commit suicide than are killed by soldiers, terrorists and criminals put together. The average American is a thousand times more likely to die from binging at McDonalds than from being blown up by Al Qaeda.

What then will replace famine, plague, and war at the top of the human agenda? As the self-made gods of planet earth, what destinies will we set ourselves, and which quests will we undertake? Homo Deus explores the projects, dreams and nightmares that will shape the twenty-first century—from overcoming death to creating artificial life. It asks the fundamental questions: Where do we go from here? And how will we protect this fragile world from our own destructive powers? This is the next stage of evolution. This is Homo Deus.

With the same insight and clarity that made Sapiens an international hit and a New York Times bestseller, Harari maps out our future.

Saya sangat menikmati buku Harari yang sebelumnya, Sapiens, dan beberapa minggu ini saya baru tau kalau ternyata dia baru menerbitkan satu buku baru. Mahal, siiihh, nanti deh dipikirkan lagi mau kapan belinya ^^, seandainya banget ada temen yang beli, mau banget minjem, tapi sayang juga klo bukunya bagus gak disimpen.

2. The Innovators Dilemma: When new technologies cause great firms to fail oleh Clayton M Christensen

41lZYsjj6dL._SX331_BO1,204,203,200_

Wall Street Journal and Businessweek bestseller. Named by Fast Company as one of the most influential leadership books in its Leadership Hall of Fame. An innovation classic. From Steve Jobs to Jeff Bezos, Clay Christensen’s work continues to underpin today’s most innovative leaders and organizations.

The bestselling classic on disruptive innovation, by renowned author Clayton M. Christensen.

His work is cited by the world’s best-known thought leaders, from Steve Jobs to Malcolm Gladwell. In this classic bestseller—one of the most influential business books of all time—innovation expert Clayton Christensen shows how even the most outstanding companies can do everything right—yet still lose market leadership.

Christensen explains why most companies miss out on new waves of innovation. No matter the industry, he says, a successful company with established products will get pushed aside unless managers know how and when to abandon traditional business practices.

Offering both successes and failures from leading companies as a guide, The Innovator’s Dilemma gives you a set of rules for capitalizing on the phenomenon of disruptive innovation.

Sharp, cogent, and provocative—and consistently noted as one of the most valuable business ideas of all time—The Innovator’s Dilemma is the book no manager, leader, or entrepreneur should be without.

memang agak berat, ya kayanya, hehe Tapi sepertinya buku ini bisa menambah wawasan saya soal beberapa persoalan di pekerjaan. Karena buku yang agaknya berat, saya juga tidak mau memaksakan diri  untuk bisa menyelesaikannya dengan cepat begitu saya mendapatkan bukunya.

Tahun baru dan resolusi

Semakin bertambahnya usia, saya menyadari bahwa tanggung jawab kita akan semakin besar, namun bagaimana kita menghadapinya benar-benar bergantung pada diri kita masing-masing. Artinya, tidak peduli seberapa besar tantangannya, kita semestinya dapat tetap menghadapi semua tantangan-tantangan itu dengan hati yang tenang dan santai. Berhubung saya tidak pernah berhasil mencapai resolusi-resolusi yang saya tetapkan, tahun ini saya ingin dapat menjadi orang yang lebih santai dalam memandang hidup. Saya tidak ingin membuat terlalu banyak target seperti di tahun-tahun sebelumnya.

Mark Williams, Zindel Segal dan John Teasdale memperkenalkan konsep Mindfulness Based CBT yang terinspsirasi dari Jon Kabat Zinn (1979) mengenai konsep Mindfulness Based Stress Reduction (MBSR). Di dalam konsep tersebut, terdapat tiga hal yang penting untuk diterapkan untuk memperoleh kebahagiaan seiring merealisasikan hal-hal sederhana yang ingin kita capai:

1. Awereness and acceptance

Sangat penting bagi kita untuk memiliki gambaran yang objektif mengenai diri kita, baik kelebihan maupun kekurangan yang kita miliki. Beberapa orang terbiasa untuk menilai diri lebih positif namun tak menghiraukan beberapa kelemahan diri kita, beberapa orang lainnya bersikap sebaliknya.

2. Non-judgemental

Kita perlu melepaskan berbagai asumsi ketika menilai suatu hal. Hidup kita menyedihkan, hidup dia pahit, hidup mereka payah adalah bagian dari penilaian kita yang cenderung sekali mudah dikotak-kotakkan di dalam pikiran.

