Mysterious Benedict Society #2

Persekutuan Misterius Bennedict dan Perjalanan Maut

Untuk merayakan satu tahun pertemuan mereka, para persekutuan misterius Bennedict mengadakan acara di kediaman Mr. Nicholas Bennedict bersama dengan keluarga-keluarga mereka. Renny Muldoon dengan keluarga Perumal, Sticky dan kedua orang tuanya, Kate dan ayahnya mata-matanya yang bernama Milligan, serta Constance sebagai gadis cilik yang selama setahun belakangan hidup di kediaman Mr. Bennedict. Bagi para anggota persekutuan tersebut, petualangan mereka demi menghentikan niat jahat Mr. Curtain telah menjadi momen yang sulit dilupakan.

Sayangnya, pertemuan yang mereka dambakan akhirnya harus dilingkupi oleh perasaan sedih dan terkejut. Kejutan datang tepat ketika anak-anak dan keluarganya telah berkumpul di kediaman Mr. Bennedict. Mr Bennedict dan Nomor dua menghilang!! Sebuah surat ancaman datang dari seorang jahat yang sebelum ini pernah mereka temui. Mr. Curtain bersama antek-anteknya mengancam akan mencelakai Mr. Bennedict dan Nomor dua jika anak-anak dan asuhan Mr. Bennedict yang lain (Rhinda Kazembe) tidak menemukan orang terdekat Mr. Bennedict. Konon, hanya Mr. Bennedict dan orang terdekatnyalah yang mengetahui rahasia yang diinginkan oleh Mr. Curtain. Apa sebenarnya yang diinginkan Mr. Curtain dari persekutuan Mr. Bennedict? Akankah Mr. Bennedict dan nomor dua berhasil diselamatkan? Apakah yang akan dilakukan oleh anak-anak, yang sedari awal, begitu terguncang karena sangat menyayangi Mr. Bennedict dan Nomor dua?

Dalam perjalanannya, anak-anak akan bertemu dengan tokoh-tokoh baru dan dipaksa untuk mengenal lebih jauh lagi mengenai manusia sepuluh, antek-antek Mr. Curtain yang konon memiliki sepuluh macam cara untuk menyiksa orang-orang. Petualangan demi petualangan akan dialami oleh para anggota Persekutuan Misterius Bennedict sekali lagi seketika mereka memutuskan untuk kabur dari rumah dan menyelamatkan dua orang yang telah mereka sayangi.

Oke, selamat menikmati buku ini :))

Bettle Hymn of Tiger Mother

Bettle Hymn of Tiger Mother
Bettle Hymn of Tiger Mother

What Chinese parents understand is that nothing is fun until you’re good at it

Menarik ketika kita membaca seorang ibu berdarah Cina memdidik anak-anaknya. Tidak seperti yang kebanyakan dipandang kebanyakan orang, sikap mereka yang tegas dan kerap terlihat ‘memaksa’ ketika mendidik anak sebenarnya menjadi salah satu bukti kecintaan mereka pada anak-anaknya. Di dalam buku ini, Amy Chua sama sekali tak ingin melihat anaknya tumbuh menjadi orang biasa, ia ingin memastikan anak-anaknya cerdas di atas anak rata-rata. Tentu saja, bayarannya ialah ia harus memaksa anak-anaknya belajar lebih banyak dibandingkan dengan anak-anak Amerika kebanyakan (di dalam buku ini, ia membandingka bagaimana gaya mendidik ala China dan ala barat-Amerika). Bahkan, penulis tidak peduli jika pada akhirnya ia harus dibenci oleh anaknya sendiri akibat dari kerasnya ia ketika mengasuh. Satu hal yang saya begitu tangkap dari buku ini ialah, betapa ia hanya ingin anak-anaknya tidak menderita di masa depan dengan segala daya dan upaya yang dapat ia lakukan. Para orang tua China tak pernah berhenti untuk beristirahat mendidik anaknya sebelum anak-anaknya menjadi yang terbaik.

