fase hidup

Dear readers,

Beberapa hari ini saya merasa kurang bersemangat. Saya tahu alasannya apa, tentu saja, sayangnya ini bukan menjadi hal yang pantas untuk saya ceritakan di ranah publik seperti blog. Singkatnya, saya hanya bekerja sesuai dengan daftar cek yang sudah saya susun di hari sebelumnya, berusaha menyelesaikan tanggung jawab pekerjaan secepat mungkin sambil tetap berusaha hati-hati, lalu diam dan tidak memikirkan apa-apa.

Ada beberapa rencana yang sedang saya susun saat ini dan saya benar-benar tidak tahu bagaimana rencana ini akan berjalan ke depannya. Teman-teman saya di kantor menganggap saya lucu karena seperti orang yang  tidak bisa diam, alias, harus selalu memegang sesuatu untuk dikerjakan. Salah, mereka benar-benar salah karena tidak paham kalau saya sebenarnya sangat-sangat pemalas. Biarkan saya diam lima belas menit saja untuk tidak melakukan apapun, menit berikutnya saya benar-benar akan langsung malas mengerjakan apapun, bahkan yang sifatnya wajib. Menyadari itu, saya sadar kalau saya adalah orang yang tidak boleh sedikitpun dibiarkan diam tanpa melakukan apapun.

Saat saya masih duduk di bangku kuliah, saya senang sekali mencoba pengalaman-pengalaman baru tanpa berpikir apakah saya akan mampu melalui pengalaman-pengalaman tersebut. Saat membaca buku kumpulan catatan perjalanan bang Norman Edwin misalnya, saya langsung ingin menjadi petualang alam yang masih liar, lalu tadaaa, saya jadi anak mapala. Saat saya masih duduk di bangku kuliah, saya benar-benar bersyukur karena diberikan kesempatan demi kesempatan untuk mencoba hal-hal yang sama sekali baru dalam hidup saya. Sayangnya, saya tidak lagi menemukan kebebasan ini semenjak saya memasuki dunia kerja.

Dengan segala rasa hormat yang dapat saya berikan, saya sama sekali tidak pernah menganggap remeh dunia kerja. Kehidupan kita pada awalnya dimulai dari sebuah lingkaran yang sangat kecil, yakni keluarga. Semakin dewasa, lingkaran kita akan semakin besar serta proses untuk masuk ke dalam fase lingkaran berikutnya membutuhkan suatu usaha yang juga lebih besar dari sebelumnya. Usaha yang lebih besar tersebut sebenarnya sejalan dengan semakin besarnya pula tanggung jawab yang harus kita pikul ketika memasuki zona lingkaran baru yang lebih besar. Di dalam prosesnya, suka dan tidak suka, orang-orang akan datang dan pergi meninggalkan kenangan baik, buruk, atau biasa saja. Apakah mereka akan hadir memberi dukungan, atau tantangan hingga kita berhasil memperluas kenyamanan di zona yang baru.

Saat ini, saya hanya sedang berada di dalam suatu fase kehidupan yang menuntut saya untuk menciptakan zona kenyamanan baru di dalam lingkaran yang lebih besar. Sebagai manusia yang bebas, saya sadar kalau sebenarnya saya juga dihadapkan pada dua pilihan untuk melalui fase ini, yakni tetap maju atau kembali ke zona sebelumnya. Secara filosofis, kedua pilihan tersebut cukup berimbang, tidak selamanya benar dan tidak pula selamanya salah. Yang salah ialah ada pada perasaan menyesal yang muncul akibat dari pilihan yang telah kita putuskan.