3. Live in the present

Kebanyakan dari kita, juga mudah banget terikat dengan masa lalu, atau selalu terbelenggu dengan ketidakpastian masa depan. Perasaan-perasaan semacam itu lantas membuat kita lupa bahwa hidup kita saat ini adalah apa yang bisa kita perbaiki di masa lalu, sekaligus apa yang dapat kita siapkan di masa depan.

Berbekal dari teori ini (berhubung anaknya teoritis banget), saya sudah lebih dari siap menyambut tahun 2018 ini.

FEATURED PHOTO BY KEVIN MUELLER FROM UNSPLASH

#23 Hiroshima: Ketika bom dijatuhkan

12834309_a34710f5-2a41-4ade-b04a-538897bb9b38_1944_2592.jpg

Judul : Hiroshima: Ketika bom dijatuhkan
Penulis : John Hersey
Penerbit : Komunitas Bambu
Cetakan : Pertama, 2008
Tebal : 165 halaman Rating: 4/5

Sering kali kita mendengar bahwa sejarah bisa saja terulang kembali. Inilah alasan mengapa kita perlu mempelajari sejarah, yakni agar kita dapat memetik pelajaran yang diungkapkan dari pristiwa masa lalu sehingga mencegah hal buruk terulang kembali, seperti perang, wabah, kekuasaan yang berdiri di atas penindasan, serta lain sebagainya.

Salah satu hal yang paling tidak kita inginkan terjadi kembali ialah Bom Atom yang dijatuhkan di kota Hiroshima dan Nagasaki. Setelah penyerangan Jepang di Pearl harbor, Amerika mencari cara untuk mengakhiri perang dengan cara yang paling efektif, namun sangat menyakitkan serta meninggalkan luka yang sangat dalam. Pada saat itu, tidak mengetahui seberapa jauh bahaya dan kerusakan yang diakibatkan oleh bom nuklir, bom pun dijatuhkan. Semenjak kejadian itu, berbagai penelitian, tulisan sejarah, berita, ditulis untuk merekam kejadian dengan harapan sejarah tidak akan kembali terulang.

Review

Cerita dibuka pada pagi hari saat sebelum bom dijatuhkan. Ledakan terdengar secara tiba-tiba. Ledakan ini bukanlah ledakan biasa. Sebagian besar orang yang berada di luar ruangan langsung meninggal akibat paparan langsung radiasi, sebagian besar lainnya terluka parah dengan gejala yang tidak biasa. Sementara itu, mereka yang selamat kebingungan bagaimana harus melakukan penyelamatan, baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain yang selamat. Tidak lama setelah kejadian, sisa-sisa bom rupanya menyulut api yang semakin lama semakin membesar dan meluas tak terhentikan, menghabisi orang-orang yang sebenarnya selamat dari bom, namun terlambat karena terjebak oleh reruntuhan bangunan.

Buku ini sebenarnya merupakan sebuah reportase yang pernah diterbitkan di New Yorker pada tahun 1946. Reportase ini ditulis oleh seorang reporter John Hersey, yang pasca kejadian langsung diminta untuk menuliskan laporan pengeboman yang terjadi. Ada kisah dari enam orang yang selamat setelah pengeboman yang ditulis oleh Hersey. Mereka berenam ialah seorang pastur, seorang dokter ahli bedah muda, seorang dokter yang sudah memiliki rumah sakit sendiri, seorang penjahit yang sudah menjanda dengan tiga anak, seorang pegawai di pabrik kaleng, dan seorang pendeta Jerman. Pengalaman keenam orang ini nantinya dinarasikan oleh Hersey yang masing-masing dibagi dalam beberapa segmen, yakni sebelum, saat, serta pasca bom dijatuhkan.

John Hersey menulis reportase ini pada awalnya bertujuan untuk membuka mata orang-orang Amerika mengenai dampak dari pengeboman atom di Jepang. Meskipun pada akhirnya perang benar-benar usai, cara yang dilakukan untuk mengakhiri peperangan sangatlah tidak manusiawi. Sebelum reportase ini diterbitkan, banyak warga Amerika yang masih belum memahami kerusakan yang diakibatkan oleh bom atom. Menurut saya, John Hersey mampu membangkitkan unsur yang paling penting dalam sebuah penulisan reportase, yakni berusaha membuat informasi yang penting menjadi menarik dan relevan. Idenya untuk menarasikan pengalaman keenam orang survivor membuat reportase ini mampu diterima oleh masyarakat kalangan umum. Terlebih lagi, mampu membangkitkan simpati orang-orang terhadap kejadian tersebut.