Di dalam buku ini pun, saya menemukan nilai-nilai China yang terkenal. Seperti yang telah kebanyakan kita ketahui, orang-orang China selalu menghargai guru, orang tua, dan orang yang lebih tua. Bisa jadi itu menjadi kunci keberhasilan mereka selain upaya yang jauh lebih keras dibandingkan orang lain. Tak ada kata istirahat untuk berjuang.

But just because you love something, doesn’t mean you’ll ever be great. Not if you don’t work. Most people stink at the things they love.

Meskipun selalu keras, ternyata perjalanan yang dialami Amy ketika mendidik anaknya tidak selamanya berjalab dengan mulus. Ia mulai menemui kesulitan ketika harus mendidik anaknya yang kedua. Ia melihat bahwa sifat pemberontak ada di dalam diri anaknya yang kedua. Tidak seperti filosofi China yang biasanya, di mana anak-anak China akan selalu menghormati orang tuanya, ia tidak menemukan hal itu pada anaknya yang kedua. Akhirnya sang ibu harus menyerah dan membiarkan anaknya untuk memilih hal yang disukainya. Ia tetap berfikir bahwa menjadi hebat bukan hanya masalah kecintaan tanpa upaya yang keras. Ia masih tak dapat menerima keputusan anak keduanya yang lebih memilih melakukan hal yang disukainya. Meskipun demikian, ia tersadar kalau ia sama sekali tak mampu memberikan kehendaknya pada anaknya lagi.

Di sini saya melihat jika Amy Chua akhirnya mengakhiri bukunya dengan mengatakan jika mendidik anak ala China dilakukan hingga anaknya berusia hingga 18 tahun untuk mengembangka kepercayaan diri dan nilai-nilai yang unggul, lalu dilanjutkan dengan gaya barat di mana setiap individu harus menemukan langkah mereka masing-masing ke depannya. Sebelumnya ia lebih sering mengataka betapa gaya mendidik orang-orang China jauh lebih mendidik anak-anak dibandingkan dengan gaya barat. Di sini, akhirnya ia bersikap lebih adil di mana ia menggabungkan pola pendidikan ala China dan barat.

If I died tomorrow, I would die feeling I’ve lived my whole life at 110 percent. And for that, Tiger Mom, thank you.

Buku ini bagus untuk menambah wawasan dalam mendidik anak yang baik. Bagi para orang tua yang bingung bagaimana sebaiknya cara mendidik anak, tidak salah jika ikut membaca buku ini. Meski demikian, memang apa yang diterapkan Amy Chua pada anak-anaknya tida sedikit ditentang oleh orang-orang yang tidak memiliki kesamaan pandangan. Saya sendiri ketika membaca buku ini berusaha menjadi orang yang netral, yang sama sekali tidak memihak antara pendidikan yang dilakukan oleh orang barat dengan pendidikan yang dilakukan oleh orang China. Jika pandangan yang saya pegang sejak awal didasarkan pada bagaimana caranya agar anak berprestasi, saya leih cenderung setuju dengan apa yang dilakukan oleh Amy Chua. Namun di sisi lain, saya melihat ada sedikit ketidakcocokan budaya yang saya anut terhadap apa yang dilakukan oleh Amy Chua. Tidak aneh ketika akhirnya muncul keresahan mengenai apa yang sebaiknya harus dilakukan orang-orang barat ketika akhirnya harus mendidik anak. Ketika banyak dari mereka yang tak ingin eksistensi mereka dikalahkan oleh manusia-manusia unggul yang dilahirkan dari China, mereka harus mengakui jika, ‘jangan-jangan salah satu kakalahan mereka terhadap keunggulan bangsa China adalah karena mereka tidak mendidik anak dengan gaya China? Lalu ketika mereka ingin mengikuti pola mendidik mereka, mereka ragu karena itu tak sesuai dengan apa yang selama ini budaya mereka anut.’