Pesona

Saya cukup sering menjadikan diri saya sendiri untuk bereksperimen terhadap suatu hal. Seperti ingin melihat sekuat apa saya mampu menahan diri untuk menjadi orang yang tenang, bagaimana agar setiap bangun tidur hal pertama yang saya ambil bukanlah telefon genggam ataupun jam, apakah saya bisa tetap terjaga tanpa menghirup kopi, serta lain sebagainya. Saya ingin melihat bagaimana saya ketika dihadapkan pada suatu kondisi tertentu. Apakah saya tipe yang berinisiatif tinggi dan fleksibel, tenang menghadapi tekanan, dan lain sebagainya. Alasan lainnya adalah saya selalu memgingatkan diri sendiri bahwa mengikuti tes kepribadian tidak pernah cocok untuk saya. Mungkin saya tipe mood swing, yang bagaimanapun juga hanya bisa menjawab soal-soal kepribadian berdasarkan mood.

Minggu lalu saya meyakinkan diri untuk menahan diri tidak melenguh soal Jakarta dan berbagai aktivitas di dalamnya.

Ada apa dengan Jakarta? Bahwasannya saya tidak suka tinggal di Jakarta dan daerah sekitarnya merupakan suatu kenyataan. Saya selalu bilang kepada teman-teman saya yang tidak ingin pindah dari Jakarta bahwa mereka adalah orang-orang terpilih yang tangguh. Setiap hari menghadapi kemacetan, setiap hari berdesak-desakan di angkutan umum, panas terik yang menyengat setiap keluar dari kantor pada siang hari, belum ditambah dengan kejaran deadline, tidak ada pilihan untuk mangkir dari lembur di akhir pekan, life is surely tough. Bertahan hidup di kota besar seperti Jakarta menjadi sebuah perjuangan yang besar.

Biasanya ketika seseorang berusaha untuk tetap menjadi positif, dia bisa menemukan sisi-sisi positif lain yang sebelumnya tertutup oleh emosi negatif. Atau setidaknya, ini akan menumbuhkan rasa terima kasih pada apa yang sudah ia miliki. Karena kenyataanya, saya kembali diingatkan bahwa seterik apapun panas yang melanda Jakarta, saya masih lebih jauh terlindungi dibandingkan mereka yang berjualan keliling di pinggir jalan, menarik bemo dan kopaja, hingga pengemis. Jika pusing dengan kemacetan dan setiap hari harus berdesakan di jalanan, sebenarnya saya harus bersyukur karena ada banyak orang yang dengan hal yang sama, harus berangkat jauh lebih pagi dari saya. Letih karena deadline? Namanya juga bekerja, masih mending punya pekerjaan dari pada tidak. Apalagi ditambah dengan kenyataan jika tingkat pengangguran terdidik di Indonesia semakin meningkat :’)

Tetapi, saya berusaha juga supaya kalau bisa ya gak kerja di Jakarta.

Ada satu hal lagi yang saya catat dari keras dan padatnya kehidupan di Jakarta. Interaksi manusia satu dan yang lainnya menjadikan Jakarta sebagai… Lingkungan sosial yang variatif. Sebagai manusia yang secara diam-diam senang memperhatikan orang di sekitar, Jakarta menjadi tempat untuk bertemu dengan orang-orang yang super-duper unik, yang di jamin di pedesaan pasti langka banget. Mungkin ini akan menjadi satu hal paling saya rindu jika suatu saat nanti saya akan pergi meninggalkan ibu kota 😉

Bagaimanapun, Jakarta masih menjadi pesona yang memang akan selalu menarik orang-orang untuk singgah dan menetap.

Keseimbangan

Kematian bukan untuk memisahkan, melainkan menyempurnakan kehidupan. Sama halnya dengan kebahagiaan yang tidak akan pernah menjadi sempurna jika tanpa disertai kesedihan. Jadi, kematian hadir bukan untuk diratapi, namun disambut dengan perasaan siap melepaskan. Yang sulit adalah keterikatan. Manusia secara naluriah tidak pernah hidup sendiri, maka untuk menghindari kesepian, manusia pun menjaga keterikatan yang mereka ciptakan. Sampai pada suatu titik, umumnya mereka akan lupa jika keterikatan yang mereka ciptakan bukan untuk mereka miliki. Jadi, ketika mereka berpisah, kesedihan pun datang. Kesedihan bisa pergi tanpa menyakiti jika sedari awal manusia tidak pernah merasa memiliki keterikatan. Semuanya akan kembali pada pemiliknya. Jadi, perjalanan mereka yang pergi pun sebenarnya perjalanan pulang untuk kembali ke Dia yang adalah pemiliknya.