Setelah membaca buku ini, saya baru mengetahui kalau buku ini telah menjadi salah satu reportase terbaik yang pernah ditulis sepanjang abad dua puluh.

FEATURD IMAGE BY FEDERICO SIRONI FROM UNSPLASH

#22 This is just my face: try not to stare

images

Judul : This is just my face: try not to stare
Penulis : Gabourey Sidibe
Penerbit : Houghton Mifflin Harcourt
Tahun cetakan : Mei, 2017
Jenis : Ebook

Bukan bintang biasa

Imej seorang bintang yang umumnya muncul di pikiran kita ialah mereka yang berparas cantik dan tampan, memiliki tubuh yang langsing bagi perempuan, atau kekar bagi laki-laki, serta kulit berwarna putih, tan khas latin, dan bersih. Kita pun sering sekali mendengar istilah semacam  Oscar’s so white ketika melihat para penerima nominasi hingga pemenang dari ajang film paling bergengsi sedunia tersebut, umumnya didominasi oleh orang-orang berkulit putih. Tidak peduli pada stereotip kebanyakan orang, yang jelas, wanita berperawakan gemuk, berkulit hitam, keturunan Afrika-Amerika yang satu ini telah membuktikan bahwa semua itu tidak berpengaruh bagi dirinya,

.. atau secara tidak langsung ternyata berpengaruh?

Sangat sedikit yang saya ketahui mengenai Gabourey -Gabby- Sidibe. Selama ini saya hanya mengenal Gabourey, semenjak namanya muncul pertama kalinya di Academy Awards ke-82 pada tahun 2010. Gabourey dinominasikan sebagai aktris terbaik dalam perannya sebagai Precious dalam film berjudul sama, yakni  Precious (2009). Begitu menemukan buku ini, saya tidak segan langsung membelinya karena saya sangat menyukai buku-buku bertema biografi.

Gabby dilahirkan dari keluarga Afrika-Amerika. Ibunya menikahi ayahnya demi membantu ayahnya memperoleh visa tingga di Amerika. Ayahnya berasal dari Senegal. Bahwasanya Gabby sempat mengalami depresi sehingga harus melakukan terapi juga dijelaskan secara detail di dalam buku ini. Buku ini bisa dibilang mewakili sedikit banyak stereotipe yang diperoleh orang-orang seperti dirinya di Amerika. Sebagai seorang anak kecil, Gabby tidak menyadari bahwa mereka miskin tapi tahu mereka tidak kaya karena mereka tidak berkulit putih. Gabby mengira menjadi kaya “hanya untuk orang kulit putih dan Michael Jackson.” Seiring bertambahnya usia Gabby, dia mulai khawatir tentang kondisi keuangan keluarganya, dan terpana saat Alice, ibunya, berhenti dari pekerjaan sekolahnya untuk bernyanyi di kereta bawah tanah. Dia berpikir, “Apakah kamu gila? Keluar dari pekerjaanmu !! ????”

Ketika Gabby berusia 21 tahun dan benar-benar tidak memiliki pekerjaan, dia melihat sebuah iklan untuk ‘telefon seks’ dan memberanikan diri untuk mengikuti seleksi wawancara. Gabby mengira jika ia akan menemukan “gadis-gadis seksi berpakaian dalam yang sedang berbicara dengan penerima telepon”, namun ternyata ia hanya menemukan kantor biasa dengan pembicara di hadapan telepon, resepsionis, dan pelatih untuk para wanita ‘aktris telefon’. Gabby mencatat bahwa ‘gadis telepon’, umumnya ialah wanita kulit hitam berukuran plus- sama seperti dirinya-, meski ironisnya kebanyakan penelepon justru mengharapkan hal sebaliknya. Dengan kesabaran, Gabby berhasil dalam pekerjaannya, mendapatkan promosi, hingga akhirnya menjadi orang yang melatih ‘pelamar-pelamar’ baru.

Gabby mengatakan bahwa dia dengan sabar mengambil apa yang dia pelajari dari pekerjaannya sebagai ‘penerima telefon seks’ serta menerapkannya di dunia nyata. Dari sana, ia belajar mulai dari bagaimana harus berbicara dengan orang-orang, hingga bagaimana ia harus mengatasi rumor.