Uniknya, reaksi keras sempat beredar di Amerika pascaperedaran buku ini. Amy Chua kerap disebut sebagai ibu yang menghalalkan tindak kekerasan pada anak-anaknya. Meski demikian, apa yang dipikirkan media ternyata salah. Reaksi pembelaan anak pertamanya, Sophia Chua-Rubenfeld pun muncul melalui surat terbukanya kepada media yang menyatakan bahwa ia mencintai ibunya dan membeberkan alasan-alasannya mengapa ia begitu mencintai ibu-Chinanya-yang keras. Ia juga bahwa mengatakan bahwa, jika ia besok meninggal, ia akan meninggal dengan perasaan telah menjalani kehidupannya hingga 110%, dan intuk itulah ia pun berterima kasih pada sang ibu.

Saya akhirnya berhasil membaca buku ini setelah iseng mencarinya di situs ini. Awalnya saya tidak berfikir akan mendapatkan buku ini, namun apa yang saya perkirakan salah. Barangkali karena buku ini menjadi salah satu buku yang fenomenal sepanjang tahun 2011, akhirnya versi ebooknya juga muncul. Jarang ada buku baru yang tersebar secara cuma-cuma. Oh, atau memang saya yang jarang update buku baru sehingga ketika melihat buku ini telah muncul dalam versi ebook (gratis pula!), saya pun langsung mendownloadnya. Karena formatnya e.pub, tidak semua software bisa membacanya sehingga saya menggunakan Calibre.

Lithuania, a drama in one act

Judul : Lithuania, a drama in one act
Penulis : Rupert Brooke
Terbit : 1915
Penerbit : Stewart kidd company

Sebuah naskah drama berjudul Lithuania, A Drama in A One Act yang diterbitkan pada tahun 1915, baru-baru ini dipentaskan di teater Salihara Pasar Minggu, Jakarta. Ketika membaca ulasan mengenai apa sebenarnya kisah yang diangkat di dalam teater tersebut, saya langsung jatuh cinta pada kisah tersebut. Karena saat itu saya tidak berkesempatan menontonnya, iseng-iseng saya mencoba mencari naskah ini dan mulai membacanya.

Kisahnya berada di seputar keluarga sangat miskin di Lithuania yang tibda-tiba kedatangan seorang tamu yang sangat kaya. Ia laki-laki kaya yang terlihat sombong. Tak pelak, begitu melihat uang yang dibawa di dalam kopernya, keluarga tersebut berkeinginan untuk memilikinya. Ketika akhirnya sang tamu pergi tidur, mereka sekeluarga mulai menyusun untuk membuat rencana pembunuhan pada laki-laki tersebut. Sang ayah yang semula berani untuk menjadi pelaku pembunuhan akhirnya goyah. Ia tak yakin dapat menuntaskan aksinya sehingga memutuskan untuk meneguk Vodka terlebih dahulu. Meski demikian, kenyataannya ia pergi lama sekali dan belum pulang hingga akhirnya kakaknya memutuskan untuk mengambil alih tugas ayahnya.

Puncak dari kisah ini ialah ketika akhirnya sang kakak dan ibu melakukan pembunuhan pada tamu asing yang sedang tertidur. Tamu tersebut meraung memanggil ibunya ketika seorang wanita dan anak gadisnya melakukan pembunuhan. Di sini, saya melihat bahwa betapa kemiskinan mampu membuat sesorang menjadi begitu bejat! Pemuda asing tersebut akhirnya tewas di tangan dua orang miskin yang begitu menginginkan hartanya.

Beberapa waktu berikutnya, sang ayah yang akhirnya mabuk pulang ditemani oleh ayah dan anak penjual Vodka. Mereka datang dengan wajah penuh suka cita. Kejutan muncul diakhir cerita ketika fakta menunjuk jika laki-laki asing nan sombong yang baru saja datang ternyata adalah anak keluarga miskin tersebut. Ia adalah anak laki-laki yang pergi merantau dan berniat kembali untuk memberikan kejutan bagi keluarganya. Sayangnya, nasib berkata lain. Ketamakan manusia akibat kemiskinan yang berkepanjangan bahkan tak mampu menghindarinya dari maut yang datang dari keluarganya, ironis!

Rupert Brooke, sang penulis naskah, ternyata terinspirasi dari kisah nyata yang ia temukan di Lithuania. Seorang wartawan muda yang sukses ketika kembali ke kampung halamannya harus naas dibunuh keluarganya sendiri. Ketika membaca ini, tak henti-hentinya saya merenungkan betapa berbahayanya kemiskinan itu. Manusia dapat berubah menjadi beringas seketika.