Harry Potter Wedding Ideas

Halo, beberapa waktu yang lalu seorang teman di plurk membagi beberapa ide-ide pernikahan bertema Harry Potter. Lalu saya, di saat yang bersamaan, ingin sekali berteriak sekencang-kencangnya saking senangnya melihat ide-ide yang luar biasa itu. Tapi tentu saja saya tidak berteriak, saat itu hari sudah lewat tengah malam dan.. Anda tahu keputusan bijak apa yang lebih baik diambil. Sebenarnya ada banyak sekali contoh yang bisa ditemukan di internet, beberapa ini adalah yang saat ini sedang saya suka.

the unbreakable vow *blush* Ini… seriusan, sayang banget kalau bukunya harus digunting-gunting hanya demi ginian.. tapitapitapi.. *sigh* the unbreakable vow pertama kali muncul di Harry Potter seri-6, saat Narcissa Malfoy, ibu dari Draco Malfoy, meminta Severus Snape untuk melancarkan tugas Malfoy membunuh Dumbledore. Intinya, agar Severus Snape benar-benar dipastikan membantu Malfoy, maka mereka membuat perjanjian, perjanjian tak terlanggar dengan taruhan nyawa.

 

Membayangkan bagaimana reaksi orang kalau nerima undangan yang seperti ini. Atau, disamakan sahaja semuanya jad muggle, kan memang manusia non-penyihir semua yang diundang.

Undangan yang desainnya mirip seperti Peta Perampok.

Tema umumnya yang paling saya sukai adalah outdoor, jadi resepsinya dilakukan di tempat terbuka yang lapang. Mengingat Indonesia itu negeri dengan curah hujan yang tinggi, sekalian dikasih tenda. Mau yang sebenarnya sih, beneran di tanah lapang yang benar-benar terbuka. Eh tapi dengan kanopi yang dibuat seperti di atas, gak mungkin juga bisa menahan orang-orang yang hadir dari hujan.

Kyaa, atau yang seperti ini, ugh,.. seperti di dunia sihiir. Haha, tapi ada gitu yang mau datang ke acara pernikahan yang venue nya di hutan. Heu, tapi ngebayanginnya yang seperti ini pasti seru dan akan jadi momen yang diabadikan akan jadi luar biasa.

Aaaa,.. *uhuk*. Potonya bikin mupeng. Kurang lebih itu ceritanya si pager ayunya yang berfoto bareng si mempelai wanita. Idenya unik ih,. Tapi saya langsung membayangkan, sang pager ayu yang berpakaian kebaya berfoto bersama dalam pose yang seperti di atas. 😆

Suvenirnya tongkat sihir yang di pegangannya ditulis nama si kedua mempelai dan tanggal pernikahan. Toh kebanyakan suvenir pernikahan fungsinya gak banyak.

Permen penghalau Dementor.

Bahkan ide photo booth-nya juga disesuaikan dengan tema Harry Potter.

Tidak lupa, makanan dan minumannya juga diberi nama sesuai dengan tema Harry Potter.

Foto prewedding-nya lucu, seperti benar-benar terbang.

Kyaa,,.. potonya diedit jadi macam sihir beneran!!

Sudah-sudah, cukup sampai sini saja berandai-andainya. Kalau mau ide-ide yang semacam ini, dua-duanya harus sama-sama suka Harry Potter, dong yah. Sebenarnya ada banyak gambar yang sudah saya kumpulkan terkait ide pernikahan bertema Harry Potter. Jika Anda ingin melihat lebih banyak, bisa dicek di pinterest saya.