Kepercayaan Diri Gabby

Harus saya akui Gabby memang telah menjadi salah satu sosok yang sangat saya kagumi. Dia percaya diri, cerdas, menyenangkan, dan bertalenta. Buku ini sangat menyenangkan dibaca, dan yang paling penting, menghibur. Karena buku ini, saya jadi menonton Precious setelah saya memang sengaja menghindarinya karena tema filmnya yang cukup mengganggu.  Sejujurnya, pada awalnya saya benar-benar tidak menyangka kalau ketenaran Gabby masih akan berlanjut setelah debutnya di Precious. Dengan stereotipe Hollywood yang kita kenal, Gabby justru berhasil menjadi salah satu bintang yang paling bersinar di antara para aktor lainnya. Saya menjadi tidak sabar karena ingin melihat bagaimana karir Gabby selanjutnya pasca menyelesaikan buku pertamanya.

#21 Girl Boss

5765284-1-multi

Judul : #GIRLBOSS
Penulis : Sophia Amoruso
Penerbit : Portofolio
Tahun cetakan : 2014
Jenis : Paperback

Sangat jarang saya membaca buku berlabel “Best Seller”. Pengalaman saya terhadap buku-buku berlabel Best Seller cukup tidak mengenakan. Sebut saja beberapa buku seperti Twilight Saga dan Fivty Shades of Grey. Saya membaca Twilight karena teman saya mengatakan jika novel tersebut adalah novel yang digadang-gadang sebagai penerus Harry Potter. Pada saat itu, berhubung saya baru saja cukup patah hati karena serial Harry Potter baru ditamatkan, tanpa menunda langsung membeli dan membacanya. Hasilnya, kecewa. Tidak cukup dengan pengalaman pahit itu, saya kembali membeli buku yang katanya sangat banyak disukai tanpa sedikit pun mencoba membaca ulasannya karena saya jengah dengan spoiler. Hasilnya, kali ini saya semakin merasa dikecawakan ^^; Semenjak saat itu, saya bertekad untuk berhati-hati saat membeli buku.

Agak lupa dari mana awalnya saya tertarik untuk membaca buku ini. Yang jelas, saat saya masih duduk di bangku kuliah, Nasty Gal memang sering terbersit di dalam kehidupan saya. Nasty Gal juga ternyata adalah sebuah lagu dari seseorang yang belakangan saya tau siapa penyanyinya. Saya juga, pada saat menemukan buku ini, merasa memiliki suatu kedekatan emosional saat membaca rangkuman di balik bukunya. Well, pada saat itu saya masih wanita awal 20 tahunan yang pekerjaan saja masih tidak jelas, tidak ada salahnya membaca buku semacam autobiografi wanita yang sukses di usia 20 tahunan, kan?

Amoruso di Nasty Gal

Amoruso adalah seorang Busniesswoman asal Amerika yang sukses mendirikan brand Nasty Gal di usianya ketika baru beranjak dewasa. Terlepas dari kenyataan saat ini Amoruso sudah tidak lagi terlibat di dalam Nasty Gal, buku ini kurang lebih berisikan tentang bagaimana Amoruso memulai bisnisnya dari awal hingga mencapai kesuksesan. Ia bukan seorang yang terlahir dari keluarga pebisnis, bukan pula orang cerdas yang membanggakan di kelas. Lebih mengejutkannya, ia bisa dibilang cukup bandel dan tidak terlalu pintar. Saya sangat suka dengan konsepnya yang membuat perempuan lain untuk tidak berhenti pada keterbatasan yang ada. #GIRLBOSS di sini digambarkan sebagai mental yang harus dimiliki jika kita ingin berhasil. #GIRLBOSS artinya tidak pantang menyerah, #GIRLBOSS artinya harus kreatif, #GIRLBOSS artinya bermental layaknya seorang bos. Sangat tipikal dan inspiratif. Namun,…

Bukan berarti apa yang Amoruso tulis tanpa cela. Ya, buku ini lucu, menghibur, sedikit lancang, dan sarkastik. Seperti yang sudah saya tulis sebelumnya, buku ini bisa dibilang sebuah memoir dengan gaya penulisannya yang sangat bebas, sehingga dibandingkan di buku, tulisannya tidak berbeda dengan tulisan-tulisan motivasional yang dipublikasikan hanya di website pribadi. Satu impresi yang saya kurang suka dari buku ini ialah penggambaran bahwa Amoruso pantas untuk mendapatkan kesuksesannya atas hasil kerja kerasnya selagi muda. Saya tidak menilai rendah apa yang Beliau kerjakan, tidak sama sekali. Tetapi cara Amoruso mendeskribsikan kesuksesannya seakan-akan memang dia berhak mendapatkannya, sangat sombong. Sementara di saat yang bersamaan, saya membaca cerita-cerita orang yang bekerja jauh lebih keras dari Beliau, namun kesuksesan finansial yang mereka peroleh tidak dapat dibandingkan dengan apa yang Amoruso capai.