Kemiskinan kadang tak kenal hati. Kisah yang diangkat oleh penulis ini merupakan satu dari sekian banyak potret kemiskinan yang terjadi di dunia.

sumber gambar dari sini

Surat Rosetti

Judul : The Rosetti Letter-Surat Rosetti  
Penulis : Christi Phillips  
Penerbit : gramedia Pustaka Utama  
Halaman : 528 halaman  
Kategori : Romance, Tragedy, Supense 

Buku ini sungguh unik karena mengisahkan dua orang tokoh sekaligus yang berbeda, yakni lessandra Rosetti dan Claire Donovan. Dibuka oleh seorang gadis bernama Alessandra Rosetti, peremupuan pelacur yang paling dicari di Venesia selama kehadiran bangsa Spanyol di Italia. Di dalam cerita tersebut dikisahkan jika Alessandra Rosetti berada dalam kurun waktu yang sama saat terjadinya Konspirasi Spanyol, sebuah topik yang diangkat oleh seorang sejarawan bernama Claire Donovan dalam disertasinya.

Alessandra Rosetti adalah gadis cerdas yang cukup makmur di zamannya. Sayangnya, keluarganya mendadak meninggal dan semua hartanya habis. Sebenarnya gadis itu memiliki harta simpanan lainnya, namun tanpa ia sadari ternyata hartanya telah dihabiskan oleh laki-laki yang semula mencintainya. Kenyataan pahit harus dihadapi gadis baik-baik tersebut karena selama ini laki-laki tersebut hanya menginginkan hartanya. Tidak aneh jika pada akhirnya, Alessandra diminta untukk menjadi seorang biarawati. Sayangnya, menjadi seorang biarawati pada masa itu sama buruknya dengan menjadi pelacur. Di saat yang bersamaan, ia tanpa sengaja bertemu dengan pelacur paling terkenal, yang akhirnya mengubah jalan hidupnya. Akibat dari pekerjaannya sebagai pelacur, ia pun terseret ke antara polemik berbagai persekutuan antara pemerintahan Venesia dan Spanyol yang menjadi awal dari sebuah sejarah paling penuh dengan misteri, yakni konspirasi Spanyol. Apakah yang akan dihadapi oleh Rossetti selanjutnya? Lalu mengingat pekerjaannya sebagai pelacur serta masa lalunya yang hanya dimanfaatkan oleh pria karena kekayaannya, mungkinkah ia bertemu dengan seseorang yang benar-benar mencintainya? Bagaimanakah jalan kisah Rossetti di tengah-tengah konspirasi yang dijalankan oleh Spanyol pada Venesia?

Beratus-ratus tahun berikutnya, Claire Donoven, seorang sejarawan yang ingin menyelesaikan disertasinya meneliti tentang konspirasi ini dari sudut pandang Surat yang dibuat Rosetti. Sementara itu di saat yang bersamaan, seorang profesor terkemuka dari Cambridge pun tengah melakukan penelitiannya mengenai konspirasi ini dengan sudut pandang yang sama dengan Claire. Mau tidak mau ini membuat Claire kaget dan begitu penasaran dengan isi seminar yang dilakukan oleh profesor tersebut. Apa yang akan ditemukan Claire setelah menghadiri seminar tersebut? Dan mampukah ia menguak sejarah konspirasi Spanyol di balik surat-surat yang ditinggalkan Rosetti?

Jujur, saya sangat menyukai buku ini. Selain berlatar belakang sejarah, sang pengarang, Christi Phillips, sukses mebuat buku yang sulit ditebak. Akibatnya, bahkan ketika saya telah selesai menutup buku ini saya masih terbayang dengan kisah yang dialami oleh Rosetti hingga seakan-akan saya turut merasakan apa yang dialami oleh para tokoh utama di dalam buku ini.

Well, yang pasti saya merasa kalau buku ini layak untuk dibaca. Apalagi untuk orang-orang yang senang membaca cerita-cerita berlatarbelakang sejarah yang penuh dengan intrik.

Moksa Praja: misteri kabut berkelip

Judul : Moksa Praja; misteri kabut berkelip
Penulis : WN Setiyawan
Penerbit : Tiga Kelana
Tahun cetakan : 2010
Jenis : Paperback
ISBN : 9789790910096
Rating : 4/5

Moksa Praja, kerajaan yang hilang lenyap ditelan bumi ratusan tahun yang lalu, ternyata menyimpan keajaiban. Kabut tipis berkelip menguar di dalamnya. Memasuki para lare winih. Membuat apa yang dipikirkan mereka terwujud ! Betapa menyenangkan !! Namun, bukan untuk Pangeran Arcapada–yang masih bertanya-tanya tentang jati dirinya. Ia tidak merasakan keajaiban itu terjadi pada dirinya. Benarkan Pangeran Arcapada tak terpengaruh? Atau, ia sendiri tak menyadarinya.

~Cuplikan cover buku Moksa Praja; misteri kabut berkelip

Setidakya paragraf di atas sedikit banyak dapat merepresentasikan kisah apa sebenarnya yang diangkat di dalam karya seorang WN Setiyawan. Seorang pria kelahiran Purwokerto ini memulai debut novel pedananya dengan menciptakan sebuah cerita yang berseting di salah satu tempat di kawasan nusantara.

Kisah berawal ketika seorang bocah berusia sembilan tahun yang bernama Bagus Kenang, tengah memandangi burung-burung gaok putih yang melintasi hamparan lembah hijau yang landai. Ia merupakan seorang anak cerdas yang memiliki semangat keingintahuan yang tinggi terhadap suatu ihwal. Hingga pada suatu hari, ia harus mendapati dirinya sebagai salah seorang lara wenih, anak-anak pilihan yang dipersiapkan untuk pemerintahan kerajaan di masa kelak.

Fairy tales-dongeng sebenarnya telah sering sekali kita kenali sejak kecil. Biasanya digunakan sebagai kisah pengantar tidur yang ampuh membuat para anak terbuai dengan imajinasi berbagai keindahan. Sayangnya, dari ribuan dongeng yang malang melintang diceritakan para guru dan orang tua pada anak, jarang sekali ditemukan dongeng-dongeng yang lebih mewakili budaya Indonesia. Menurut saya, novel ini begitu menarik untuk dibaca karena terlahir dari serbuan novel-novel yang jarang sekali mengkhususkan ‘anak’ sebagai target pembacanya.

Meski tidak terlalu vital, saya melihat ada beberapa hal yang menurut saya masih perlu dilengkapi. Di antaranya seperti penetapan sebuahending, di mana adasalah satu tokohnya meninggalkan tanda tanya besar buat saya. Lalu, beberapa EYD yang ada di dalamnya masih cukup banyak yang terkesan belum di-edit. Meski tidak seluruhnya, beberapa bagian ada yang mudah untuk ditebak. Tapi secara keseluruhan, saya menyukai buku ini.

Moksa Praja; misteri kabut berkelip merupakan kisah petualangan seorang bocah dibumbui dengan sihir dan persilatan. Semuanya dikemas apik dalam wajah keindonesiaan yang asik untuk dibaca di kala santai. Alurnya mengalir dan tidak membosankan. Saya kira, siapapun dapat membaca buku ini. Bagi para orang tua yang sedang kehabisan ide dongeng pengantar tidur untuk anak tersayang, tidak ada salahnya jika membaca buku ini sebagai salah satu referensi dongeng yang bermutu. Selain ceritanya yang ringan-pas untuk anak, anak pun secara tidak langsung akan diajari mengenai beberapa problema yang dilihat dari  sudut pandang seorang Indonesia.

Jadi, bagi Anda yang menginginkan genre baru cerita anak yang mumpuni untuk dikonsumsi, buku ini layak menjadi salah satu koleksi yang menempati rak-rak buku anak Anda. Saya berharap semoga buku-buku fiksi seperti ini akan muncul lagi ke depan. Selamat membaca.

Nb: cover diambil dari sini

Tulisan lebih dulu dimuat di dalam blog ini