Amoruso setelah Nasty Gal

Entah karena kini Nasty Gal telah dikabarkan bangkrut, atau karena alasan internal lainnya, setau saya Amoruso sudah tidak lagi terlibat di sana (Ini perlu dikonfirmasi lagi soalnya saya bacanya sudah agak lama). Pasca perilisan buku #GIRLBOSS yang sangat laris dipasaran, trade mark #Girlboss kini semakin melekat pada Amoruso. Tidak lama setelahnya, Amoruso juga turut mengisi atau menjadi bintang tamu di acara bertajuk sama di Radio. Ia juga terkadang diundang di acara talkshow #GIRLBOSS serta mengadakan kegiatan #GIRLBOSS RALLY. Tidak sampai di sana, saluran televisi Netflix mengangkat perjalanan hidup Amoruso dalam serial televisi yang juga berjudul sama.

 

Beberapa trademark #GIRLBOSS yang kini melekat pada Amoruso

Meski terdapat pro dan kontra terhadap buku ini, secara pribadi saya tetap menyukai buku ini, meski rating yang saya berikan cukup tiga dari lima bintang. Menurut saya, buku Amoruso mampu merambah banyak kalangan karena imej Beliau yang terlihat easy going, bahasa dalam bukunya yang sangat bebas, serta terjun dari industri yang sangat menarik, fashion. Jika Kamu sudah membaca buku ini, bagaimana tanggapanmu?

FEATURED IMAGE BY JEALOUS WEEKENDS FROM UNSPLASH

#20 The Goal: A Process of Ongoing Improvement

113934

Judul : The Goal: A Process of Ongoing Improvement
Penulis : Eliyahu M. Goldratt & Jef Cox
Penerbit : North River Press
Tahun cetakan : 2004 (First published in 1984)
Jenis : Paperback
ISBN : 0884271781

Sebagai orang yang bukan berlatar belakang dari bidang ekonomi manajemen, buku The Goal: A Process of Ongoing Improvement harus menjadi buku Manajemen pertama yang sangat saya nikmati.

Alex Rogo adalah seorang Manajer Pabrik di sebuah industri di Amerika. Dalam kaitannya dengan topik manajemen, Alex mengalami berbagai macam masalah yang dapat menentukan kelangsungan hidup industrinya. Perusahaannya sudah lama tidak mengalami keuntungan, proses produksi barang kerap mengalami masalah hingga berujung pada keterlambatan produk saat shipping ke konsumen. Jika kejadian ini terus-menerus terjadi, grup perusahaan di atasnya akan menghentikan produksi barang hingga mengakibatkan posisinya serta seluruh karyawan yang bekerja di bawahnya akan diberhentikan dari pekerjaan.

Seakan belum cukup masalah yang dihadapi oleh Alex, keluarganya pun berada di ambang kehancuran. Kesibukannya di pekerjaan membuatnya tidak sempat menghabiskan waktu dengan istri dan anak-anaknya. Dengan masalah-masalah tersebut, bagaimana Alex dapat menyelesaikan persoalan baik di bidang pekerjaan maupun di kehidupan pribadinya?

Jawabannya ialah ada pada manajemen yang tepat. Di sini, Goldratt dengan cemerlang memperkenalkan pembaca pada teori manajemennya (Theory of constraints) melalui tokoh bernama Jonah. Pembaca akan mengikuti alur berpikir Alex berdasarkan teori yang diangkat oleh Jonah sehingga mereka tidak hanya diperkenalkan teorinya, tetapi juga diajari bagaimana mempraktikkan teori pada kasus-kasus yang terjadi di perusahaannya. Menariknya lagi, dalam memecahkan masalah perusahaan, Alex sering mempraktikkan alur berpikir yang didapatnya selama mencari solusi perusahaan, di dalam kehidupan pribadinya. Sehingga secara bersamaan, pelan-pelan Alex dapat mengurai benang kusut baik yang terjadi di perusahaan maupun di kehidupan pribadinya.

Dari segi cerita, saya sangat menyukai tema cerita yang ditulis oleh Goldratt karena selain saya dapat menikmati cerita, saya belajar banyak hal hanya dari membaca buku ini. Untuk karakterisasi, Goldratt piawai dalam menyuarakan keahliannya dalam bidang manajemen melalui tokoh Jonah. Tidak heran kalau banyak yang menghubungkan Jonah sebagai Goldratt sendiri.

Alasan saya membaca buku ini sebenarnya ialah karena saat ini saya bekerja di sebuah industri yang sangat berbeda dengan industri yang sebelumnya saya tekuni. Sebagai seorang awam, saya berusaha mencari solusi bagaimana supaya saya setidaknya bisa catch up dengan keilmuan yang sama sekali berbeda dengan latar belakang pendidikan saya. Buku The Goal ini saya rasa sangat cocok untuk dibaca oleh siapapun, bukan hanya mereka yang bergelut di bidang korporasi karena, sama seperti yang dilakukan oleh Alex, kita dapat mengaplikasikan teori manajemen Goldratt dalam kehidupan sehari-hari kita.

Tenang, tidak perlu takut dengan bahasan yang kesannya berat, karena kenyataannya buku ini sangat ringan untuk dinikmati dengan secagkir teh di sore hari 🙂

#3 Wishful Wednesday

Memasuki tahun baru, saya memutuskan untuk kembali aktif di blog buku ini. Secara ya, Alina baru saja menyelesaikan masa-masa lumayan menantang sepanjang tahun 2016 lalu hingga tidak banyak menulis ulasan buku yang sempat dibaca.

By the way, tahun baru artinya memasuki usia baru. Saya menemukan satu buku menarik yang ingin sekali dibaca, yaitu Your Fatwa doesn’t apply hereuntold stories from the fight against muslim fundemantalism  oleh Karima Bennoune. Buku ini sudah terbit semenjak beberapa tahun yang lalu, namun karena alasan kesibukan, belum sempat saya cari juga.

51y04g7i2btl-_sx329_bo1204203200_

 

In Lahore, Pakistan, Faizan Peerzada resisted being relegated to a “dark corner” by staging a performing arts festival despite bomb attacks. In Senegal, wheelchair-bound Aissatou Cissé produced a comic book to illustrate the injustices faced by disabled women and girls. In Algeria, publisher Omar Belhouchet and his journalists struggled to put out their paper, El Watan (The Nation), the same night that a 1996 jihadist bombing devastated their offices and killed eighteen of their colleagues. In Afghanistan, Young Women for Change took to the streets of Kabul to denounce sexual harassment, undeterred by threats. In Minneapolis, Minnesota, Abdirizak Bihi organized a Ramadan basketball tournament among Somali refugees to counter the influence of Al Shabaab. From Karachi to Tunis, Kabul to Tehran, across the Middle East, North Africa, South Asia, and beyond, these trailblazers often risked death to combat the rising tide of fundamentalism within their own countries.

But this global community of writers, artists, doctors, musicians, museum curators, lawyers, activists, and educators of Muslim heritage remains largely invisible, lost amid the heated coverage of Islamist terror attacks on one side and abuses perpetrated against suspected terrorists on the other.

A veteran of twenty years of human rights research and activism, Karima Bennoune draws on extensive fieldwork and interviews to illuminate the inspiring stories of those who represent one of the best hopes for ending fundamentalist oppression worldwide.

Dari deskripsi yang saya baca di situs Amazon, saya akan menemukan wawancara yang dilakukan oleh Karima Bennoune mengenai orang-orang yang melawan fundamentalisme masyarakat dalam beragama. Karena belakangan di negeri ini isu fundamentalis sangat santer diperbincangkan, saya penasaran dengan isi dari buku ini. Seperti biasa, membaca isu-isu yang berat membutuhkan pikiran terbuka saat membacanya. Artinya, kita harus siap mendapati informasi apapun yang ada di dalam buku, tidak peduli apakah info di dalamnya sesuai atau tidak dengan keyakinan awal kita.

Minggu depan saya akan coba cari di beberapa toko langganan. Kalau sudah ketemu, saya akan coba membaca buku ini dengan santai karena, ehm, memang buku ini akan menjadi salah satu buku terberat yang akan saya coba selesaikan tahun ini. Mengingat soal kerjaan dan beberapa proyek yang ingin sekali saya kerjakan, saya jadi terpacu untuk lebih bisa memanfaatkan waktu saya dengan sebaik-baiknya.

FEATURED PHOTO BY KEVIN MUELLER FROM UNSPLASH